I was dizzy, real dizzy.
be like me now really tiring, you know?
I’m facing midterms right now, and you know what?
shinee precise when it comes to Indonesia tomorrow I repeat physics.
I do not know .. I really have to ponder.
this time I do not know what to do anymore.
it feels like back like a child.
sad to be me right now?
#1 : LOVE STORY (YAOI)
Oktober 8, 2010
FanFiction K-pop Kyumin, Super Junior, Yaoi 5 Komentar
[6th FF] no title (bingung judulnya mau apa)
Oktober 8, 2010
FanFiction K-pop Kim Ki Bum, Super Junior 6 Komentar
[5th FF] no title (bingung judulnya mau apa)
Main cast :
– Kim Ki Bum
– Choi Minho
– Han Minchan / melinda
Minchan terus tertunduk disebuah altar mewah dengan warnah merah marun. Hari ini adalah hari pernikahannya dengan tunangannya yang dijodohkan oleh kakak-nya, Hangeng. Ini terpaksa dilakukan Hangeng demi membangun kembali perusahaan appa-nya yang mulai rapuh karena saham yang mulai berkurang semenjak appa dan eomma-nya meninggal karena kecelakaan. Minchan sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini terjadi, karena dia sangat membenci sifat tunangannya itu, Kim Ki Bum. Sombongnya benar-benar tidak bisa ditoleran. Kibum sendiri juga sangat menentang pernikahan ini, tapi dia tidak mungkin membantah perintah appa-nya itu, bisa-bisa dia dipecat sebagai anak kalau membantah.
“Heh, tersenyumlah sedikit, jangan menampangkan wajah seperti itu pabo”. Bisik Kibum pada Minchan .
“Aku tidak bisa tersenyum, jangan memaksaku!”. Bentak MInchan.
“Hey Minchan..kalau kau menampakkan wajah seperti itu tamu-tamu akan curiga”.
“Masa bodo.. aku tidak peduli”. Ujar Minchan lalu memalingkan wajah.
Pesta pernikahan telah selasai dengan lancar. Kibum dan Minchan pulang ke rumah baru mereka. Awalnya MInchan menolak, dia ingin tinggal bersama kakaknya saja, tapi Hangeng memaksanya untuk ikut bersama Kibum. Minchan lagi-lagi tidak bisa mengelak. Terpaksa Minchan ikut Kibum.
Mobil yang ditumpangi Minchan berhenti disebuah rumah besar dan megah. Itulah rumahnya sekarang. Minchan dan Kibum turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Minchan cukup terpesona dengan rumah yang mewah dan megah ini.
“Aku akan tidur dikamar bawah, kau tidur kamar atas”. Kata Kibum lalu berlenggang pergi dengan gaya jalannya yang sombong. Minchan mencibir lalu pergi ke lantai dua.
Minchan menghempaskan dirinya yang masih dibalut gaun ke atas temapt tidur. Lalu matanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang-layang didepan matanya sekarang .
“Aku harus bagaimana, sepertinya sulit menjalani pernikahan ini”. Ujarnya berbisik.
Minchan bangun pagi-pagi sekali, menyiapkan sarapan untuk dirinya dan suaminya. Nasi goreng sudah tersedia diatas meja makan dengan rapi. Kibum keluar dari kamarnya lalu pergi kearah dapur, bukan untuk memakan sarapan yang dibuatkan Minchan, Kibum malah membuka kulkas lalu meneguk segelas susu, dan pergi keluar rumah untuk kekantor,tanpa melirik Minchan sedikit pun. Minchan menghela nafas lalu memakan nasi gorengnya sendirian di meja besar.
“Aku pulang..”. Teriak Kibum lalu menengok kanan kiri mencari sosok Minchan.
“Kemana gadis bodoh itu”. Ujarnya lalu mengangkat bahu seraya pergi kekamarnya. Perut Kibum mulai berbunyi , sejak tadi siang dia belum makan, tugas kantor menumpuk begitu banyak, tidak mungkin bisa ditinggal.
“Aku lapar~”. Gumamnya sembari memegang perutnya yang terus berbunyi. Akhirnya dia pergi kedapur mencari sesuatu yang bisa meredam bunyi perutnya itu. Kibum mengangkat tudung makanan yang ada di atas meja. Dia terkejut, melihat makanan yang sudah tersedia diatas meja. Dengan terpaksa dan menahan rasa malunya, dia akhirnya melahap seluruh makanan yang ada diatas meja itu. Setelah perutnya terisi , Kibum mencari sosok Minchan yang sama sekali tidak terdengar semenjak dia pulang. Dia pergi kelantai dua mencari Minchan dikamarnya. KreEeeKkKk..
Minchan sedang tertidur diatas ranjangnya dengan lelap. Kibum masuk tanpa izin kekamar MInchan lalu mendekatinya dan memperhatikan Minchan sesakma. “Dia manis juga ketika tidur”. Gumamnya memuji.
Ditutupinya Minchan dengan selimut seraya membelai rambut Minchan lembut lalu dia keluar dari kamar Minchan.
Dag Dig Dug…Kibum memegang dadanya yang berdetak. “Kenapa jantungku berdetak cepat seperti ini?”. Kibum menggeleng keras. Dan mencoba berfikir normal. Dia tidak mungkin menyukai Minchan .. tidak mungkin.
“Ah~ tidak mungkin, barus aja aku memujinya sekali, kenapa dadaku rasanya sesak sekali. Aduh, sepertinya aku kecapean”. Ujar Kibum sembari memukul-mukul pelan kepalanya.
Minchan terbangun dari tidurnya, dia melirik jam yang ada disebelah ranjangnya. Jam 00:11. Dia sedikit terkejut dengan selimut yang menutupi tubuhnya. “Perasaan tadi aku tidur gak pake selimut, kok aneh..”. Gumam Minchan menggaruk kepalanya dan menggeleng. “Tidak mungkin Kibum yang menyelimutiku, ah masa bodo lah”. Ujarnya seraya turun dari ranjangnya dan pergi menulusuri tangga menuju dapur. Ketika Minchan sampai di dapur, mata Minchan berhenti berkedip, menatap meja makan yang sudah berantakan dengan piring-piring kotor dan kosong.
“Dia memakan semuanya?”. Minchan sedikit menyunggingkan senyum, lalu membereskan meja makan dan mencuci semua piring. Setelah mencuci piring, Minchan bergegas menuju kamarnya lagi, tapi saat akan melangkahkan kakinya di tangga pertama, matanya tidak sengaja menatap pintu kamar Kibum yang terbuka sedikit. Minchan berfikir sebentar lalu melangkah menuju kamar Kibum. Dibukanya perlahan pintu kamar Kibum.
