Main cast :
– Lee Teuk
– Shin Hyun Hyo / Adlina
@Pov Teuki
Shin Hyun Hyo, gadis manis yang lembut dan baik hati, gadis biasa namun punya sejuta pesona bagi yang menyadarinya. Sekilas tampak memang biasa saja , tidak ada yang istimewa. Namun, jika terus dekat dengannya, entah mengapa ada sesuatu yang menarik hati ingin terus bersamanya. Itu bagi yang menyadari. Dan…dulu aku sempat mengacuhkannya, dulu aku tidak menyadarinya, tapi semakin aku memperhatikan dan bertemu dengannya , semakin aku jatuh cinta padanya.
Flash back
Sore ini hujan kembali turun dengan deras. Untungnya tidak ada kilat sama sekali yang memeriahkan langit. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh yang aman, halte begitu terlihat sesak di padati orang untuk melindungi diri, begitupun teras-teras toko dan café. Tidak terkecuali aku yang ikut berlarian diantara mereka yang ingin berteduh. Ku lihat di ujung jalan, sebuah café yang lumayan menarik hatiku untuk singgah disana. Tanpa pinggir panjang, dan dengan tujuan untuk melindungi kemeja dan tas yang ku kenakan agar terhindar dari jatuhnya titik titik air dari langit, aku berlari menuju café yang ber-plang ‘CAFÉ GREEN CAMP’itu.
“Eoseo osipsiyo..yeogi anjeuseyo”.(1*) Seorang pelayan pria menyambutku ketika aku baru saja menginjakkan kakiku di lantai café ini, lalu dia menggiringku menuju meja yang kosong.
“menyu yeogi isseumnida”.(2*) ujar pelayan itu , seraya menyodorkanku menu. Aku membuka buku menunya dan membolak-balikkannya tanpa membaca detail. Dingin-dingin seperti ini sepertinya teh ginseng cocok.
“Jeoneun insamcha juseyo”.(3*) kata ku lalu menyodorkan buku menunya kembali pada pelayan itu.
“Baiklah tuan, pesanan akan segera datang”. Ucap pelayan itu lalu membungkuk 180° dihadapanku. Hah~ rasa penat yang sedari tadi memenuhi seluruh aliran darahku , seketika mulai berkurang. Mataku terus mengelilingi mengamati setiap sudut yang ada di café ini. Menarik juga café ini, nuansa hijau ,begitu serasi dengan nama café ini. “Pesanan datang, tuan..silahkan”. Ujar pelayan pria tadi seraya menaruh pesananku dan bon di hadapanku. “Ne, gomawo..”. Kata ku sopan, pelayan pria itu lalu membungkuk sedikit dan pergi. Emm~ hangat sekali tehnya ..
Setelah sekitar setengah jam aku duduk dan menikmati secangkir teh ginseng, sepertinya hujan sudah benar-benar menghentikan aktivitasnya menyirami bumi. Aku beranjak pergi menuju kasir.
“Ini..”. Ujarku seraya menaruh bon diatas meja kasir tanpa menoleh.
“200 won tuan”. Aku mendongkak menatap pelayan kasir wanita yang terhalang mesin kasir itu. Lalu mengeluarkan sejumlah uang yang disebut oleh pelayan kasir tadi.
“Gamsahamnida..datang kembali ya tuan..”. Ucapnya ramah. Aku hanya sedikit tersenyum menanggapi nya. Langit sore kembali cerah …
Hampir setiap hari aku berkunjung ke café Green Camp itu , berawal dari berteduh tempo lalu, karena aku suka dengan tempat dan pelayan-pelayannya yg ramah, aku jadi sering bolak-balik masuk café ini. Seluruh pelayan disini rata-rata sudah mengenalku, begitupun sebaliknya. Apalagi penjaga kasir wanita itu. Aku berkenalan dengannya tiga hari yang lalu, saat kunjunganku ke café ini yang ke lima kalinya. Nama gadis penjaga kasir itu adalah Shin Hyun Hyo. Aku rasa aku mulai menyukainya, aku terus memandanginya tanpa bosan. Hyun Hyo manis sekali, apalagi ketika tersenyum. Tapi…apa dia menyukaiku juga?
