[2nd FF] WAEYO ?!
Main cast :
– Choi Siwon
– Shin Yeonra / Dini
(Flash back)
“Shin Yeonra .. sini..kemarilah”. Teriak Siwon sembari mengibaskan tangannya. Yeonra yang sedang melamun dibawah pohon dengan sigap berlari ke arah Siwon yang sudah duduk terlebih dahulu di teras.
“Ne..waeyo oppa?”. Ujarnya lalu ikut duduk disebelah Siwon. Siwon tersenyum melihat ke arah Yeonra.
“Tadi..aku..iseng bermain gitar sambil bernyanyi di ujung taman, dan kau tau..”. Siwon memotong ceritanya yang membuat Yeonra membenarkan duduknya, menajamkan pendengarannya, dan menatap Siwon penasaran. “Lalu?”.
“Banyak orang yang melemparkan koin bahkan selembar uang ke arahku, padahal aku tidak berniat mengemis”.
Yeonra menatap Siwon melongo. Ini sudah melanggar peraturan panti. Di panti asuhan tempat Yeonra dan Siwon hidup ,tidak di perbolehkan mengemis atau semacamnya, apalagi mereka masih sangat kecil, tidak pantas.
“Oppa..kau melanggar peraturan..kau bisa kena pukul Kang songsaenim”. Sentak Yeonra mengingatkan. Siwon jadi sedikit bergidik bila dia akhirnya tertangkap basah oleh pemilik panti itu. Bisa habis tubuhnya membiru.
“Aku tau..tapi aku tidak sama sekali berniat untuk mengemis tadi..lagi pula..uangnya sudah habis”.
“Mwo? Habis? Oppa apakan?”. Yeonra menaikkan alisnya tidak percaya, secepat itukah Siwon mengabiskan uang.
“Kau tutup matamu”. Ujar Siwon menyuruh, tapi Yeonra malah menggeleng.
“Anio..oppa harus menjawab pertanyaanku”. Jawabnya lalu menggelengkan telunjuknya dihadapan Siwon.
“Baiklah..”. Siwon merogoh saku celanannya yang sudah kusam. “Ini..ini untukmu..pakailah”.
Yeonra melongo kaget melihat sebuah kalung perak dengan bandul berbentuk beruang, di tangan Siwon.
“Oppa..oppa mem..beli ini dari..hasil uang tadi?”. Pekik Yeonra sedikit tergagap tidak percaya. Dia pikir Siwon akan menghabiskan uangnya dengan membeli makanan atau mungkin pakaian. “Oppa..ini..untukku? Waeyo?”.
“Aku tau..kau menginginkan kalung seperti ini kan? Tadinya aku berniat, uang itu akan ku belikan makanan saja, tapi..nanti pasti akan di curigai Kang songsaenim, jadi ku pikir lebih baik membeli suatu benda saja, dan aku ingat kau. Bagaimana? Kau suka?”. Yeonra Nampak berkaca-kaca. Kalung itu Nampak berkilau terkena pantulan cahaya matahari . Yeonra tidak habis pikir, sebegitu baiknya Siwon pada dirinya yang sama sekali bukan siapa-siapanya. Yeonra mulai terisak pelan.
“Kenapa menangis? Kau tidak suka?”. Siwon menatap wajah Yeonra heran.
“Ani..ani..aku sangat menyukainya..gomawo oppa”. Siwon lalu memakaikan kalung itu keleher Yeonra setelah itu berdecak kagum melihat leher Yeonra yang nampak cocok memakai kalung itu. “Neomu yeppoe..”. Kagum Siwon.
“A, oppa..bagaimana kalau Kang songsaenim bertanya soal kalung ini? Aku kan tidak pernah memakai kalung”.
Siwon menepuk jidatnya pelan. “Kau benar..ya sudah..kau simpan saja..jangan kau pakai”.
“Benar..aku akan menyimpannya”. Yeonra buru-buru melepaskan kalungnya dan menggenggam kalung itu erat.
“Jangan sampai hilang. Arraseo?”.
“Ne..oppa, aku akan menjaganya”. Yeonra berjanji didalam hatinya , akan menjaga kalung itu dengan baik.
“KEBAKARAN..KEBAKARAN..KEBAKARAN..AYO KELUAR..KELUAR..!!!”.
Yeonra yang masih tertidur pulas diatas kasur yang berdesakkan sedikit terlonjak kaget mendengar teriakan gaduh dari luar kamarnya. Dia belum sepenuhnya sadar dari tidur, dengan badan yang masih sedikit pegal karena tidur berdesakkan, Yeonra turun dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamarnya. Yeonra terbelalak kaget saat sekumpulan asap mengepul memenuhi lorong kamar yang sudah tidak terlihat, tertutup oleh asap. Dengan panik Yeonra membangunkan teman-temannya yang masih bermimpi, untuk segera keluar.
“YA! ppali ireona!!! ppali !!!!”. Teriak Yeonra sembari mengguncang-guncangkan tubuh temannya.
“Ada apa sih..kenapa berteriak seperti itu?!”. Seluruh teman Yeonra terbangun lalu mengucek matanya dan sedikit menatap Yeonra kesal karena telah dibangunkan dengan cara tidak halus.
“Kebakaran!! Ada kebakaran!!! Cepat keluar!!”. Kata Yeonra frustasi. Dengan kesadaran yang baru terkumpul semua anak yang tadinya bermalasan bangun, berhamburan turun dari tempat tidur dan berjerit histeris.