“Dia sudah tidur”. Bisikknya yang melihat Kibum tertidur dengan tangan yang masih memegang sebuah aritekel. Sepertinya itu tugas kantornya atau apalah, Minchan tidak mengerti. Di lepaskannya artikel itu dari tangan Kibum lalu meletakkannya perlahan tanpa suara dimeja disebelah tempat tidur Kibum. Lalu Minchan menyelimuti Kibum. Dan Minchan sedikit tersenyum melihat wajah Kibum yang sedang tertidur.”Lucu”. Bisikknya singkat.
Pagi ini seperti biasanya Minchan bangun pagi lalu memasak sarapan. Walau terkadang dan memang sering hasil masakannya itu tidak disentuh sama sekali oleh Kibum, Minchan tetap menjalankan tugasnya sebagai istri yang baik. Namun kali ini entah kenapa, Kibum keluar dari kamarnya lalu duduk di kursi meja makan dan melahap omlet yang dibuat Minchan. Sepertinya tukang sihir sudah datang tadi malam.
“Hey..Han Minchan..kenapa menatapku seperti itu hah?”. Sentak Kibum , Minchan terkejap kaget.
“Ah, euh, anio..anio..”. Ujarnya yang masih setengah tersadar.
“Aku bisa mati kelaparan kalau setiap pagi tidak makan”. Kata Kibum tanpa menatap Minchan yang masih bengong.
“Suruh siapa sombong, sok-sok tidak butuh makan”. Ujar Minchan lalu bertopang dagu menatap Kibum yang sedang melahap omletnya. Kibum mendelik dan menyunggingkan senyum evilnya.
“Aku kira masakanmu tidak enak, makannya aku tidak pernah melirik masakanmu”. Kata Kibum sombong.
“Cih~ masakanku tidak enak? Tapi lima piring lauk satu mangkuk nasi habis tadi malam, entah siapa yang telah menyikat semua makanan itu. Aku masih menyelidikinya”. Ujar Minchan menggoda. Kibum tersedak mendengar celotehan Minchan yang jelas-jelas menyidirnya. “Ya! Kau menyindir, Han Minchan?”. Hardiknya kesal.
“Aku tidak menyindir, aku hanya memberitau, mungkin saja kau tau siapa yang telah menghabiskan masakanku kemarin malam. Aku ingin berterima kasih karena aku tidak perlu membuang makanan lagi”. Kata Minchan .
“Aku sudah selesai…makan didepan-mu memang sedikit tidak enak, berisik. Aku pergi!”. Ujar Kibum lalu pergi meninggalkan meja makan dan pergi menuju kantor. Minchan masih tertawa karena dirinya berhasil membuat Kibum mati kutu. “Hahahaha..si sombong itu kena batunya. Hahahah…”. Tawa Minchan tidak dapat terhenti lagi.
Sendirian dirumah sebesar itu membuat Minchan merasa bosan. Tidak ada yang bisa dia ajak berbicara. Minchan hanya bolak-balik ruang tamu,ruang tengah,taman belakang lalu balik lagi keruang tamu dan seterusnya. Sama sekali tidak penting dan hanya membuang energi saja. “Ah sial, aku bosan!”. Sentak Minchan lalu melempar bantal dari kursi dan memukulnya seperti menonjok orang. Saking kelelahannya bolak-balik mengintari rumah, Minchan tertidur di atas sofa diruang tengah.
Hari berubah menjadi jingga, matahari hampir tenggelam. Minchan masih tertidur pulas dengan posisi yang berubah-rubah sejak tadi. Deru suara mobil Audy milik Kibum terdengar memasuki bagasi rumah. Tapi Minchan tidak juga terbangun . “Aku pulang..aku lapar..”. Teriak Kibum yang baru saja membuka pintu depan. Kibum berjalan menuju dapur tapi saat melewati sofa diruang tengah, Kibum terkejut dengan Minchan yang teridur di atas sofa dengan pulas. “Kenapa dia tidur di sofa seperti ini, ah~ masa bodo ,aku lapar”. Ujar Kibum lalu berjalan melewati Minchan. Kibum berjalan cepat menuju dapur , kerena rasa lapar ditubuhnya benar-benar serius.
Saat Kibum melihat meja makan yang rapi tanpa ada apapun diatasnya, Kibum menggertakkan giginya kesal.
“Dia tidak masak apapun? Malah enak-enakan tidur?! Aiisssshhh Minchan pabo”. Ujarnya lalu berjalan kearah ruang tengah dan menghampiri MInchan yang tertidur. “Hey..bangun…!!!”. Ucap Kibum sambil mengguncang-guncangkan tubuh Minchan. “Hey..hey..BANGUN!! PPALIWA”. Teriak Kibum karena Minchan tak kunjung bangun.
“Euh..euh..berisik sekali”. Ujar Minchan yang jiwanya masih sedikit tersangkut didunia mimpi.
“Ya! Han Minchan, kenapa kau tidak masak apapun hari ini hah?”. Bentak Kibum. Minchan mengerjapkan matanya.
“Ya ampun..aku ketiduran!!”. Sentak Minchan . Kibum berkacak pinggang disebelahnya, menahan marah.
Dengan terpaksa, hari ini Minchan dan Kibum makan diluar rumah. Ini pertama kalinya mereka makan hanya berdua diluar rumah. Kibum mendaratkan Audy-nya di restoran mewah. Restoran kalangan atas.
Seorang pelayan membungkuk 180° derajat ketika mereka baru saja memasuki restoran itu. Minchan sedikit mendelik takjub. Minchan dan Kibum digiring menuju meja kosong oleh seorang pelayan. Setelah mereka duduk, pelayan itu memberi buku menu. Kibum membolak balik sedikit buku menunya.
“Saya pesan jangjorim dan sujeonggwa”. Ujar Kibum
“Kalau saya..emm..makguksu dan saida saja”. Ucap Minchan sopan.
Pelayan itu pun pergi dan tak lupa membungkuk sebagai tanda hormat.
“Mianhae..aku tadi ketiduran”.Kata Minchan sembari tertunduk.
“Heu…kalau kau mengulanginya lagi, kau akan habis Han Minchan”.
Minchan melotot tidak percaya. ‘Jahat sekali orang ini’. Bisik Minchan didalam hati.
Kibum dan Minchan terdiam, tanpa ada pembicaraan sedikit pun yang terlontar dari bibir mereka sampai pesanan makanan mereka datang. “Silahkan..selamat makan”. Ujar pelayan itu ramah.
Mereka pun sibuk dengan makanan yang mereka pesan. Sesekali Minchan melirik kearah Kibum. Saat Kibum melihat kearah Minchan, kening Kibum berkerut, tangannya menjulur kearah wajah Minchan. Lalu tangannya berhenti di bibir Minchan, sontak MInchan membulatkan matanya. ‘apa yang akan dia lakukan?’. Kata Minchan didalam hati. Tangan Kibum mengusap ujung bibir Minchan lembut. “Kalau makan ditempat mewah seperti ini, jaga cara makanmu pabo”. Ujar Kibum . Ternyata disudut bibir Minchan, ada sedikit sayuran . Minchan membeku
sesaat tapi dia langsung tersadar. “Gomawo..mianhae”. Kata Minchan lalu menunduk meneruskan makannya.