End flash back
1* : selamat datang…silahkan duduk disini.
2* : ini menunya.
3* : aku mau teh ginseng.
—————————————————————————————————————————————————————————–
@POV author
“Eoseo osipsiyo..Teuki-ssi..”. Sapa seorang pelayan didepan pintu masuk café ramah pada LeeTeuk.
“Annyeong Shindong-ssi”. Jawab LeeTeuk, lalu bergegas mencari meja kosong di dalam café. Tidak lupa, LeeTeuk memandang kearah kasir, untuk memastikan Hyun Hyo ada disana. Tapi sungguh disayangkan, gadis yang biasa bersembunyi dibalik mesin kasir itu, hari ini tidak menampakkan wajahnya disana, hanya ada seorang pelayan pria yang sepertinya menggantikan Hyun Hyo bekerja. “Hyun kemana hari ini? Kenapa tidak masuk kerja?”. LeeTeuk bertanya-bertanya pada diri sendiri. Tiba-tiba seorang pelayan menepuk bahu LeeTeuk pelan.
“Teuki..kenapa melamun?!”.
“Euh..Kangin! ah~ anio, hanya bingung mau duduk dimana, hehe”.
“Jangan berbohong Teuki, aku tau, kau mencari Hyun kan?”.
LeeTeuk menggaruk-garuk kepalanya dan tersenyum tersipu.
“Hyun, sudah dua hari ini tidak masuk. Kau juga selama seminggu ini tidak pernah kemari, waeyo?”.
“Ha? Sudah dua hari? Aku..sedang banyak tugas kuliah yang menumpuk, jadi tidak sempat kesini. Kau tau kenapa Hyun tidak masuk selama dua hari ini?”. Tanya LeeTeuk.
“Ayo kita bicara di beranda belakang café saja”. Ujar Kangin lalu menarik tangan LeeTeuk menuju halaman belakang café. Biar ku ceritakan..Kangin adalah teman kecilnya Hyun Hyo, karena Kangin-lah LeeTeuk bisa berkenalan dengan Hyun Hyo, karena ternyata Kangin adalah teman LeeTeuk semasa SMA dulu, jadi bisa dibilang Kangin itu ‘matchmaker’-nya LeeTeuk.
“Sekarang cepat ceritakan ada apa dengan Hyun? Sepertinya sangat serius sekali”. Kata LeeTeuk ketika mereka baru saja duduk di meja. Wajah kangin mendadak berubah muram.
“Emm..begini Teuki..aku tadinya tidak mau menceritakan ini padamu. Aku takut Hyun akan marah padaku…”.
Kangin bergerak gusar. “..Teuki..Hyun sedang mendapat masalah yang sangat besar sekarang, dia..dia..”.
“Ada apa dengannya. Kangin, cepat ceritakan”. Ujar LeeTeuk penasaran.
“.. Eomma Hyun baru meninggal kemarin, dan..eomma Hyun meninggalkan begitu banyak hutang pada Hyun, sebenarnya itu bukan hutang eomma Hyun atau Hyun sendiri, itu hutang appa Hyun. Appa Hyun itu benar-benar brengsek, dia meninggalkan Hyun dan eommanya ketika dia berhutang berjuta-juta won pada rentenir dan mengalamatkan hutang itu pada eomma Hyun. Selama beberapa tahun, Hyun dan eomma-nya hidup dalam bayang-bayang hutang. Dan sekarang eomma Hyun sudah meninggal karena penyakit kankernya, tentu saja hutang yang masih menumpuk itu akan jatuh ketangan Hyun, dan dia tengah bingung untuk membayar hutang itu seorang diri. Kasian sekali Hyun, aku sudah kehabisan akal untuk membantunya, dia selalu menolak setiap bantuan yang aku berikan,dan aku harap dia mau menerima bantuanmu . Dan aku tidak tau keadaannya saat ini bagaimana, aku khawatir dengan para rentenir itu”. Ujar Kangin panjang lebar . LeeTeuk terdiam sesaat, mencoba berfikir.
“Segitu parahkah keadaanya saat ini? Kangin-ssi , beri aku alamat rumahnya”.