“Tenang..tenang..kita harus keluar pelan-pelan”. Yeonra dengan berani membuka pintu kamar lalu mengintip memastikan api belum menjalar ke kamarnya. “Sipp..ayo keluar..jangan terburu-buru”. Perintah Yeonra pada teman-temannya. Dengan wajah ketakutan, anak-anak itu keluar dari kamar dan berlarian pergi menuju pintu dapur yang langsung berhadapan dengan jalan raya. Yeonra teringat akan kalung dari Siwon, dengan cepat, dia berlari menuju laci tempat dia menyimpan kalung itu lalu keluar kamar, namun dia terjebak dilorong kamar, karena asap semakin mengepul dan pengelihatannya semakin minim. “Ohhookk..ohhookk..Si..won..oppa”. Yeonra terbatuk-batuk sembari mencari jalan. Tubuhnya sudah lemas karena terlalu banyak menghirup asap kotor. Langkahnya semakin pelan dan kali ini kaki kecilnya sudah tidak bisa digerakan lagi,lemas. “Si..won..oohookk.ohookkk..oppa”. Ucapnya dengan terbatuk-batuk.
Dan beberapa detik kemudian dia sama sekali tak sadarkan diri, namun indera perabanya masih berjalan, dia merasakan ada seseorang yang menyentuhnya dan mengguncangkan badannya. Dengan segala tenaga tersisa, Yeonra membuka matanya ,samar dia melihat wajah seseorang yang dia sebut dari tadi. “Si..won..oppa..oppa”. Setelah itu semuanya kembali gelap.
“Apa..anak itu akan baik-baik saja?”.
“Aku rasa begitu..dia hanya shock. Dia akan baik-baik saja”.
Yeonra membuka perlahan kelopak matanya dengan berat. Sinar lampu membuat matanya sedikit menyipit tersilau. Kepalanya terasa begitu pening dan berdenyut hebat. Kaki dan tangannya serasa bebal, tidak bisa digerakkan. “Dia sudah bangun”. Suara seorang wanita disebelahnya membuat Yeonra membuka lebar matanya. Dia menengok kearah sumber suara dengan wajah kaget. “Aku..aku dimana?”. Cekatnya dengan khawatir.
“Kau ada dirumah sakit..tenanglah dulu”. Seorang suster dengan rambut hitam panjang menatapanya dengan iba sama seperti wanita di sebelah suster itu. “Kau siapa?”. Tanya Yeonra heran dengan wanita yang lumayan sudah berumur itu. Wanita itu tersenyum lalu menghampiri Yeonra. “Aku menemukanmu tadi..”. Yeonra menaikan alisnya tidak mengerti. Dia mencoba berfikir, mengulang kejadian yang sudah berlalu, namun yang terekam di otaknya hanya dia terjebak di panti lalu dia digendong oleh Siwon dan setelah itu dia tidak tau. Hitam.
“Tadi kau tergeletak di depan rumahku nak…untung aku melihatmu”.Ujar Wanita itu lalu membelai rambut Yeonra. Yeonra tidak mengerti, sama sekali tidak paham. Dia hanya mengerenyitkan keningnya, tidak tau apa-apa.
“Aku tidak mengerti..aku ingin pulang”. Rengek Yeonra.
“Memang kau tinggal dimana, nak?”.
“Aku..aku..tinggal di..panti asuhan..tapi..pantinya..”.
“Kau tinggal di panti..panti SJ 13?”.
“Ne ahjumma..aku tinggal di situ..tapi..”.
“Bukankah panti itu baru saja kebakaran ? “.
“Ne..panti itu sudah terbakar..hiks..aku..aku..tidak tau harus pulang kemana..hiks..hikss”.
Wanita paruh baya itu menatap Yeonra kasihan, dia lalu memeluk Yeonra seperti memeluk anak sendiri. Mencoba menenangkan anak yang masih berumur 5 tahun itu dengan naluri keibuannya. Yeonra menangis sesenggukkan di pelukan wanita itu. “Aku..aku..harus kemana..hikss..Siwon oppa..”. Tangisan Yeonra makin mengeras. Suster yang sedari tadi terdiam melongo, akhirnya keluar dari kamar karena merasa tidak enak.
“Tenanglah..chupp..chupp..jangan menangis lagi”. Bujuk wanita itu seraya menepuk pelan punggung Yeonra.
“Aku..huaa..hikss..hikss..aku..tidak..punya..siapa-siapa..hikkss..hikss”.
“Kau..akan..”. Wanita itu menggigit bibir bawahnya mencoba berfikir, tindakan yang baik seperti apa.
“Kau..tinggal bersamaku saja…kau akan ku angkat menjadi anakku”. Ujarnya lalu menghela nafas yang sedari tadi ditahannya. Yeonra menatap wanita itu lalu sedikit meredakan tangisannya. “Jeongmal? Ahjumma..geotjimal?”.
“Aku serius…aku tidak tega..kau akan menjadi teman Hwa Ran nanti”.
“Hwa Ran? Nugu?”.
“Dia anak ahjumma satu-satunya, oh ya.. ireumi mwoyeyo?”.
“Shin Yeonra”.
“Kau bermarga Shin? Suamiku juga bermarga Shin. Ah, sungguh tidak bisa dipercaya”. Ujarnya lalu tersenyum manis. “Mulai hari ini..kau harus memanggilku eomma..ingat…jangan memanggilku ahjumma, arraseo?”.
“Hm..ne..eomma..hore..aku punya eomma..hore..!!”. Yeonra mulai menyeringai senang. Akhirnya..Yeonra bisa juga menikmati indahnya memiliki keluarga walaupun tidak sesungguhnya.
“Kau tidak boleh menganggap bahwa dirimu adalah anak angkat, kau anakku sekarang, anakku..”.
Yeonra mengangguk keras, lalu tersenyum lagi. “Eomma..”. Ucapnya lalu memeluk erat eomma barunya itu.
Saat pikiran dan hatinya sedang senang, dia teringat akan Siwon. Dia mulai gelalapan mencari kalungnya.
“Kau kenapa? Sedang mencari apa?”.
“Kalung..kalungku..”. Yeonra merogoh saku celananya dalam-dalam, namun sama sekali tidak menemukan barang itu. “Kalungku…”. Yeonra mulai terisak dan matanya kembali berkaca-kaca.