Jangjori : daging sapi rebus dengan kedelai
Sujeonggwa : fruit punch terbuat dari madu
Makguksu : soba mie dengan sup ayam
Saida : Limun
Siang ini begitu terik, global warming sudah bisa terasa sekarang. Minchan masih sibuk memencet remote tivi, mencari saluran yang enak untuk ditonton. Tiba-tiba ponselnya bordering. Kibum menelponnya ?
“Yeoboseyo..wae?”.
“Aku mau minta tolong padamu”.
“Apa?”.
“Di kamar ku, didekat meja tivi, ada file warna coklat, bisa kau tolong bawa kemari, aku lupa membawanya”.
“Pabo..kenapa bisa sampai lupa..ne..ne..aku akan mengantarnya”.
“Ok, gomawo”. Klikk.. terputus.
Minchan sedikit menggerutu, lalu masuk ke kamar Kibum dan mengambil file coklat yang ada didekat meja tivi. Setelah itu dia pergi menggunakan taksi menuju kantor Kibum yang lumayan jauh.
Minchan terjebak macet, sudah sepuluh menit dia terjebak. Minchan jadi gelisah sendiri.
DdddrrRRRrrtttTt poselnya bergetar.
From : si pabo kibum :X
20/03/2010 , 13:05:01
Hey.. lambat sekali..kau tidak sampai-sampai. PPALIWA!
Minchan tertawa kecil membaca pesan Kibum. Ini pesan pertama yang Kibum kirim kepadanya.
To : si pabo kibum :X
20/03/2010 , 13:07:10
Heh..Kim Ki Bum .. ini sedang macet total. Memang aku pembantumu apa ! tidak usah berteriak !!
Minchan menutup flip ponselnya lalu menatap keluar jendela taksi. Senyum terhias di wajah Minchan.
Sekitar setengah jam lebih Minchan akhirnya sampai di kantor Kibum. Dia lalu masuk dan bertanya pada satpam dimana ruangan Kibum berada. “Ada dilantai tiga, belok kiri, pintu coklat”.Ujar satpam dengan name tek, Shindong.
Minchan lalu berterima kasih dan sedikit membungkuk. Dia langsung bergegas menuju lift dan memencet tombol 3.
Tinggg.. pintu lift terbuka.
Minchan keluar dari lift lalu berbelok ke arah kiri dan terpampanglah pintu coklat yang bertuliskan Direktur.
Minchan berjalan perlahan, dan mengintip sedikit di jendela pintu, memastikan itu benar-benar ruangan Kibum.
Mata Minchan membulat, shock. File yang digengamnya terjatuh. Didalam ruangan, Kibum…sedang..sedang..
Minchan berlari meninggalkan kantor itu dan punggung tangannya menyeka sesuatu dimatanya. Air mata.
Satpam yang ber-name tek Shindong itu, terlihat bingung dengan tingkah Minchan yang berlari sembari menangis.
“Wanita aneh, tadi tesenyum seperti orang gila, sekarang nangis seperti anak kecil”. Shindong menggeleng.
@Pov Kibum
Dia kembali lagi..Min Ra.. yang dulu pernah mengisi hariku. Tiba-tiba saja dia datang ke kantorku. Dia beralasan ingin melepas rindu denganku. Cih~ aku sudah membencinya sekarang. Kami mengobrol ringan didalam ruanganku.
Namun saat ditengah obralan kami, Min Ra menyatakan sesuatu yang mebuatku kaget.
“Kibum-ah, aku masih mencintaimu. Aku ingin bersama denganmu lagi”. Katanya lalu memegang tanganku.
Aku segera melepas tangannya, menepisnya lebih tepatnya. Aku jijik dengannya sekarang.
“Aku sudah punya istri, jadi kita tidak mungkin bisa bersama lagi”. Kataku dengan tatapan sinis. Itu keahlianku.
“Ha ? Kau sudah punya istri? Sejak kapan? Aku tidak peduli, aku bersedia diduakan”. Ujarnya memohon padaku.
“Mian..aku banyak kerjaan, bisa kau pergi saja, kalau tidak ada lagi hal penting yang akan kau sampaikan”. Kataku. Dia sepertinya kesal. Wajahnya menenguk. Aku perhatikan hidungnya, cih~ dia operasi plastik lagi?
“Kibum-ah..kumohon..kembalilah”. Aku sudah muak dengannya, aku menyeretnya keluar namun dia malah menarik dasiku,fuhh..hampir saja bibirku menempel dengan bibirnya. Aku lepaskan tangannya dan mendorongnya pergi. “Silahkan pergi nona gila. Jangan kembali lagi !”. Ujarku mengusir, dia menghentakkan kakinya dan pergi.
Ku tutup pintu ruanganku dengan kasar. “Shiitt..hampir saja, dasar wanita gila”. Kataku dengan gerutu.
Aku teringat Minchan, kenapa dia belum kemari. Aduh..benar-benar seperti kura-kura. Lambat.
Tok..tok..tok.. itu pasti Minchan.
“Masuk”. Aku pura-pura sedang menulis dengan serius. Aku hampir ingin melontarkan kata-kata hujatan pada Minchan, tapi saat aku mendongkakkan kepalaku, yang datang malah Shindong, dengan file coklat yang aku suruh antar pada Minchan. “Kenapa kau yang membawa file itu?”. Tanya ku.
“Tadi saya nemu ini didepan ruangan tuan. Saya kira tuan menjatuhkannya”.
“Ah, ne..ne..gomawo”. Kataku lalu menyuruh Shindong pergi. Loh..kenapa filenya ada didepan ruanganku?
Aku ambil ponselku dan menelpon Minchan. Aaaiiissshhh gak diangkat. Ah, kirim pesan saja, pasti dibalas.
To : geobugi Han Minchan.
20/03/2010 , 14:13:06
Han Minchan ! Kenapa filenya kau simpan di depan ruanganku hah? Kalau hilang bagaimana? Pabo >.<
Aku sedikit tersenyum membaca pesanku sendiri. Kenapa mendadak aku jadi manis begini dengannya?
Ah~ hanya perasaanku, aku kan memang manis. *pede gila lo bum*
Sudah sepuluh menit, sama sekali belum ada balasan. Aduh, kemana sih orang itu. Aihh~ kenapa aku menunggu balasan yang tidak penting seperti ini. Sudah ah..aku masih banyak pekerjaan. Dasar Minchan! kemana bocah itu?
End Pov
@Pov Minchan
Aaarrgghhh..ada apa denganku..ada apa denganku..masa aku marah hanya karena dia mencium wanita lain.