“Untuk apa kau kesana?”.
“Aku mau memastikan keadaanya saat ini”. Kangin lalu mencatat alamat rumah Hyun pada selembar tissue .
“Aku harap kau bisa meringankan penderitaannya Teuki”. Gumam Kangin. “Aku tau kau pasti akan menjaganya”.
“Tentu..aku akan menjaga Hyun, gomawo mau menceritakan semuanya padaku Kangin. Aku pergi dulu”.
“Ne..hati-hati dijalan Teuki-ssi”. LeeTeuk membungkuk kearah Kangin lalu melambaikan tangan pergi menuju rumah Hyun. “Semoga Hyun baik-baik saja”. Ujar Kangin berbisik lalu menatap LeeTeuk yg mulai menjauh pergi.
Teuki menggenggam erat selmbar tissue bertuliskan alamat rumah Hyun ditangan kirinya, sedangkan tangan kanannya sibuk dengan stiran mobil. “Hyun..kau baik-baik saja bukan?”. Kata LeeTeuk khawatir.
“Aku takut kau di apa-apakan oleh para rentenir itu. Aku harap tidak akan terjadi apa-apa padamu”.
LeeTeuk mengambil ponsel yang sedari tadi ada disaku celananya. Mencari kontak telpon Hyun, lalu menghubunginya, untuk memastikan Hyun ada dirumah sekarang. Tapi..tidak ada jawaban sama sekali dari Hyun.
“Ah~ kenapa tidak diangkat”. Gerutu LeeTeuk lalu melempar ponselnya ke jok belakang.
Sudah setengah jam lebih LeeTeuk mencari alamat rumah Hyun, dan akhirnya.. LeeTeuk sampai di depan rumah Hyun. LeeTeuk berhenti dan memarkirkan mobilnya didepan rumah yang sederhana dengan cat ungu pudar itu. Baru LeeTeuk mau akan menuruni mobil, dua orang pria dengan badan kekar dan besar keluar dari rumah Hyun.
LeeTeuk mengurungkan niatnya turun dari mobil, dia membiarkan kedua pria kekar itu pergi . Setelah dua pria itu pergi, LeeTeuk buru-buru masuk kedalam rumah Hyun, dan …
“Hyun..Hyun..!!!”. LeeTeuk berteriak memanggil nama Hyun dengan khawatir. Rumah Hyun Nampak berantakan sekali, seluruh kursi diruang tamu terjatuh dan beberapa kertas bertebaran dilantai ruang tamu. Kacau.
Saat LeeTeuk memasuki ruang tengah, ternyata keadaan lebih kacau dari yang diruang tamu tadi. LeeTeuk mulai gelalapan, dan berfikiran negative. Saat LeeTeuk memasuki dapur, suara isakan tangis terdengar jelas, dan tidak salah lagi, itu pasti Hyun !
“Hyun..kau tidak apa-apa?”. LeeTeuk menghampiri Hyun yang tengah duduk sembari memeluk kakinya, dia seperti ketakutan. Matanya tidak berhenti mengeluarkan air mata.
“Teuki? Sedang..apa..kau..disini?”. Ucap Hyun sembari terisak.
“Sudah jangan bahas itu dulu, kau terluka, lihat wajahmu..ayo aku obati”. LeeTeuk membantu Hyun berdiri dan membopongnya untuk berjalan. LeeTeuk mendudukkan Hyun di sofa ruang tengah, lalu dia bergegas mengambil kotak P3K yang digantung disudut ruangan.
“Teuki..untuk apa kau datang kesini?”. Tanya Hyun.
“Sudah Hyun, jangan bicarakan itu dulu, lukamu banyak”. Jawab LeeTeuk seraya mengolesi wajah Hyun dengan betadine. Hyun sedikit meringis perih. “Ssshhh..sakit..”.
“Tahan Hyun, kau dipukuli oleh dua rentenir itu ya? Brengsek!”.
“Dari mana kau tau kalo mereka rentenir ? Teuk, bicaralah, ada apa kau kemari”.
“…”.
Hyun menghentikan gerakan tangan LeeTeuk yang sedang mengobati luka diwajah Hyun.