“Itu..dilehermu..kalung itu yang kau cari?”. Yeonra memegang lehernya, dia lalu tersenyum simpul.
“Aku kira hilang..tapi perasaan tadi kalung ini tidak aku pakai”.
“Dari tadi kalung itu sudah kau pakai Yeonra”.
Yeonra mengingat kembali. Dia tidak mungkin lupa, dia masih ingat, terakhir kali, kalung itu ia pegang bukan dipakai. Yeonra tidak peduli. Yang terpenting ia sekarang sudah punya keluarga, dan itu membuatnya senang. Tapi hatinya masih bertanya-tanya. …
‘Kemana Siwon oppa? Apa benar oppa yang menaruhku didepan rumah eomma?’.
Masih terlalu dini untuk mengetahuinya.
Dia belum cukup mengerti.
20 TAHUN KEMUDIAN…
“Aku diterima..aku diterima..eomma lihat, lamaranku diterima..”. Hwa Ran berjingkrak senang di depan eommanya dengan wajah gembira luar biasa. Beberapa kali dia melompat bahkan berputar kegirangan, percis seperti penari balet.
“Kau memang anak eomma yang hebat, selamat ya Hwa Ran.. eomma bangga padamu”. Hwa Ran berhenti berputar lalu memeluk eomma-nya yang sedang terduduk di kursi. “Mulai besok kau berarti satu kantor dengan Yeonra, iya kan?”. Hwa Ran merubah raut wajahnya, sekarang wajahnya menekuk sengit. Dia melepaskan pelukannya lalu memandang benci ketika nama Yeonra disebut.
“Aku benci dia”. Sahutnya lalu melipat tangannya di dada.
“Kau tidak boleh seperti itu, kalian ini bersaudara”.
Hwa Ran menghela nafas pelan lalu melongos pergi tanpa permisi. Mood-nya sudah berubah sekarang. Eomma-nya hanya menggeleng lalu menyederkan badannya ke kursi. “Kenapa dia begitu benci dengan Yeonra”.
Hwa Ran menaiki tangga menuju kamarnya dengan kesal. Setiap nama Yeonra terlontar saat hatinya sedang senang, entah mengapa aura positif itu tiba-tiba menghilang lalu berganti dengan aura negative. Hwa Ran menghentakkan kakinya keras. Ia baru sadar kalau kakak-nya itu bekerja juga dikantor yang dia incar dari dulu. Rasa menyesal mulai hinggap di hatinya, kenapa dia harus mengajukkan lamaran di kantor yang sama dengan kakak-nya itu. Betapa bodohnya dia sampai lupa kalau kakak-nya juga bekerja disana.
“Aiissshh..pabo”. Gerutunya kesal. Dia tidak mungkin mengundurkan diri dari kantor barunya itu, dia sudah mati-matian membuat proposal , tidak mungkin semudah itu mengundurkan diri hanya karena ada kakak-nya disana. Itu konyol sekali.
Yeonra merenggangkan ototnya yang tegang, seharian dia bekerja sampai harus melewati makan siangnya. Tumpukkan berkas di mejanya sudah tersusun rapi sekarang, pekerjaannya sudah selesai. “Aku lapar~”. Ujarnya lalu mengelus perutnya yang terasa kosong. Dia mendelik melirik jam yang ada di meja kerjanya. 14:03. Dia tersenyum lalu berdiri menyambar tasnya di meja dan keluar dari ruangan yang menahannya untuk makan siang. Kantor benar-benar lengang, bukannya tidak ada orang, tapi semua sedang sibuk di meja mereka masing-masing. Menatap komputer atau menatap kertas-kertas. Yeonra dengan cepat pergi menuju lift dan memencet tombol ke bawah. Saat menunggu pintu lift terbuka, seseorang yang entah sejak kapan ada disampingnya menatap Yeonra lalu tersenyum. “Kau..”.
“Mwo hae? Jangan mengikutiku”.
“Yeonra-ya apa kau menerima tawaranku kemarin? Kau menerimanya?”.
“Shirheo”.
“Hanya makan malam, kau tidak mau?”.
“Anio..kau tidak dengar? Aku tidak mau!”.
“Tapi..”.
“Key-ssi jebal .. pikyeo”.
Pintu lift terbuka di lantai satu, Yeonra berjalan keluar lift tanpa melirik Key sedikit pun. Bukan bermaksud sombong, itulah sifat Yeonra sekarang. Lebih tertutup dan tidak ceria, berbeda dengan Yeonra kecil dulu. Dia lebih senang menyimpan semuanya sendiri. Dan sepertinya orang sekelilingnya sudah memaklumi sifat buruknya itu. Walaupun seperti itu dia adalah orang yang baik hati juga.
Siwon menatap kosong kearah luar jendela apartemen barunya yang sederhana. Keputusannya entah bagus atau buruk sekarang, meninggalkan Cheonan dan menetap di Seoul untuk menerima tawaran kerja yang menggiurkan. Siwon tinggal di Cheoanan bersama neneknya, tidak ada pekerjaan yang bagus di kampung neneknya itu. Jadi Siwon dengan berbekal ijazah S2-nya melamar kerja ke sebuah perusahaan besar di Seoul dan tak disangka, dia diterima. Siwon sempat tidak tega meninggalkan neneknya sendiri, tapi .. kalau tidak mengambil kesempatan ini, Siwon dan neneknya mau makan apa nanti? Batu?.
“Hah~ aku sudah melupakan Seoul, terlalu banyak kenangan manis disini yang tidak mungkin bisa ku ulangi”.
Siwon tersenyum ketika sebuah wajah muncul dibayangannya. “Kau seperti apa ya sekarang?”.
Yeonra melambai kearah seorang pelayan pria ketika dia baru saja menempelkan dirinya di kursi café.
“Mau pesan apa aggeshi?”.
