main cast : – Choi Minho
– Lee Minra
genre : PG-15
MY WEDDING WITH YOU >>hari kelima-Swiss-3
“Aku ingin ke café itu..ayolah !”. Aku merengek pada Minho dengan sekuat tenaga. Hari ketiga di Swiss akhirnya kami bisa juga jalan-jalan menikmati kota Swiss. Dan sekarang kami akan pulang kembali ke hotel , namun café dengan cat merah marun itu dan bau kopinya benar-benar menggodaku.
“Ini sudah sore..dan hujan akan turun”. Minho menunjuk ke langit. Aku melihat ke arah langit. Iya juga sih..ini masih jam 4 sore, tapi langit sudah mulai gelap tertutup awan hitam, hujan akan turun.
“Tapi..ayolah..hanya sebentar”. Aku masih berusaha meyakinkannya. Minho mulai kesal sepertinya.
Dia melirik kearahku dengan alis mengangkat sebelah. Dan…apa yang dilakukannya selanjutnya ?
“Ya! Ya! Turunkan aku, bodoh !!! Ini jalan raya !! Turunkan aku”.
Dia menggendong paksa aku seperti kebiasaanya, dan sumpah ini memalukan!
Banyak orang yang melihat kearah kami sembari tertawa dan menunjuk-nunjuk, mirip penonton yang sedang melihat sirkus.
“Choi Minho..demi Tuhan..ku mohon turunkan aku ! Ini memalukan!!”.
Entah Minho tuli sungguhan atau pura-pura tuli, dia sama sekali tak menggubris teriakanku dan pukulan-pukulan kecil dipunggungnya. “YA !! TURUNKAN AKU!!!!”.
Jleegggeeeerrrrrrrrr *apaan tuh?* >>ceritanya petir
“Tuh..kalau kau tidak kupaksa pulang, kau akan tersambar petir”. Ujar Minho lalu duduk disofa. Aku masih cemberut dan mogok bicara, perlakuannya tadi masih belum bisa aku maafkan.
“Minra-ya kenapa kau diam saja?”. Minho mengacak-ngacak rambutku dan menarik majalah yang sedang ku baca. Aku memasang wajah galak kearahnya.
“Ku mohon jangan ganggu aku !”. Ujarku kesal lalu mengambil kembali majalah yang ada ditangannya.
Minho malah tersenyum melihat tingkahku.
“Maafkan aku..kalau kau tidak ku gendong tadi, kau pasti bakal terus merengek”.
Aku pura-pura tidak mendengarnya, seperti yang tadi dia lakukan padaku. *pundung*
“Minra-ya~ mianhae..ayolah..jangan marah”. Minho mengerlingkan mata kearahku. Aku masih tak meladeninya, tapi Minho terus membujukku. Hah~ berisik sekali dia itu.
“Minra-ya~ Minra-ya~ Lee Minra !”. Dia benar-benar gila >.<
Minho terus memanggil namaku berulang-ulang kali di depan telingaku !
Aku benar-benar akan tuli sepertinya.
“Minra..mianhae..ayolah bicara”.
Aku masih tak bergeming dengan posisi awalku, membaca majalah yang sebenarnya aku tak mengerti isinya, hehehe..aku membaca majalah berbahasa Swiss. *Pabo bener !*
Tiba-tiba…PLLAASSSHHHHH-
“Aaarrrrggghhhhhh!!!!”. Semua ruangan gelap tak bercahaya lagi, lampu padam !___________________
Aku berteriak histeris di dalam kegelapan. Aku sama sekali tak bisa melihat apa-apa.
“Minho!! Tolong..hiks..tolong aku”. Aku menangis, aku takut kegelapan, di tambah petir yang mulai muncul. Aku meraba-raba kesetiap sudut di sekelilingku, berusaha mencari sosok Minho yang tiba-tiba menghilang. Yang teraba hanya udara kosong, dimana Minho ?
“Minho..jangan bercanda..kau dimana?”. Suaraku melemah, keringat dingin mengucur di dahiku. Seketika udara menjadi panas, petir tak kunjung berhenti mengkilat. Ya Tuhan..gelap sekali.
“Minho! Kalau kau berniat dan akan mengagetkanku. Jangan harap kau besok hidup !”. Ancamku walau sebenarnya rasa takutku masih tetap ada. Sialan >< dimana si Minho.
“Aaaarrrggghhhh!!!”. Ada sebuah tangan yang hinggap di pundakku, dan itu pasti…
“Jagiya,jangan takut..ini aku”.Minho dengan sebuah lilin ditangannya hampir membuatku pingsan sesaat
“Minho!! Hiks..jahat!”. Aku memeluknya tiba-tiba, meluapkan rasa legaku karena dia sudah ada disampingku.
“Kenapa menangis? Kau takut? Maaf tadi aku mencari lilin dulu di dapur, dan hanya ada satu lilin”.
Aku memukul dadanya pelan.
“Ih..bodoh! Kenapa tidak bilang? Aku ketakutan”. Ujarku lalu memukulnya dada-nya lagi
“Mianhae”. Katanya pelan.
Aku melepas pelukanku dan duduk kembali disofa. Minho meletakkan lilinya di meja lalu ikut duduk disampingku. “Kau sudah tidak marah ?”. Tanyanya.
Aku terdiam sesaat lalu mengeleng pelan.
“Hahaha..bagus ! ha~ kenapa harus mati lampu sih, katanya hotel mahal, cih~”. Gumamnya lalu tidur dibahuku. “Biarkan aku tidur sebentar disini”.
Aku menarik nafas lalu menghembuskan perlahan, jantungku mulai bergemuruh. Dengan sedikit cahaya yang ditimbulkan oleh liin, menambah hentakan keras di jantungku, entahlah..keadaan seperti ini begitu romantic bagiku. >//<
Aku mengelus perlahan rambut Minho . “Kepalamu berat juga, hahaha”. Ujarku lalu terkekeh sendiri.
Tiba-tiba Minho bangkit lalu mencium pipiku. “Jangan menggodaku”.
Aku mengerutkan kening, “Menggodamu ? Siapa yang menggodamu? Dasar aneh !”.
“Kau tau..eomma kemarin menghubungiku, dia…”. Minho menggaruk kepalanya. Aku menunggu lanjutan kata-katanya. “Eomma ingin kita cepat memiliki anak”.
“MWO ? A-aku…”. Apa? Punya anak ? Aku belum siap lahir batin.
“Ara..ara..tapi..eomma sudah memaksa, ottokhe ?”. Aku menelan ludah gusar _________________