“Teuki..kumohon, jawab pertanyaanku”.
“Aku…aku sudah tau semuanya, hutang appa-mu, keadaanmu..dan..”.
“Kau tau dari siapa semua itu? Kita hanya teman Teuk, kau tidak perlu ikut campur urusanku”.
“Aku tau kita hanya teman, memang kenapa kalau aku membantu teman sendiri? Salah?”.
“Aku tidak mau merepotkan siapapun, silahkan pergi dari sini Teuki, ku mohon..”.
“Aku tidak akan pergi sampai semuanya kembali normal”. Ujar LeeTeuk lalu kembali mencoba mengobati luka Hyun, namun Hyun menepis tangan LeeTeuk keras.
“JANGAN KERAS KEPALA LEETEUK, SILAHKAN PERGI”. Teriak Hyun keras lalu mendorong LeeTeuk menuju pintu depan. LeeTeuk mencoba melawan namun dia merasa kasian melihat keadaan Hyun yang lemah, jadi dia terpaksa menuruti Hyun untuk keluar dari rumahnya. “Aku tidak akan pergi dari sini, aku akan mengembalikan keadaan menjadi seperti semula lagi. Aku tidak akan pergi sejengkal pun dari rumahmu Hyun”.
BBBLLAAMM.. pintu ditutup kasar oleh Hyun.
@Pov HyunHyo
Keras kepala sekali dia itu, dia pikir mudah apa mengembalikan semuanya jadi normal. Aku yakin sebentar lagi juga dia akan pulang. Pabo! Namja pabo. Pasti Kangin yang sudah memberitau semuanya. Ah Kangin ember bocor !! Aaaiiisshh rumahku jadi berantakan seperti ini.. eomma .. aku merindukanmu. Eomma..doakan aku di surga sana , semoga aku bisa mnyelesaikan semua ini secepat mungkin.
Jangan menangis Hyun Hyo..jangan menangis..kau harus kuat !
End pov
“Akhirnya selesai juga”. Gumam Hyun saat semua rumahnya bersih dan tertata rapi kembali. Hyun tersenyum menyaksikan rumahnya kembali bersih. “Mandi dengan air hangat pasti enak”. Katanya lalu berjalan ke arah kamarnya untuk mengambil handuk. Saat Hyun melihat kearah jendela kamarnya, LeeTeuk masih ada disana, mondar mandir seperti setrikaan. “Benar-benar namja pabo, kurang kerjaan!”. Gerutu Hyun lalu bergegas pergi ke kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri, Hyun pergi ke dapur memasak apa saja yg ada didapur, yg penting perutnya tak menjerit kelaparan.”Sudah sore begini, pasti dia sudah pulang”.Ujar Hyun, lalu menge-cek ke luar jendela. Namun ternyata, LeeTeuk masih diluar sana. “Benar-benar namja gila, apa untungnya sih dia berbuat seperti itu, dasar bodoh!”. Umpat Hyun seraya menutup jendela dengan gorden.
Matahari mulai bersembunyi kembali dibalik kesunyian malam. Hyun sudah tertidur karena hari ini begitu melelahkan baginya.
“Mau apa kalian kesini lagi?”. Tanya LeeTeuk seperti menantang.
“Apa urusan lo? Minggir..”. Jawab seorang pria berbadan kekar yg kemarin memukuli Hyun.
“Jangan harap bisa masuk, tanpa melangkahi mayatku dulu”. Ujar LeeTeuk merentangkan tangannya. Dua orang pria itu pun, tertawa merendah pada LeeTeuk. “Nantangin nih bocah!”. Kata salah satu pria botak .
“Siapa takut, P-E-N-G-E-C-U-T, dua lawan satu”. LeeTeuk memasang kuda-kuda hendak ingin meluncurkan tinjuan, namun malang, si pria botak itu lebih dulu melayangkan pukulan kearah wajah LeeTeuk dan seketika tubuh LeeTeuk terpental. “Hahaha..dasar bocah ingusan! Jangan sok dulu, kau kira kau hebat ha?”. Ujar pria kekar itu.