“Cappucino dan puncake strawberry”. Ujarnya lalu bertopang dagu menatap ke arah luar jendela. Yeonra melihat pantulan dirinya di kaca jendela. Dan tidak sengaja Yeonra melihat kalung beruang yang ada dilehernya lewat pantulan itu. Dia menyentuh kalungnya lalu hatinya sedikit teriris sakit. Yeonra mulai sedikit terisak. “Oppa..”. Dia mulai mengeluarkan air mata, lukanya terbuka lagi.
“Kenapa kau menangis lagi?”. Key mencoba memperhatikan Yeonra dari dalam mobilnya yang tidak jauh terpakir dari café yang Yeonri tempati. “Kau kenapa Yeonra-ya?”. Mata Key terus terpaut pada Yeonra. Key tau, tidak seharusnya dia mengusik macan lapar, bisa-bisa dia diterkam nantinya. Tapi..dia benar-benar sudah jatuh hati pada Yeonra. Dan Key sudah berjanji pada dirinya untuk bisa menjaga Yeonra walaupun dari jauh.
Hwa Ran menatap dirinya di cermin. Ini hari pertamanya bekerja jadi penampilannya harus terlihat sempurna. Dengan stelan kemeja dan rok dibawah lutut, rambut tergerai dan sepatu high heels tiga centi menambah manisnya Hwa Ran. Dia sudah siapa sekarang. Tapi secara fisik saja yang terlihat siap, namun batinnya masih kurang terlalu siap. Dia akan jadi bawahan kakak-nya sekarang. Hwa Ran memicingkan mata didepan cermin dengan wajah sombong. “Kau tidak akan bisa menang dariku!”. Ujarnya lalu bergegas keluar kamar. Dia menuruni tangga dan berjalan menuju ruang makan. Di meja makan sudah ada eomma dan Yeonra, mereka sedang menikmati sarapan dengan diam. “Eomma..selamat pagi..”. Ucap Hwa Ran lalu mencium pipi eomma-nya dan duduk disebelahnya.
“Pagi sayang…sesang! Anak eomma sudah rapi sekali, bagaimana, apa kau tegang?”.
“Sedikit..aku takut tidak bisa bekerja dengan baik nanti”. Jawabnya lalu menyendokkan nasi goreng ke piringnya.
“Eomma yakin kau akan baik-baik saja, kau kan anak pintar”. Puji eomma lalu mengelus rambut Hwa Ran.
“Gomawo eomma”. Ujarnya seraya melahap sarapannya.
“Aku sudah selesai, aku pergi duluan..”. Pamit Yeonra tiba-tiba.
“Kau tidak berangkat bareng dengan Hwa Ran? Kalian kan satu kantor”.
Yeonra menghela nafas pendek lalu kembali duduk dan menunggu Hwa Ran sarapan.
“Aku sudah selesai..eomma aku berangkat”. Ujar Hwa Ran lalu memeluk eomma-nya.
“Hati-hati di jalan”. Hwa Ran hanya mengangguk seraya melambaikan tangannya.
“Aku pergi eomma”. Ucap Yeonra datar.
“Kau jaga Hwa Ran ya, bersikaplah seperti seorang saudara”.
“Ne..aku pergi”.
Yeonra berjalan menuju garasi lalu memasuki mobil hitamnya. Hwa Ran juga ikut masuk dan duduk disebelahnya.
Key memasuki kantor dengan senyum yang biasa dia tunjukkan. Hari ini dia berniat mengajak Yeonra untuk makan siang bersama, walaupun dia sudah memprediksi akan di tolak, setidaknya dia sudah menunjukkan usahanya pada Yeonra. “Selamat pagi”. Ujar Key sedikit membungkuk pada karyawan lain yang sedang berjalan melintasinya. Key berjalan menuju lift dan memencet tombol naik.
“Permisi..aku mau bertanya”. Key menoleh ketika ada seseorang mengajaknya berbicara. Dia menyipitkan matanya memperhatikan ke arah namja yang sedang ada disebelahnya. “Aku baru melihatmu..kau karyawan baru?”.
Namja itu mengangguk. “Ne..aku karyawan baru disini. Mohon kerjasamanya”. Namja itu membungkuk kearah Key.
“Kau mau bertanya apa tadi”.
“Ruangan staf management pemasaran di sebelah mana?”.
Key tersenyum dan menjentikkan jarinya. “Kau satu ruangan denganku..hahaha..ngomong-ngomong siapa namamu?”.
“Siwon imnida, mohon bantuannya”. Siwon membungkuk 180° lagi kearah Key.
“Ya! Siwon-ssi, jangan se-formal itu denganku, biasa saja. Oya, aku Key”. Key menjulurkan tangannya .
Siwon membalas uluran tangan Key dan menjabatnya. “Baiklah..Key-ssi”.
“Sudah sampai”. Celetuk Yeonra datar saat mobilnya sudah terparkir di parkiran kantor. Hwa Ran menoleh lalu membuka pintu mobil dan keluar.“Aku tidak tau dimana ruanganku”. Kata Hwa Ran lalu menyibakkan rambut panjangnya.
“Ruanganmu di lantai lima”. Jawab Yeonra lalu pergi melewati Hwa Ran.
Hwa Ran melipat tangannya di dada lalu tersenyum evil. “Jangan sombong dulu kau, Shin Yeonra”. Katanya lalu melangkah memasuki gedung kantor.
“Yeonra-ya … selamat pagi”. Sapa Key ketika Yeonra berjalan menuju ruangannya.
“Sedang apa kau disini? Ruanganmu kan dilantai tujuh”.
“Aku hanya ingin menyerahkan ini padamu, berkas ini harus kau tanda tangan”.
“Oh”. Jawab Yeonra singkat lalu meneruskan berjalan menuju ruangannya. Key mengekor mengikuti Yeonra dibelakang.