Dia berhak seperti itu, dia sama sekali tidak ada persaaan apa-apa denganku. Lagi pula, aku kan tidak menyukainya, aku benci dengannya. Kenapa harus lari dan nangis segala tadi. Memalukan!
Aaarrrggghhhh…pabo..pabo.. sekarang file itu aku jatuhkan begitu saja lagi didepan pintu ruangan Kibum. Aduh kalau hilang bagaimana, gawat, aku bisa-bisa di tinju bolak-balik sama Kibum. Minchan..kau terkadang bodoh!
DddrrrttttTtt..ponselku bergetar.
From : si pabo kibum :X
20/03/2010 , 14:13:06
Han Minchan ! Kenapa filenya kau simpan di depan ruanganku hah? Kalau hilang bagaimana? Pabo >.<
Fiuuhh..untung tidak hilang file-nya. Aku lega aku lega.
To : si pabo kibum :X
20/03/2010 , 14:16:09
Aku tadi kebelet pipis jadi buru-buru. Mianhae..tapi yang terpenting file itu selamat! Selesai kan?!
SEND PENDING TO : si pabo kibum :X
Lah..kok pending..wah jangan-jangan pulsanya habis. Hua..benar..pulsaku habis tidak bersisa. Ya sudahlah ya, ga penting-penting banget.
End Pov
Malam datang..malam datang..bertabur bintang..bercahaya bulan.. malam yang indah, sangat indah malah.
Minchan sedang sibuk di dapur dengan sayur-sayur dihadapannya. “Aduh..sudah jam berapa ini?”. Minchan melirik jam yang ada di dapur. 19:08 . “Kenapa belum pulang juga?”. Ujar Minchan lalu sedikit menenguk wajah dan melanjutkan memasak dan memotong-motong sayuran. Tidak kurang dari sejam, masakan sudah jadi dengan rapi di meja makan. “Selesai juga”. Ucap MInchan lalu tersenyum kearah makanan yang berjejer di meja makan.
Minchan melirik (lagi) jam digital di dapur, 20:01. “Ya ampun kemana si bodoh Kibum itu”. Kata MInchan kesal.
Minchan menunggu Kibum di meja makan, makanan belum tersentuh sama sekali. Soup sudah mulai dingin. Minchan tetap menunggu Kibum. Jam sudah menunjukkan pukul 22:16. Kibum tidak kunjung datang. Minchan mulai mengantuk, mata-nya sudah tidak bisa ikut bekerja sama lagi. Dan akhirnya dia tertidur diatas meja makan.
Jam 23:10, suara khas mobil Kibum memasuki bagasi sudah terdengar. Kibum keluar dari mobilnya lalu masuk ke dalam rumah dengan pakaian yang sudah berantakan, Kibum lembur, pekerjaan menumpuk. Kibum terheran melihat lampu-lampu yang masih menyala. Saat Kibum berjalan kearah dapur, sedikit terlonjak melihat Minchan tertidur diatas meja makan , di hadapan gadis itu, sudah ada beberapa piring dan mangkuk yang terisi sayur dan lauk. Semua makanan itu sudah dingin. Kibum tersenyum lebar menatap Minchan yang tertidur.
“Kau menungguku? Pabo..”. Ujar Kibum pelan. Dia mengangkat tubuh MInchan kearah kamarnya, dan menidurkan gadis itu diatas kasurnya, menyelimutinya dan membelai rambutnya. Minchan menggeliat. Kibum buru-buru keluar.
Kibum berjalan menuju dapur lalu menarik kursi meja makan dan memakan semua makanan yang ada dihadapannya dengan lahap. “Enak..walaupun sudah dingin”. Katanya lalu menjepit danging bulgoginya.
Cahaya matahari menerpa wajah MInchan. Minchan menyipitkan matanya, lalu dia terbangun dan terbelalak kaget.
“Ha? Kenapa aku ada disini? Huaa..jangan-jangan..”. Minchan menyilangkan tangannya didadanya. Dia buru-buru turun dari ranjang Kibum dan keluar mencari Kibum untuk membentaknya habis-habisan. Tapi saat Minchan melewati ruang tengah, Kibum sedang tertidur di sofa dengan tivi yang masih menyala. “Kenapa dia tidur disitu?”.
Minchan menghampiri Kibum yang tertidur, lalu mematikan tivi. “Hey..bangun..sudah pagi!”. Ujar Minchan mengguncang-gunangkan badan Kibum. “Ya..ya..Kibum..bangun..kau tidak pergi kekantor? Bangun..”. Minchan menarik-narik baju Kibum “..aaaa”. Tangan Minchan tertarik Kibum yang hendak membalikkan badan mengganti posisi tidur. Posisi mereka saat ini seperti, Minchan-memeluk-Kibum-dari belakang. Kibum terbangun dan tersadar, tapi dia pura-pura masih tertidur dan menikmati pelukan ‘tidak sengaja’ Minchan padanya. Minchan buru-buru berdiri lagi dan memasng wajah biasa. “Hey..bangun!”. Kata Minchan dengan wajah yang masih memerah.
Kibum membalik badan dan menyipitakan matanya. “Hahahhaa..mukamu merah!”. Tawa Kibum lepas.
Minchan menunduk malu lalu pergi meninggalkan Kibum yang masih guling-guling tertawa.
Kibum sudah pergi kekantor tanpa sarapan, karena Minchan mengunci diri dikamarnya. Malu.
“Aiiissshhh kenapa aku sebodoh tadi..bodoh..bodoh..aku malu”. Ujar Minchan memukul-mukul kepalanya sendiri.
Saat suara mobil Kibum terdengar sudah keluar dari bagasi, Minchan keluar kamar. “Aku sendiri lagi !”. Gerutunya.
Minchan berfikir mau melakukan apa sekarang. “Aha..aku ke taman saja ah”. Ide Minchan cukup cemerlang.
Minchan bergegas kekamarnya berganti pakaian, lalu pergi ke taman dengan taksi.
Minchan duduk disebuah bangku taman seorang diri. Banyak anak-anak kecil berlarian di rerumputan dengan gembira. Minchan tersenyum melihat anak-anak itu. “Aku juga ingin punya anak”. Ujar Minchan tidak sadar.
Saat sedang asyik melihat tingkah anka-anak itu, sesorang dari belakang menepuk bahunya. Minchan terlonjak kaget. “Hay Han Minchan..kita bertemu kembali”. Ujar namja itu lalu ikut duduk disebelah Minchan.
“Heu..Minho..sedang apa kau disini, bukannya kau sedang di..Jepang?”.
“Aku kembali..ingin bertemu denganmu”.
“Ha? Ingin bertemu denganku? Kenapa?”.
“Aku ingin menepati janjiku”.
“Janji?”.
“Akan kembali ketika aku sudah tidak lagi bersama Hyena. Kau ingat?”.
“A,ne..aku kira kau hanya bercanda, bukannya kau mencintainya”.