“Heuh~ heh pria pengecut, bisanya maen kroyok. Kau kira aku akan mati ditanganmu hah? Cuiiihh~”. Kata LeeTeuk seraya bangun dari posisinya yg terjatuh tadi.
“Bos.. dia benar-benar meremehkan kita”. Bisik pria botak pada bosnya,pria kekar.
“Hajar.. sialan dia belum tau siapa kita”. Dua pria rentenir itu pun memukuli LeeTeuk hingga babak belur. LeeTeuk sama sekali tidak mau menyerah. Dia tetap bertahan, padahal tubuhnya sudah lebih dari sepuluh kali ditonjok tangan iblis kedua rentenir tersebut. “Kuat juga bocah sialan ini, ayo hajar dia sampai mati sekalian”. Bbuukkk..bbuukkk..bbbukkk..
LeeTeuk terhempas kesana kemari, darah sudah mulai keluar dihidung dan mulutnya. Namun LeeTeuk masih bisa bertahan dengan keadaan seperti itu. ‘Hyun..a-ku akan melindungimu’. Gumam LeeTeuk dalam hati.
Bbbbuuukkk…bbuukkkk…
Dua rentenir itu berhenti memukuli LeeTeuk karena kelelahan. “Hanya segitu kemampuan kalian hah? Payah”. Ujar LeeTeuk sempoyongan. LeeTeuk berusaha tetap kuat, padahal tubuhnya mengatakan yg sebaliknya.
“Kau benar-benar ingin mati ha? Cuuiiihh~ rasakan ini..”.
Ninutninutninut…
Mobil polisi tiba-tiba berseru datang, menghentikan gerakan si pria kekar itu yang hendak menusuk LeeTeuk dengan pisaunya.
“Angkat tangan..anda sudah dikepung, jangan mencoba kabur!”. Ucap polisi seraya menjulurkan pistol kearah si rentenir busuk itu. LeeTeuk bernafas lega, dia nayris akan mati, jika saja polisi tidak datang tepat waktu.
“Teuki~”. Seorang berteriak menyerukan nama LeeTeuk.
“Kangin..kau..yang membawa polisi, kemari?”. Tanya LeeTeuk lalu memegangi perutnya yang perih.
“Ne..aku khawatir denganmu, dari tadi aku telpon, tapi tidak kau angkat telponku, dan aku teringat dengan rentenir yang mengejar Hyun, aku punya firasat buruk, dan aku menyusul kemari tapi saat aku melintas di depan rumah Hyun, aku melihatmu dipukuli oleh dua rentenir itu. Jadi aku bawa polisi kemari “. Ucap Kangin.
“Gomawo Kangin, aku hampir mati tadi”. Kata LeeTeuk berterima kasih.
“Aduh! Berisik sekali diluar, ada apa sih malam-malam begini bikin ribut”. Gerutu Hyun yang terbangun dari mimpi karena suara ribut yang mengganggu ketenangannya. Hyun menyeka gorden kamarnya untuk melihat, ada keributan apa diluar sana. Mata Hyun membulat begitu melihat mobil polisi yang terparkir didepan rumahnya. “Ada apa ini, ada polisi segala..”. Hyun Nampak panik, dia lalu berjalan menuju halaman depan rumahnya untuk mengetahui ada masalah apa.
“Annyeong .. ada apa ahjussi sebenarnya ini?”. Tanya Hyun pada polisi yang tengah mencatat sesuatu.
“Di depan rumah anda ,tadi ada kasus pengeroyokan, dan hampir ada pembunuhan disini, tapi untung semuanya sudah beres. Anda terganggu?”. Hyun menatap sekeliling halamannya,Hyun menyadari ketidak adaan LeeTeuk ‘Mungkin sudah pulang..tapi..mobilnya kenapa masih ada?’. Gumam Hyun dalam hati.
“euh~ enggak menganggu kok ahjussi, hanya saja saya terkejut. Oya pak, memang siapa yang dikeroyok?”
“Emm..namanya LeeTeuk, dan saya belum tau sedang apa dia didepan rumah anda tadi”. Ujar polisi.
“Hah? LeeTeuk? Dikeroyok? Boleh saya tau siapa yang memukuli LeeTeuk ?”. Tanya Hyun .