“Mana berkasnya”. Pinta Yeonri ketika dia sudah duduk di kursinya. Key menyerahkan berkasnya .
“Oh ya.. Yeonra-ya..nanti siang, kau mau makan siang bersama?”. Tawar Key ragu.
Yeonra mendelik menatap Key lalu meneruskan membaca berkas yang ada dihadapannya tanpa menjawab pertanyaan Key.
“Hmm..kau tidak mau? Baiklah..”. Ujar Key seraya tersenyum walaupun sebenarnya sakit.
“Ini berkasnya, gomawo sudah mengantarkannya”. Ucap Yeonra lalu menyerahkan berkasnya kehadapan Key.
“Ne..cheonmaneyo”. Jawabnya lalu sedikit membungkuk dan keluar dari ruangan.
Key menghela nafas panjang, terasa sesak dadanya. Sudah yakin dan itu pasti, Yeonra tidak akan pernah melihatnya, tidak akan pernah. Namun Key tetap yakin, suatu saat nanti akan ada waktunya untuk Key bisa meluluhkan Yeonra.
Entah itu kapan.
“Mianhae Key, aku tidak bermaksud jahat padamu..”. Yeonra menggengam kalung yang terlilit dilehernya.
“Aku..aku masih menunggunya..mianhae..”.
“Siwon-ssi mau makan siang bersamaku?”. Ajak Key pada Siwon yang sedang sibuk mengetik sesuatu di komputernya.
“Aku masih banyak pekerjaan, nanti saja makan siangnya”. Jawab Siwon tanpa mengalihkan pandangan.
“Sudahlah..kau pasti bisa menyelesaikannya dengan cepat, kau harus makan siang dulu. Ayo..”.
“Tapi..”. Key mengibaskan tangannya keudara lalu menarik Siwon dari meja kerjanya. Dan menggiringnya untuk makan siang.
“Kau tau..makanan di kantin ini enak sekali, kau akan ketagihan nantinya”. Celoteh Key panjang lebar sembari berjalan menuju kantin kantor. Siwon hanya tersenyum pura-pura menanggapi setiap ucapan yang keluar dari bibir Key yang cerewet.
Setelah mereka sampai di kantin, Key memberikan nampan ke arah Siwon. “Kau makan sepuasnya, aku yang traktir, untuk kali ini”.
“Ah, gomawo Key-ssi”. Siwon merasa tidak enak. Key terlalu baik padanya. “Sudahlah..ini ucapan selamat datang dariku”.
Siwon mengangguk lalu menyendokkan beberapa makanan ke nampannya. Siwon mengedarkan pandangan keseluruh penjuru kantin, mencari meja yang kosong untuk ditempatinya dan Key untuk makan, tapi kantin sepertinya sudah penuh dipadati karyawan lain. Saat Siwon melihat ke arah meja yang berderet di pinggir-pinggir kantin, matanya membulat. “Yeonra..”. Nampan yang dipegangnya hampir saja ambruk kalau Key tidak buru-buru menahan nampan itu. “Ada apa Siwon-ssi? Kau sepertinya kaget”.
Siwon menggeleng lalu mengalihkan pandangannya ke arah meja yang di pinggir-pinggir kantin itu. ‘Aku salah liat..salah liat’.
“Waeyo..ada apa sih”. Key masih penasaran dengan perubahan sikap Siwon. “Siwon-ssi kau kenapa ha?”.
“A-ani..aku..euh..gwenchana..ne..gwenchana..”.
“Ah, masa bodoh, ya sudah kita cari tempat untuk makan”.
“Ani..kita makan..diruangan kita saja, disini panas..huh..panas”. Ujar Siwon lalu mengipas wajahnya.
“Tidak boleh makan didalam ruangan, itu peraturan. A, di situ saja”. Key menunjuk ke arah meja kosong di sebelah Yeonra. Dia sengaja memilih tempat itu, karena itu kesempatan baginya untuk bisa berdekatan dengan Yeonra. “Kita makan disana saja”.
“Andwae..aku..”.
“Shutt..kau akan ku kenalkan dengan gadis itu”. Kata Key semangat. “Dia..gadis yang aku suka”. Bisiknya pelan.
“Tapi..”. Belum selesai Siwon berbicara, Key sudah menariknya menuju meja kosong itu. Dengan wajah yang gugup dan debar jantungnya yang kencang, Siwon di tarik Key unutk makan di meja kosong di sebelah Yeonra itu.
“Yeonra-ya, aku boleh duduk disini?”. Tanya Key. Yang di tanya hanya menghela nafas lalu melanjutkan makannya.
“Baiklah..gomawo”. Jawab Key, seraya duduk di depan Yeonra. “Oya..Yeonra-ya kenalkan..ini karyawan baru..Siwon-ssi”.
Yeonra berhenti menyuapkan nasi kemulutnya. Dahinya berkerut, lalu dia mendongkakkan kepalanya menatap Key yang ada di hadapannya lalu melirik namja disebelah Key. Bibir mungilnya menganga kaget, sendok yang digenggamnya jatuh. “Oppa..”.
Siwon terlihat gusar.Key menatap Yeonra dan Siwon bergantian, bingung dengan sikap mereka.
“Oppa..”. Matanya terus menatap Siwon dengan berkaca-kaca. Lirihannya membuat Siwon tidak bisa berbuat apa-apa.
“Kau mengenalnya Yeonra-ya?”. Tanya Key hati-hati.
Yeonra mengeraskan rahangnya dan menatap Siwon geram. Lalu dia mengambil tas yang ada disebelahnya dengan cepat dan berdiri pergi meninggalkan meja dan makanannya yang masih bersisa. Key makin menggerenyitkan dahinya, belum mengerti.
“Yeonra..Shin Yeonra.!!”. Siwon berteriak memanggil nama Yeonra, lalu ikut meninggalkan meja dan mengejar Yeonra.