“Dulu..sekarang sudah tidak”.
“Wae..?”.
“Aku memikirkanmu terus”.
“Ha? Jinca?”.
“Ne..saranghaeyo Han Minchan, sekarang aku sudah terlepas dari Hyena, kembalilah”.
“Mian..mianhae..mianhae Minho..aku..aku..”.
“Kau mencintaiku juga kan?”.
“Mianhae..aku..aku..aku sudah menikah Minho, mainhae”.
“Sudah ku duga, aku kan telat. Minchan, kau akan selalu dihatiku”.
“Minahae..maianhae..aku tidak bilang-bilang padamu saat aku menikah. Ini mendadak”.
“Gwenchana..aku sudah lega sekarang”. Minho bersender dibangku lalu menatap langit biru diatas
“Kau tidak marah denganku bukan?”. Minho menengok ke arah MInchan yang ada disampingya, dia lalu mengacak-ngacak rambut Minchan lembut dan tertawa.”Buat apa aku marah. Anio..aku tidak marah”.
“A, Kau memang Minho yang dulu. Tidak berubah sama sekali”. Ujar Minchan. Minho lalu menatap Mata MInchan dalam. Minchan membalas tatapan itu dengan heran. Minho mendekati wajah Minchan, perlahan demi perlahan.
Minchan menutup matanya merasa sudah pasrah. Minho lalu mencium kening MInchan lama.
“Gomawo. Aku harus pergi”. Ujar Minho cepat. Minchan tersontak kaget.
“Kau memang Minho-ku yang dulu. Mianhae..aku membuatmu kecewa”.
Ujar Minchan lalu tersenyum melihat kearah Minho yang pergi.
“ Tuan..kau tidak apa-apa? Kenapa melamun seperti itu?”. Ujar Jonghyun, asisten Kibum. Mereka sedang terjebak macet sekarang. Mereka terjebak macet didekat sebuah taman kota. Saat Kibum melihat kearah luar jendela. Dia melihat Minchan sedang duduk dibangku taman dengan seorang namja disampingnya. Namja itu lalu mencium kening MInchan. Kibum geram dan marah. “Tuan..tuan..kenapa anda diam saja?”. Kata Jonghyun yang sedikit khawatir karena Kibum terus terdiam sembari menatap kearah kuar jendela.
“Jonghyun..aku akan pulang sekarang. Aku tidak enak badan”. Ujar Kibum.
“Tapi tuan, anda ada rapat penting”. Sergah Jonghyun.
“Batalkan, atau tidak kau wakilkan saja. Aku pusing”. Jawab Kibum. “Aku turun disini saja”.
“Tuan..ini kan mobil tuan, biar saya saja yang turun”.
“Anio..kau harus pergi ke rapat itu, bawa saja dulu mobilku. Aku naik taksi saja. Aku benar-benar pusing”.
@Pov Minchan
Aku masih sedikit tidak percaya dengan kedatangan Minho yang benar-benar singkat. Dia kembali, menyatakan perasaannya denganku. Dulu aku sangat mencintainya, tapi entah mengapa saat tadi dia berkata ‘saranghae’ hatiku sama sekali tidak bergetar atau tersentak. Biasa saja. Ada apa denganku? Kenapa disaat sperti ini malah memikirkan si Kibum bodoh. Aduh..aku sepertinya mulai gila. Anio..anio..sudah ah, aku pulang saja, bisa tambah gila aku kalau disini.
End Pov
Kibum masuk kedalam rumah lalu membanting pintu dengan keras. Dia mengacak-nagacak rambutnya sendiri. Kibum seperti orang gila. “Aaarrggghh..ada apa denganku”. Teriak Kibum. Kibum duduk di sofa ruang tengah dengan wajah penuh amarah. “Siapa lelaki itu? Shitt”. Kibum bergerutu tidak jelas.
Kreeekkk.. pintu depan dibuka. Minchan datang.
“Kibum? Sejak kapan kau ada disini? Kau tidak kerja?”. Ujar Minchan yang kaget melihat Kibum duduk disofa.
“Siapa dia?”. Tanya Kibum dengan tatapan marah.
“Siapa apanya?”.
“Lelaki tadi..ditaman..mencium keningmu”.
“A, kau..tau dari mana?”.
“Jawab pertanyaanku, siapa dia?”.
“Bukan siapa-siapa”.
“Ya! HAN MINCHAN JANGAN BERBOHONG!!”.
“Kenap berteriak seperti itu? Memang apa urusanmu ha?”.
“Aku suami-mu!!”.
“Bukan urusanmu! Kenapa kau marah-marah begitu?”.
“Aku suami-mu, kau menemui lelaki lain dibelakangku, kau sudah berselingkuh PABO!”.
“AKU SELINGKUH? SEJAK KAPAN KAU PEDULI DENGANKU HA?”.
“SIAPA LELAKI ITU, JAWAB AKU”.
“Dia cinta pertamaku , kenapa memang hah? Jangan asal ngomong ya Kim Ki Bum, kau sendiri berduan dengan wanita lain dibelakangku, bahkan berciuman! Jadi sama saja bukan, kau juga BERSELINGKUH “.
“KAPAN? AKU TIDAK PERNAH BERCIUMAN DENGAN WANITA LAIN !”.
“KEMARIN..SAAT KAU MENYURUHKU MEMBAWA FILE-MU YANG TERTINGGAL, MEMANG AKU TIDAK TAU!”.
“Aku tidak berciuman dengannya, aku hampir berciuman…dia menarik dasiku !”.
“Aku tidak percaya!”, Kibum menatap MInchan kesal. Dia menarik MInchan lalu mencium bibirnya kasar.
“Lepaskan!”. Minchan mendorong Kibum hingga terjatuh.
“Dengarkan aku Han MInchan, aku suami-mu jadi aku berhak melarangmu jalan dengan lelaki lain selain aku”.
“Kau dari awal tidak mencintaiku bukan, kau tidak peduli dengan kehadiranku. Kenapa melarangku seenaknya ha?”.
“AKU MENCINTAIMU..AKU SANGAT MENCINTAIMU!”.
Minchan terkekeh. “Heh, jangan bercanda, dan jangan membuat lelucon!”.
“AKU SERIUS !”. Teriak Kubum.
Minchan terdiam menatap mata Kibum dalam dengan wajah yang masih bimbang. “Kau berbohong kan?”. Ujarnya.
“Untuk apa aku berbohong bodoh!”. Ujar Kibum lalu memeluk MInchan.“Saranghae..jeongmal saranghae Minchan”
Bibir Minchan bergetar. “Na..do..saranghae..mianhae..mianhae..Kibum-ah”. Ujar Minchan lalu menangis .
AFTER STORY KIBUM-MINCHAN
“Ah..Kibum pabo..jangan memasukkan sesuatu dengan asal”.
“Memang begitu resepnya”.