“Menurut informasi, LeeTeuk dipukuli oleh dua orang rentenir, tapi saya belum memastikan itu rentenir atau bukan. Hampir saja tadi dia mati ditusuk pisau, jika saja Kangin temannya tidak buru-buru memberitahu kami”.
“Kangin? Sekarang mereka .. maksud saya, Kangin dan LeeTeuk, pergi kemana?”.
“Mereka sekarang menuju ke rumah sakit di ujung jalan sana, LeeTeuk harus di obati karena lukanya lumayan parah. Anda mengenal LeeTeuk dan Kangin?”. Ucap polisi. Hyun mengagguk cepat.
“Ne..saya teman mereka. Baiklah..gamsahamnida ahjussi, saya akan menyusul mereka”. Ujar Hyun lalu berlari pergi menuju rumah sakit yang ada diujung jalan sana.
“Kangin…”. Teriak Hyun seraya berlari mendekati Kangin yang sedang duduk di bangku dengan tatapan khawatir.
“Hyun..sedang apa kau disini?”. Tanya Kangin . Hyun ikut duduk disamping Kangin lalu menatap Kangin.
“Dimana LeeTeuk?”. Kata Hyun bertanya balik.
“LeeTeuk ? Kau tau dari mana dia ada disini?”.
“Kau pikir aku bodoh atau tuli? Suara seberisik didepan rumahku tadi memang sama sekali tidak aku dengar, hah?”.
“Oh..mianhae Hyun.. aku telah membocorkan semuanya pada LeeTeuk”. Ucap Kangin lalu menundukkan kepalanya. Hyun menghela nafas panjang lalu bersender pada kursi. “Kenapa kau menceritakan semuanya?”.
“Aku khawatir padamu, kau selalu menolak bantuanku, ku pikir kalau LeeTeuk yang membantu kau tidak akan menolaknya. Benarkan?”. Ujar Kangin sedikit gugup takut Hyun akan marah padanya.
“Kenapa kau bisa berfikiran seperti itu? Aku menolak bantuannya juga”.
“Aku tau kau menyukai Teuki, iya kan?”. Hyun menoleh kearah Kangin dan mengangkat alisnya bingung.
“Jangan suka mengarang Kangin-ah”.
“Aku tidak mengarang, kau sendiri yang bilang padaku”.
“Aku tidak pernah bilang padamu, kapan aku pernah bilang kalau aku menyukai LeeTeuk?”.
“Seminggu yang lalu, saat itu kau bilang padaku, kalau kau terpesona dengan senyuman Teuki. Dan setiap Teuki datang ke café,kau selalu tersenyum, padahal aku tau kau sedang banyak pikiran, dan juga saat Teuki tidak datang ke café sehari saja, kau selalu bertanya padaku kenapa Teuki tidak datang ke café. Apa itu belum cukup menggambarkan kalau kau sebenarnya sedang jatuh cinta bukan pada Teuki”.
“Aku tidak tau, kenapa kau begitu teliti sekali sih”.
“Tentu saja, aku ini berteman denganmu tidak sehari duahari Hyun, aku sudah mengerti raut wajahmu kalau sedang sedih,senang,marah,kesal bahkan raut wajah kau sedang menyukai seseorang saja aku tau. Jadi…?”.
“Apanya yang jadi?”.
“Kau menyukainya bukan? Sudahlah tidak usah ditutupi lagi Hyun”.
“Aku … kau pikir saja sendiri”. Ujar Hyun lalu berjalan pergi meninggalkan Kangin yang sedang tertawa kecil.
“Ya..Hyun..kau tidak mau menjenguk Teuki dulu? Kau sudah cape-cape datang kesini hanya untuk mengobrol denganku? Aku tau kau khawatir dengan Teuki kan? Hyun..”. Kata Kangin . Hyun tidak menoleh dan tetap berjalan pergi. Kangin berlari kecil menyusul Hyun lalu menarik tangan Hyun kearah ruang ICU tempat LeeTeuk berada.
“Ya..ya..Kangin-ah, lepaskan aku..”. Hyun mencoba berontak.
“Sudahlah Hyun..jangan memendam semuanya sendiri”.