“Yeonra..Yeonra-ssi..berhenti !”. Siwon terus mengejar Yeonra yang berlari cukup cepat. Namun, gadis itu sama sekali tidak mengindahkan teriakan Siwon, dia terus berlari hingga keluar gedung, dan Siwon tetap mengejarnya. “Ku mohon..berhentilah..”.
Siwon mempercepat larinya, dia hampir dekat dengan Yeonra. Hup..Siwon memeluk Yeonra dari belakang, mengunci gadis itu dengan pelukannya . Mau tak mau Yeonra menghentikan larinya, pelukan Siwon benar-benar mengunci tubuhnya untuk bergerak.
“Lepaskan..”. Pinta Yeonra dengan suara isakannya. Siwon menggeleng dan tetap pada posisinya.
“Ani..aku tidak akan melepaskannya”. Jawab Siwon. Air mata Yeonra mengalir lalu jatuh ke tangan Siwon.
“Lepaskan..jangan menghalangiku”. Sentak Yeonra yang mulai emosi.
“Mianhae..mianhae..aku..”.
“Aku tidak mau dengar..aku tidak mau dengar..”. Yeonra menutup telinga dengan tangannya dengan susah payah, karena tubuhnya masih dipeluk erat Siwon. “Pergi..jangan tunjukkan wajahmu lagi”.
“Shin Yeonra..dengarkan aku..aku tidak..bermak..”.
“AAAA..LEPASKAN! AKU TIDAK MAU DENGAR SEMUANYA AKU TIDAK MAU..LEPASKAN!”. Yeonra mulai berteriak lalu memukul-mukul tangan Siwon. Yeonra sama sekali tidak mau mendengar penjelasan Siwon sekarang, hatinya belum siap. Terlalu sakit.
“Aku tau,kau benci padaku sekarang,aku tau..dan aku terima semuanya..itu hukuman buat aku, tapi..dengarkan aku sebentar saja”.
“ANI..AKU TIDAK MAU..PERGI..AKU TIDAK MAU…AKU BENCI KAU..CHOI SIWON!! BENCI!”.
Siwon menatap nanar, Yeonra sudah membencinya..sangat membencinya. Dengan refleks tangan Siwon melonggarkan pelukannya.
“Kau..membenciku?”. Tanya Siwon dan kini tangannya sudah terlepas dari tubuh Yeonra.
Yeonra tidak menjawab, dia kembali berlari meninggalkan Siwon yang masih mematung. Lemas rasanya mendengar Yeonra yang selama ini dirindukannya, yang selama ini selalu berputar-putar dibenaknya, yang selama ini selalu berada di mimpinya, mengucapkan sebuah kalimat ajaib yang dapat menembus membuat semua benteng pertahanannya jatuh.
“ANI..AKU TIDAK MAU..PERGI..AKU TIDAK MAU…AKU BENCI KAU..CHOI SIWON!! BENCI!”. Teriakan Yeonra masih terekam olehnya. Siwon tau, kesalahannya benar-benar fatal, tapi..tidak terpikir olehnya kalau Yeonra akan sebegitu benci dengannya.
“Mianhae..mianhae..jeongmal mianhae..”.
Yeonra terus menyeka air matanya yang terus keluar dengan punggung tangannya. Matanya mulai membengkak karena terlalu banyak mengeluarkan air mata. “Aku benci Choi Siwon..aku benci”. Hardiknya dengan suara yang menggeleong tak karuan.
Tubuhnya terus turun naik, sesenggukkan. Hidung dan matanya memerah. Baru kali ini dia menangis secapek itu. Bukan hanya tubuhnya saja yang lelah karena menangis, tapi batinnya juga ikut lelah. “Yeonra-ya..”. Sebuah suara berat yang biasa ia dengar tiba-tiba datang disaat dirinya sedang berantakan. Yeonra menutup wajahnya dengan kedua tangannya, merasa malu.
“Pergi..jangan menggangguku”. Bentaknya dengan kasar.
“Aku tidak akan pergi, aku akan menemanimu”.
“Jangan keras kepala..aku tidak membutuhkanmu, pergi..aku ingin sendiri”.
Namun lelaki itu tetap berdiri disamping Yeonra, menatapnya dengan sedih pula. Sakit rasanya melihat gadis itu menangis.
“Jangan menangis..setauku kau itu wanita yang kuat”. Ujarnya berargumen.
Yeonra mendengus pelan seraya menatap lelaki itu. “Kau tidak tau apa-apa, tidak usah berkomentar”.
“Berhentilah menangis, kau tidak akan menyelesaikan semuanya dengan menangis”.
Sekali lagi Yeonra mendengus lalu mendelik. Tidak akan ada yang bisa membaca hatinya saat ini, tidak akan ada yang mengerti.
“Kau ini kenapa Yeonra..sudah dua hari kau tidak masuk kerja, kau sakit? Kau juga jarang sekali makan”.
“Gwenchana eomma..aku hanya kecapean, aku sudah minta izin ke kantor kok”.
“Ya sudah, ini eomma buatkan bubur, dimakan, tadi malam kau tidak makan, nanti kau sakit, makanlah”.
Yeonra mengangguk lalu mengambil nampan dari tangan eommanya. Yeonra menatap sebentar makanannya, setelah eomma-nya keluar dari kamar, Yeonra meletakkan nampannya di meja tanpa menyentuh sedikit pun buburnya. Dia merebahkan lagi tubuhnya lalu menyelimuti dirinya. Yeonra terisak , air matanya sudah kering, jadi dia hanya bisa terisak dibawah selimutnya. Dan tanpa sadar, dia sudah tertidur, karena kelelahan.
Tok..tok..tok..
Krekkk..
“Ah, annyeong ahjumma..”.
”Mau mencari siapa?”.
“Apa benar ini rumah Shin Yeonra?”.
“Ne..kau siapa?”.