“Anio.. tidak ada tulisan merica disini, tuh kan, pasti rasanya aneh”.
“Pasti enak, awas ya kalau enak”.
“Coba saja sendiri”.
“Sluurrpp..tuhkan enak”.
“Mana..biar kucoba”.
“Chu~”.
“Ya.. Kibum-ah kenapa kau mencium pipiku, tidak sopan”.
“Aku kan suamimu”.
“Cih~ sudah sana, ini makanan jadi- gak jadi-jadi tau gak, pergi!”.
“Ya sudah”.
Kibum melenggang pergi meninggalkan Minchan yang masih sibuk dengan masakannya.
“Huekk..apanya yang enak, rasanya tambah aneh. Ih~ dasar Kibum pabo !”.
“Siapa yang pabo ha?”.
“Kenapa balik lagi? Pergi!”.
“Aku ingin melihatmu memasak, masa ga boleh?”.
“Kau penghancur semuanya”.
“Apanya yang hancur?”.
“Tuh..siapa yang mau makan soup penuh dengan merica seperti itu ha?”.
“Kita”.
“Mwo? Kita? Kau saja yang makan”.
“Anio..kita harus makan berdua!”.
“Shiruh..kau saja!”.
“Ya..ya..Han Minchan..jangan pergi”.
“Aku mau mengurusi si kembar”.
“Lupakan mereka”.
“Ya..itu anak kita masa mau dilupakan”.
“Aku ingin berdua denganmu saja”.
“Anio..kau selalu menggangguku!”.
“Mianhae..mianhae..ayo kita masak lagi”.
“Tidak mau..kau saja yang masak”.
“Jangan marah..mianhae..aku tidak akan menggangu lagi. Lagi pula anak-anakmu sedang tertidur”.
“Anak-anakmu? Anakmu juga pabo!”.
“Ne..ne..anak-anak kita”.
“Ya sudah kau jauh-jauh..jangan dekat –dekat, nanti konsentrasi memasakku buyar”.
“Ya tuhan,,kau jahat sekali”.
“Shuuttt..jangan berisik. Kau diam saja”.
Minchan akhirnya memasak dengan ditemani Kibum yang suka bikin kacau segalanya. Tapi MInchan tetap senang, karena akhirnya mereka mau mengakui perasaan masing-masing. Apalagi sekarang sudah ada anak mereka yang kembar. Satu namja , satu yeoja. Mereka sangat mirip dengan MInchan dan Kibum.
Hallo..bertemu kembali dengan saya author manis istri dari kim jong woon *ga penting!! *di lempar aqua botol*
Seru gak ?! Ini couple yang ‘katanya’ (kata si Minchan), suka dapet rating tinggi dalam setiap FF. Iya tah? *ditendang*
Ya sudahlah ya .. ga penting.. ini PG-13 sedikit bumbu PG-15 *tepuk tangan, akhirnya author bisa bikin PG*.
Okeh cukup sekian saya berbicara panjang lebar . Semoga bisa menghibur *reader :udah deuh cepetan , BERISIK!*
Ya udah karena saya diusir lebih baik saya pergi secepatnya dari hadapan anda semua. Bye..
^^v annyeong~ ketemu lagi di FF selanjutnya.
[5th FF] Hyung mianhae (part 2-end)
Oktober 8, 2010
FanFiction K-pop Kyu Hyun, Super Junior 3 Komentar
Hyung .. Mianhae .. (part 2) end
Main cast :
– Cho Kyu Hyun
– Choi Siwon
– Park Hee Ra
“Kyu~ kau baik-baik saja? Kakimu tidak apa-apa bukan? Tanganmu patah atau tidak?”. Ujar Siwon seraya menatap namdongsaeng-nya itu dengan wajah yang khawatir. Kyu menggeleng. “Aku baik-baik saja”.
“Apanya yang baik-baik saja , lihat badanmu penuh luka seperti ini , kau masih bisa bilang baik-baik saja? Ck~”.
“Aku memang baik-baik saja, aku hanya terluka sedikit. Tidak perlu mengkhawatirkanku”. Gumam Kyu lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut dan membalikkan badan melawan arah Siwon. Merasa di abaikan, Siwon mendesah panjang kemudian duduk di kursi disamping tempat tidur Kyu.
“Kyu~ kau ini kenapa? Kenapa selalu menjauhiku?”.
“….”.
“Kyu~ jangan seperti ini terus. Apa salahku padamu ?”.
“….”. Tidak ada jawaban sama sekali yang terlontar dari bibir Kyu yang pucat. Siwon menatap punggung Kyu nanar.
“Baiklah…kau sama sekali tidak mau menjawab pertanyaanku? Maafkan aku kalau aku punya salah padamu Kyu. Aku sangat mencintaimu lebih dari apapun, ingat itu Kyu. Heuhhh~ besok aku akan pergi ke Paris, aku harap kau bisa datang mengiringi kepergianku di bandara. Kau mau ?”. Kyu tetap terdiam tanpa sedikitpun mengucapkan sesuatu. Tapi Siwon tetap tersenyum. “Aku tau , kau pasti akan datang bukan? Aku akan menunggumu”. Ujar Siwon lalu berdiri dan pergi keluar ruangan.
Malam mulai datang dengan sinar bulan yang terpancar indah diatas hamparan langit hitam kelam.
“HeeRa..kau pasti lelah?! Pulanglah, kau harus istirahat”.
“Aniyo..aku mau disini menunggumu”.
“HeeRa,,besok kan kamu sekolah. Ayo pulang”.
“Kau mengusirku?”.
“Ani..ani..bukan itu maksudku, lihat wajahmu sudah berantakan seperti itu, kau butuh istirahat”.
“Kalau aku pulang siapa yang akan menunggumu disini?”.
“Aku tidak apa-apa kok ditinggal sendiri , aku sudah terbiasa sendirian”.
“Kyu~ jangan berkata seperti itu lagi , kau tidak sendirian”.
“Hanya kau yang peduli terhadapku…saat kau tidak ada di sisiku , aku sendirian”.
“Kau masih punya appa,eomma,dan Siwon oppa. Jadi kau tidak sendirian saat aku tidak ada”.
“Mereka tidak peduli padaku , lihat .. apa appa-ku menjengukku saat aku hampir mati sekarang? Tidak bukan? Apa eomma-ku menangis saat mengetahui aku kecelakaan seperti ini? Tidak juga bukan ? Siwon hyung ? dia memang menjengukku tadi siang , tapi ..”.
“Tapi apa ? Dia sudah baik padamu Kyu, kenapa kau malah memusuhinya? Dengarkan aku Kyu .. aku tau kau membenci Siwon oppa, karena dia lebih unggul dari padamu , betulkan? Karena dia selalu di banggakan oleh appa dan eomma-mu ketimbang kau bukan? Kyu..itu tidak baik dan tidak wajar, kau tidak boleh menjauhi hyung-mu sendiri karena alasan itu..”.