“Kangin-ah, aku harus pulang, ini sudah malam, aku besok harus kerja”.
“Hyun..asal kau tau, Teuki juga menyukaimu. Aku sudah cape melihat kalian yang sama-sama tidak mau mengaku kalau kalian sebenarnya saling menyukai. Jadi..sekarang waktu yang tepat untuk saling mengakui”.
“Ya..Kangin-ah lepas..”. Hyun tetap menolak untuk bertemu dengan Teuki. Wajahnya sudah mulai memerah lantaran malu. Tapi Kangin tetap menarik Hyun ke ruang ICU. KreEeekKkKk..pintu dibuka Kangin pelan.
“Teuki..aku bawa sesuatu untukmu”. Kata Kangin lalu menarik Hyun kehadapan Teuki yang terbaring di tempat tidur rumah sakit. Hyun menunduk tidak mau melihat LeeTeuk dengan keadaan wajahnya yang merah padam. LeeTeuk tersenyum lemah menatap Hyun yang sedang tertunduk malu.
“Aku harus keluar..duduklah Hyun dan bicarakan semuanya”. Ujar Kangin lalu menarik Hyun untuk duduk disebelah tempat tidur LeeTeuk. Hyun masih tertunduk. “Annyeong..”. Kangin melambai lalu tertawa.
“Heuh~ aku sudah merelakanmu Hyun, aku sudah rela bila kau lebih memilih Teuki dari pada aku”. Kata Kangin berbisik pada hatinya dan mencoba tersenyum bahagia. Karena Hyun sahabat kecilnya yang sebenarnya dia sendiri menyukai Hyun sejak dulu, akhirnya mendapat lelaki yang tepat untuk mendampinginya di masa depan.
Kangin berjalan santai keluar rumah sakit hendak pulang. Sembari bersenandung kecil mencoba ikut bahagia walau sebenarnya hati kecilnya terasa perih. “Aku Kangin..aku harus kuat”. Ujarnya didalam hati. Kalimat ampuh yang dapat membuatnya tetap sabar.
Brrruuukkkk..
“Ah! Mianhae..mianhae..”. Kangin menabrak seorang suster yang sedang membawa tumpukan file di tangannya. Dan sekarang, seluruh kertas berserakan dilantai. Kangin mencoba membantu membereskan kekacauan yang dibuat. “Gwenchana..gwenchana..”. Ujar suster itu seraya jongkok ikut membereskan kertas yang berserakkan.
Kangin menoleh kearah suster itu, Glekk .. Kangin menelan air liurnya saat menatap suster itu. ‘Neomu yeoppeoyo’. Kata Kangin didalam hati. Suster itu tersadar, kalau dirinya sedang ditatap Kangin, dia mengibas-ngibas tangannya didepan wajah Kangin. “Hey..kenapa melihatku seperti itu?”. Kangin tersadar lalu kembali membereskan kertas dilantai. “Siapa namamu?”. Tanya Kangin. “Heu? Oh..SongHae imnida”. Jawabnya. Kangin tersenyum penuh arti.
LeeTeuk dan Hyun hanya terdiam tanpa bicara sepatah katapun. Tidak ada yang mau memulai percakapan. Hyun masih tertunduk sembari memainkan jari-jarinya. LeeTeuk hanya terbaring menatap langit-langit kamar sembari terus menghela dan menatap ke arah Hyun sesekali. Karena merasa bosan LeeTeuk mencoba memulai pembicaraan. “Hyun..apa kau masih marah?”. Tanya LeeTeuk. Hyun berhenti memainkan jarinya dan mengangkat wajahnya menatap LeeTeuk. “Aku tidak tau, aku harus marah atau tidak”. Jawab Hyun lalu dia tertunduk lagi.
“Apa benar kau menyukaiku?”.Tanya LeeTeuk to the point.“Aku tadi mendengar percakapan kalian,kau dan Kangin”
“Mwo? Kau mendengarnya? Semuanya? Aiiisssshhh..Kangin memang benar-benar sengaja mengeraskan suaranya”.
Ucap Hyun dan wajahnya kembali memerah. LeeTeuk menahan tawa.