“Aku teman kantornya, aku ingin menjenguknya, Yeonra-nya ada?”.
“Ne..ada..masuklah..siapa namamu?”.
“Siwon imnida ahjumma”.
“Kau ke kamarnya saja, sepertinya dia sedang makan, itu kamarnya”.
“Ne..gomawo ahjumma..”.
Siwon berjalan perlahan ke arah pintu putih kamar Yeonra. Kamarnya tidak ditutup penuh jadi Siwon membukanya tanpa mengetuk.
“Dia tidur”. Bisik Siwon setelah melihat Yeonra yang berbaring membelakanginya. Tidak sengaja Siwon menginjak sebuah plastic yang tergeletak dilantai. Yeonra berbalik karena mendengar suara plastic itu.
“Kau..”. Yeonra terkaget melihat Siwon.
“Ah, aku..”.
“Untuk apa kau kesini, pergi, jangan ganggu aku”.
“Aku ingin menjelaskan semuanya..tolong dengarkan aku, ku mohon”.
“Anio..aku tidak mau dengar apapun darimu, silahkan pergi dari sini”.
“Shin Yeonra..”.
“Pergi atau aku teriak”.
Siwon menyerah, dia tidak mau membuat kekacauan di rumah Yeonra. Akhirnya dia keluar dari kamar Yeonra dan pergi.
Hujan terus turun ditengah kota Seoul yang ramai. Yeonra memeluk dirinya sendiri karena dinginnya udara. Hari ini Yeonra kembali masuk kerja seperti biasa, walaupun dia merasa harus hati-hati karena Siwon bisa saja tiba-tiba menghampirinya. Unutk sementara Yeonra akan menghindar dari Siwon, entah sampai kapan.
“Aku pakai apa ya biar sampai ke parkiran..nekat aja kali ya..ah tapi..nanti file-ku basah semua”. Ujarnya lalu melirik kearah file-file yang di pegangnya. Yeonra tetap terdiam di teras kantor, hari semakin sore dan hujan semakin deras. Saat sedang termenung menunggu hujan sedikit reda, sebuah payung terjulur dihadapan Yeonra. Yeonra berkerut heran lalu mengangkat kepalanya. “Kau..”.
“Annyeong..hehe..kalau menunggu hujan sampai reda, kau bisa pulang malam nanti, pakai ini”. Ucapnya lalu menjulurkan payung kearah Yeonra.
“Heu ? Anio..gomawo”. Ujar Yeonra lalu mengalihkan pandangannya.
“Yeonra-ya..pakailah..kau mau menunggu sampai gerbang kantor tertutup?”.
“…”.
“Ayo pakai..”. Paksa Key, namun Yeonra sama sekali tidak mengubris tawaran Key.
“Kau hanya membawa satu payung..kalau aku memakainya..kau pakai apa nanti?”.
“Kau lupa? Rumahku dekat dengan kantor, aku bisa berlari sampai rumah dengan selamat”.
“Anio..gomawo..aku menunggu hujan reda saja”.
Key membuka payungnya lalu menaruhnya dihadapan Yeonra. “Kau harus pakai ini, arraseo. Aku pergi”.
“Tunggu..aku..aku janji akan mengembalikannya besok, gomawo”. Ujar Yeonra sembari tertunduk.
“Ku tunggu ditaman dekat rumahmu ya besok, annyeong!”.
Key melesat pergi meninggalkan Yeonra yang masih terdiam sembari menatap payung dihadapannya. Yeonra sedikit tersenyum lalu mengangkat payung itu dan memakainya untuk sampai ke parkiran.
Hari minggu seperti ini, rasanya malas sekali untuk beranjak dari tempat tidur yang empuk dan hangat. Begitu pun dengan Siwon, namja tampan ini masih saja menyelimuti dirinya dan tetap menutup gorden kamar agar cahaya matahari tidak menembus sampai kedalam. Jam sudah menunjukan pukul 09.00, begitu malasnya Siwon untuk bangun. Saat akan menggulingkan tubuhnya kekanan, Siwon terjatuh dari tempat tidurnya.
“Aiissshh..sakit”. Ringisnya sembari mengelus kepalanya yang mendarat dilantai tanpa pengaman. Siwon menarik selimut yang menggulungnya dan melemparnya kasar. “Aaahh..sial sekali”. Umpatnya kesal. Matanya sudah tidak bisa tertutup lagi untuk tidur akibat benturan tadi, jadi dengan terpaksa dia bangun dan pergi untuk mandi.
Setelah selesai membersihkan dirinya, dia menuju dapur dan memasak ramyeon yang masih tersisa satu bungkus lagi. Saat sedang menunggu mie-nya selesai direbus, tidak sengaja Siwon melihat sebuah payung yang tergeletak di meja makan. “Ah, aku harus mengembalikan payung itu, malas sekali harus keluar apartemen”. Katanya seraya menggaruk kepala.
Yeonra bergegas memakai jaketnya dan keluar rumah sembari menenteng payung yang Key pinjamkan kemarin. Dia sudah janji bukan akan mengembalikannya hari ini, janji harus ditepati, jadi dengan sedikit rasa malas, dia pergi ke taman dekat rumahnya, mereka sudah janjian disana. Yeonra bersenandung kecil sembari berjalan santai. Jarak taman dengan rumahnya memang dekat, hanya tinggal berjalan lurus lalu belok kanan. Tidak perlu waktu lama Yeonra sudah sampai di taman. Dia menengok ke seluruh penjuru taman, namun tidak ada sosok Key disana.
“Dimana namja itu”. Gumamnya dengan wajah sedikit kesal. Terpaksa Yeonra harus menunggu kedatangan Key. Dia mencari bangku taman yang kosong. Taman hari ini begitu banyak orang, maklum hari ini kan hari Minggu.