“Kau membelanya? Kau lebih memilih dia dari pada aku?”.
“Bukan begitu maksudku Kyu..aku hanya memberi saran padamu, dan kau jangan selalu merasa bahwa dirimu bodoh atau semacamnya. Kau pintar Kyu , kau hebat, lebih hebat dari pada Siwon oppa , kau hanya belum dapat me-manage semua kemampuan yang ada pada dirimu, kau belum percaya diri bahwa sebenarnya kamu bisa lebih dari pada hyung-mu. Kyu..percayalah padaku, rubahlah semua sifat burukmu itu. Aku tau kau pasti bisa bangkit, dan aku percaya kau pasti bisa.”.
“HeeRa..gomawo”.
“Ne..cheonmaneyo..nado gomawo buat kau mau mendengarkanku Kyu~”.
“Sarangahae..jeongmal saranghaeyo HeeRa”.
“Nado Kyu-ah .. sudah malam , tidurlah”.
“Kau juga .. pulanglah HeeRa , kau harus sekolah besok”.
“Ne..baiklah kalau kau memaksa. Aku akan kembali nanti pagi membawa sarapan untukmu, mau kan?”.
“Tentu..aku akan menunggmu , annyeong , hati-hati di jalan”.
“Annyeong..tidurlah Kyu~”.
“Emm..”.
@pov Kyu
Besok Siwon Hyung akan pergi ke Paris. Heuh~ aku bingung, aku harus datang kebandara atau tidak. Aku jadi ingin minta maaf padanya setelah HeeRa berkata panjang lebar tadi. Apa yang dikatakan HeeRa ada benarnya juga. Tapi..aku malu untuk meminta maaf apa lagi bertemu dengan Siwon hyung. Aku memang sudah keterlaluan padanya, aku menyesal, aku menyesal. Aku datang atau tidak ya? Ya Tuhan beri aku petunjuk.
@pov author
Mentari bersinar terang menyinari bumi yang mulai menua. Cahaya pagi ini begitu sejuk, membuat sebagian orang merasakan semangat yang lebih untuk menghadapi tantangan pada hari ini. Begitu pun Kyu yang tengah termenung diatas tempat tidur rumah sakit dengan beberapa balutan kain di sebagian tubuhnya.
“Selamat pagi Kyu..”. Teriak HeeRa dengan senyum yang menghiasi wajah putihnya yang bersinar. Kyu menoleh , seraya tersenyum lebar. “Selamat pagi HeeRa..”. Ucap Kyu tanpa mengubah posisi duduknya.
“Apa kau lapar? Sudah menungguku lama ya?”.Ujar HeeRa seraya meletakkan kotak makan di meja .
“Ne..aku sudah kelaparan menunggumu, kau sangat lambat”.
“Hey Cho KyuHyun , kau berani-beraninya berkata begitu padaku..ck..aku pulang saja”.
“Ya..ya..ya..Park HeeRa , aku sudah hampir mati kelaparan menunggu sarapan , kau malah mau pergi? Tega sekali kau ini “. Ujar Kyu lalu memasang wajah aegyo-nya yang membuat HeeRa membeku sesaat. (aegyo: imut dsb)
“Jangan menampakkan wajah seperti itu didepanku , menjijikan”. Ujarnya pura-pura kesal.
“Ya..Park HeeRa , bukankah dulu kau pernah bilang padaku , kalau kau lebih suka bila aku menampakkan wajah aegyo-ku”. Wajah HeeRa memerah, menahan malu yang luar biasa. Kyu melihat perubahan wajah HeeRa, dan tawanya meledak. “Hahaha..wajahmu memerah , terlihat lebih manis”. Kata Kyu disela tawanya.
“Aiiissshhh Kyu~ berhenti membuatku malu..makanlah sarapanmu aku harus pergi kesekolah dulu, nanti siang aku akan kembali. Annyeong”. Ucap HeeRa lalu melambaikan tangan dan pergi meninggalkan Kyu sendiri.
“Annyeong..gomawo”. Teriak Kyu sebelum HeeRa benar-benar menghilang dari balik pintu. Lalu Kyu melirik kearah kotak makan di meja dekat tempat tidurnya. Dia meraih kotak makan itu dan membukanya perlahan.
“Huaaa..dia benar-benar keterlaluan , dia kan tau aku tidak suka sayur , masih berani-beraninya meletakkan brokoli diatas nasiku. Dia benar-benar mengerjaiku. Ya..Park HeeRa lihat saja pembalasanku”. Ujar Kyu lalu memasang senyum evilnya.
@pov siwon
Hari ini adalah jadwal keberangkatanku ke Paris. Sungguh, bila aku di beri satu permintaan oleh Tuhan , yang akan terucap di bibirku saat ini adalah, kebebasan. Aku tidak mau pergi ke sana, tidak mau. Aku ingin disini, aku masih khawatir dengan keadaan Kyu. Tapi untunglah ada HeeRa yang selalu berada disampingnya, aku masih bisa bernafas lega. Kyu..apa kau akan datang ke bandara nanti ? Aku harap kau akan datang, tapi dengan keadaanmu seperti itu , pasti kau tidak akan datang bukan? Aku tidak akan memaksa, yang penting kau cepat pulih dan bisa tersenyum kembali , walaupun senyummu itu tidak akan kau tampakkan didepanku.
Drrrtttt…ddddrrrrttttt…
“Yeoboseyo”.
“Siwon , kapan kau akan berangkat?”.
“Ne appa , sebentar lagi ,pesawatnya akan mendarat di Paris sekitar jam 2 siang”.
“Appa tunggu , nanti kalau sudah mendarat telpon appa , nanti appa jemput, arraseo?”.
“Ne arraseo appa, eomma ada bersama appa?”.
“Ani , eomma sedang ada di Amerika, kau tau bukan beberapa hari ini eomma-mu sibuk dengan acara arisannya disana. Bagaimana keadaan Kyu? Apa dia sudah pulih?”.
“Belum appa, tapi pasti sebentar lagi dia akan sembuh, dia lelaki yang kuat”.
“Appa mengerti..appa khawatir dengannya , tapi pekerjaan di Paris ini tidak bisa di tinggal”.
“Ne..aku juga mengkhawatirkannya, sudah dulu ya appa, aku harus mengemasi barang. Annyeong”.
Klikkk…
@Pov Author.
“Datang…tidak,,datang..tidak..datang..tidak..datang..tidak..aaarrrggghh aku tidak tau!!”. Kyu menenggelamkan kepalanya di bantal dan berteriak dibawah bantal. Kyu tengah bingung sekarang, harus datang atau tidak kebandara seperti yang Siwon katakan tempo hari. Rasa malunya terus mendukungnya untuk tidak datang, namun rasa bersalahnya tak jua berhenti membisikkanya untuk datang dan mengakui kesalahannya.