“Jadi kau benar menyukaiku?”. Tanya LeeTeuk seraya menatap Hyun menunggu jawaban.
“Mollayo”. Ujar Hyun singkat. Tapi LeeTeuk sudah tau jawaban sebenarnya.
“Mianhae..aku terlalu ikut campur urusanmu Hyun. Aku hanya ingin membantu”.
“Emm..ne..maafkan aku juga karena aku terlalu egois”.
“Aku akan membantumu sebisaku. Kalau boleh tau..kau berhutang, emm maksudku appa-mu berhutang berapa won pada rentenir itu?”. Kata LeeTeuk hati-hati, takut menyakiti hati Hyun.
“400.000 won. Hiks..aku gka tau Teuk harus bayar uang sebanyak itu pake apa. Aku benar-benar bingung”.
“Shuutt..sudah Hyun, jangan menangis. Ada aku disini sekarang, aku akan membantumu”. Ucap LeeTeuk seraya mengelus pangkal kepala Hyun lembut. “Aku janji akan membantumu membayar hutang itu”.
“Ha? Benarkah? Tapi..aku..”.
“Tidak usah merasa sungkan Hyun, aku sudah janji padamu”. Sela LeeTeuk lalu mencium pangkal kepala Hyun.
“Gomawo..jeongmal gomawo Teuk. Aku sungguh merepotkanmu”.
“Anio..kau tidak merepotkan”. LeeTeuk menggeleng.
“Gara-gara aku, kau terluka seperti ini, gara-gara aku kau jadi terlibat hutang, gara-gara aku..”. Kata Hyun terpotong. LeeTeuk sudah mengunci bibir Hyun rapat, dengan bibirnya. *arrgghh..tidak..pingsan!*
Demi ikut membantu membayar hutang Hyun. LeeTeuk ikut berkerja paruh waktu di café Green Camp.Tempat yang mempertemukannya dengan Hyun. LeeTeuk sama sekali tidak mearasa direpotkan dengan semua yang dilakukannya untuk Hyun. Ini memang kemauannya, menjaga Hyun, apapun masalah yang menghadang. Mau itu masalah yang mudah ataupun yang sulit sekalipun. Selagi dia bisa dan mampu menjaga Hyun, untuk apa mundur.
Selama beberapa bulan ini LeeTeuk benar-benar membuat Hyun kagum. Kuliah sama sekali berjalan lancar, padahal waktu belajarnya sedikit tersita karena kerja paruh waktunya. Dan LeeTeuk berhasil menyelesaikan kuliahnya lebih cepat dari perkiraan. Kini dia masih berkerja sebagai pelayan di café Green Camp. Dia dan Hyun mengumpulkan uang demi uang dari hasil bekerja mereka, sungguh Tuhan memang benar-benar adil. Uang 400.000 won sudah terkumpul dan kini belenggu hutang sudah terputus seketika.
“Gomawo..aku benar-benar gak nyangka bisa terbebas dari ini semua. Aku banyak berhutang budi padamu, Teuk”.
“Sudah..tidak usah membahas yang sudah lewat, sekarang semua telah selesai. Kau hidup tenang sekarang”.
“Aku tidak tau harus membalas semuanya dengan apa”.
“Cukup dengan mencintaiku. Dan…maukah kau menikah denganku?”. LeeTeuk mengeluarkan kotak cincin dari saku celananya. Hyun Tertegun dan terbelalak kaget.
“Kau..kau yakin, akan memilihku? Kau tidak akan menyesal?”.
“Ani..aku tidak akan menyesal. Would you marry me?”.
“Teuk..jeongmal saranghae. I do ..”.
“Gomawo..”. LeeTeuk lalu memakaikan cincin dengan permata yang berwarna sapphire blue itu di jari manis Hyun.
Akhir bahagia untuk LeeTeuk dan HyunHyo.
Huahahahahaha..ini cerita sumpah gak jelas banget ya?
Di tunggu comment-nya, mau dibilang jelek atau apalah, aku tetap sabar. *PLAKkK*
^^v annyeong~ ketemu lagi di FF selanjutnya. *pede banget bakal dibaca FF selanjutnya*