“Ahh..sudah lama aku tidak olah raga..hitung-hitung olah raga deh, tamannya tidak terlalu jauh ini”. Ujar Siwon lalu melanjutkan langkahnya lagi. Siwon berjalan riang dengan payung abu-abu ditangannya.
“Ah..pasti itu tamannya”. Siwon sudah janjian dengan Key hari ini. Di taman dekat sebuah perumahan, yang lumayan jauh dengan apartement-nya. Siwon memasuki taman yang sudah ramai itu. Siwon celingak celinguk mencari Key. “Kemana dia”. Ujarnya lalu berjalan menelusuri taman unutk mencari Key. Tapi pada saat Siwon berjalan mendekati kolam air mancur, dia melihat Yeonra yang sedang duduk sendiri sembari memegang payung yang sama percis dengan yang dia bawa. Siwon tercekat, dia tau maksud dari Key apa. Dia sudah dijebak, dan ini kesempatan untuk berbicara banyak dengan Yeonra. “Ah..kau memang teman yang baik Key”. Ucapnya lalu tersenyum.
Sepasang kaki berhenti tepat di depan Yeonra, gadis itu langsung menjulurkan payung yang ia pegang tanpa menoleh . “Ini payungnya Key-ssi, gomawo”. Ujarnya tampa memandang.
“Shin Yeonra..”. Ucap lirih pemilik sepasang kaki itu. Mata Yeonra membulat, merasa kenal dengan suara itu. Dengan cepat dia mengangkat kepalanya dan benar saja, suara itu milik .. “Oppa..”.
Yeonra menatap sebentar lelaki yang ada dihadapannya, setelah itu dia berdiri dari duduknya hendak pergi meninggalkan namja itu. “Jangan pergi..ku mohon jangan pergi..”. Ucap namja itu seraya menggenggam lengan Yeonra agar dia berhenti. Yeonra memberontak untuk melepaskan tangannya. “Pergi!”. Bentak Yeonra kasar.
“Ku mohon kali ini saja kau dengar omonganku, aku mau menjelaskan semuanya”. Ucap lelaki itu memohon.
Siwon tetap menggenggam tangan Yeonra walaupun gadis itu meronta minta untuk dilepas.
“Lepaskan!”.
“Ani! Aku akan melepaskannya kalau kau mau mendengarkan aku”.
Yeonra menatap Siwon sengit. Lalu dia menunduk lagi dan mengangguk pelan.
“Mianhae..mianhae..aku tau kau pasti marah sekali padaku, aku tidak bermaksud..”.
“Kenapa kau membuangku, kenapa? Memang aku ini sampah ha? Kau buang seenaknya didepan rumah orang!”.
“Bukan maksudku membuangmu..kau tau kan, aku ini tidak punya siapa-siapa di Seoul, aku tidak tau orang tuaku pergi kemana, aku tidak tau mereka masih hidup atau tidak, aku tidak tau, yang aku tau, keluargaku hanya nenek-ku saja. Dan kau tau kan nenek-ku tinggal dimana? Cheonan..jauh dari Seoul, dan kau tau berapa ongkos untuk sampai kesana? Satu won? Lebih…dan kau juga pasti tau kalau aku tidak punya uang sama sekali, aku tidak mungkin membawa serta kau ke Cheonan, bukan masalah ongkos yang mahal, tapi..kehidupanku disana benar-benar menyedihkan, nenek-ku juga miskin, aku tidak mungkin membenaninya dengan membawa kau, bukan maksudku kau itu beban buatku, tapi..”.
“Aku mengerti..aku mengerti..mianhae..aku..”
“Sudahlah..aku sudah lega kau mau memaafkanku, dan aku sangat lega karena kau mengerti maksudku”.
Siwon bergerak mendekati Yeonra lalu memeluknya, tangannya bergerak mengelus-ngelus kepala Yeonra lembut.
“Oppa..mianhae..”.
“Kau tidak bersalah..sudah…jangan meminta maaf lagi”.
Siwon melepas pelukannya lalu tersenyum menatap Yeonra. “Kau benar-benar beda..kau sudah tumbuh besar”.
“Apa aku cantik?”.
“Ani..kau tidak cantik”.
“Ya! Siwon oppa..kau tau..aku ini diincar banyak namja, berarti aku cantik”.
“A..geureyo ?”. Ujar Siwon menggoda. Siwon melihat sekilas kearah leher Yeonra, lalu dia tersenyum.
“Kenapa kau tersenyum seperti itu? Ada apa?”. Tanya Yeonra sembari menyilangkan tangan didada.
“Kau masih memakainya..itu..yang ada dilehermu”. Tunjuk Siwon tepat ke arah kalung yang dipakai Yeonra.
“Ini..emm..aku..aku..”. Wjah Yeonra memerah lalu tiba-tiba bergerak gusar.
“Sudahlah..aku tau..”. Kata Siwon, seperti dapat membaca pikiran Yeonra.
“Itu..yang kau pegang..itu payung Key ?”.
“Emm..dia menjebak kita..tapi aku senang karena dijebak olehnya..hahaha”.
“Aiissshhh..oppa membuatku malu saja..ayo kita kembalikan payungnya, aku tau dimana dia tinggal,kajja”.
Siwon mengangguk lalu menggenggam lagi tangan Yeonra. Namun kali ini Yeonra tidak menolak untuk digandeng.
Akhirnya part Siwon-Yeonra selesai. Fiuuhhh..tapi mian kalau rada jelek *memang*. Disini gak diceritain banget peran Key dan Hwa Ran-nya , sengaja, karena bakal jadi panjang kalau mereka berdua diceritain juga. Hahahhaha..dan di FF ini gak ada kata saranghae, sudah bosan saya menulisnya *boong banget!*hehehehe ^^. Yasudahlah..semoga terhibur dan jangan lupa berkomen. Gomawo !
^^v annyeong~ ketemu lagi di FF selanjutnya. Bye .. *langsung ditarik Yesung* hahahaha. *gaje*