“Aaarrgghhh..aku tidak tau, masa bodoh dengan Siwon hyung, aku yakin dia juga tidak berharap-harap sekali aku datang, dia tidak terlalu membutuhkanku”. Ujarnya yakin.
Namun apa yang Kyu katakan tadi sungguh salah dengan perasaan Siwon yang sebenarnya. Siwon ingin sekali bila adik satu-satunya itu datang dan melambaikan tangan perpisahan untuknya. Tapi itu pasti mustahil, pikir Siwon.
Siwon sudah beberapa kali melirik jam tangannya, berharap ada kesempatan untuk Kyu datang dan mengiringinya pergi. Tapi waktu sudah menunjukkan pukul 11.00, pesawat tujuan Paris sudah bertengger gagah di lapangan penerbangan, seakan menunggu Siwon untuk masuk. “Ayolah Kyu..datang..datang..”.
“PESAWAT SJ-13 DENGAN NOMOR PENERBANGAN 1315B MENUJU PARIS AKAN SEGERA BERANGKAT..DIMOHON UNTUK PARA PENUMPANG SEGERA MEMASUKI PESAWAT, TERIMA KASIH..”
Pemberitahuan bahwa pesawat akan berangkat membuat Siwon resah. Dia sudah tidak bisa menunggu Kyu lebih lama lagi. Dia dengan berat hati menarik kopernya menuju gerbang pemberangkatan luar negeri dengan wajah kecewa. “Kyu..kenapa tidak datang?”. Gumamnya lirih.
Kyu mendongkakkan wajahnya ke arah luar jendela ketika sebuah pesawat sedang terbang diantara awan putih.
“Hyung..selamat tinggal ,mian aku tidak bisa datang, hatiku masih bergejolak untuk tidak bertemu denganmu”.
Tok..tokk..tokk.. pintu kamar Kyu di ketuk pelan.
“Masuk..”.
“Kyu~”. HeeRa datang tepat disaat Kyu sedang bersedih dan butuh seseorang disampingnya.
“Heuhh”. Kyu memalingkan wajahnya ketika dia tau kalau yang mengetuk ternyata HeeRa. HeeRa menatap Kyu bingung. “Kyu..kau marah ya?”. Ujar HeeRa menebak.
“Molla..”.
“Kyu..”.
“…”.
“Kyu..”.
“…”.
“Ya..Cho KyuHyun..kau kenapa?”.
“Coba kau pikir , apa kesalahanmu”.
“Aaaa..araseo..araseo..hahahaha..aku tau ,aku tau. Karena sarapan tadi pagi ya?”.
“Molla..”.
“Ya Tuhan , Kyu. Kau marah karena aku menaruh dua brokoli saja diatas nasi? Karena itu?”.
“…”.
“Hahaha..Kyu..sayur sehat untuk tubumu yang sedang lemah seperti ini. Ayolah , jangan marah lagi..”.
“Aku tidak akan memaafkanmu. Kecuali..”
“Kecuali apa?”.
“Panggil aku jagi..”.
“Ha? Anio..anio..aku tidak mau..sama sekali tidak mau”.
“Oh baiklah , bagaimana kalo yeobo saja?”.
“Ya..Cho KyuHyun, itu semakin menjijikan”.
“Kau kan sekarang sudah jadi kekasihku Park HeeRa, kenapa harus jijik dengan memanggilku ‘jagi’ atau ‘yeobo’?”.
“Ani..ani..aku tidak mau Kyu..”.
“Cihh~ kau tidak mencintaiku ya ?”.
“Bukan..bukan maksudku..”
“Sekarang aku sudah tau semuanya..”.
“Ya..Cho KyuHyun, kau…ba-baiklah..aku akan turuti”.
“Bohong..”.
“Jangan berkata seperti itu padaku , ja-jagi”.
“Aku tidak mendengarnya, jangan berbisik”
“KYU JAGI..YEOBO..MIANHAE”. Tawa Kyu membahana ketika HeeRa berteriak seperti itu.
Matahari hampir akan tenggelam , tugasnya sudah selesai menyinari sebagian bumi. Langit tampak berkilau , burung-burung sudah mulai berterbangan kembali kesangkar.
“Tidak ada acara yang seru di tivi sore-sore seperti ini”. Ujar Kyu sembari memencet setiap tombol yang ada di remote. “Ahh..aku bosan..bosan..”. Tangannya masih saja memencet terus-menerus tobol remote dengan kesal. Saat Kyu memencet tombol angka 6, tangannya terhenti. Matanya menatap lurus dan serius ke arah layar tivi.
“Telah terjadi kecelakaan pesawat dengan nomor penerbangan 1315B , pesawat ini diketahui akan terbang dengan tujuan kota Paris. Belum diketahui penyebab terjadinya kecelakaan yang merenggut puluhan orang ini. Berikut daftar-daftar korban yang selamat dan korban yang meninggal dunia..”.
Mata Kyu terpaku dengan apa yang baru saja dilihat dan didengarnya. Pesawat? Kecelakaan? Paris?
“Ahhh..gak mungkin..gak mungkin.. hyung pasti naik pesawat lain”. Kyu menggeleng beberapa kali, memastikan hatinya untuk tidak buru-buru percaya kalau itu pesawat yang ditumpang hyung-nya. Namun, daftar para korban yang ditampakkan di layar tivi membuat Kyu kehilangan konsentrasi. Nama hyung-nya terdapat di daftar itu , jelas-jelas itu nama hyung-nya , Siwon. Kyu menutup mulutnya yang mulai bergetar, kedua matanya sedikit berair.
SIWON – 18 TAHUN : MENINGGAL DUNIA
“Ya Tuhan..hyung..ANDWAE..ANDWAE..anio..itu bukan hyung..aaarrrggghhhh!!!!”. Kyu memegangi kepalanya yang semakin sakit. Perih,pusing, seluruh badannya terkulai lemah. Air mata sudah tidak bisa terbendung lagi, sudah terlalu banyak air mata yang bersembunyi dibalik mata coklat Kyu. “Hyung…HYUNG….!!!!”. Teriakan Kyu yang keras membuat HeeRa terbangun dari tidurnya, sedari tadi dia tertidur lelap di atas sofa.
“Kyu..waeyo..ada apa kau berteriak seperti itu?”. HeeRa menghampiri Kyu .
“HeeRa..itu bukan hyung bukan..bukankan? Aaaa..bukan hyung!”.
“Kenapa dengan Siwon oppa? Ada apa Kyu?”. HeeRa sedikit berteriak pada Kyu karena Kyu mulai bicara dengan panik, itu membuatnya tidak mengerti. HeeRa menatap ke layar tivi ketika jari Kyu menunjuk-nunjuk kearah tivi.
SIWON – 18 TAHUN : MENINGGAL DUNIA
“Bagi keluarga korban yang merasa nama keluarganya tercantum dalam daftar ini , di mohon untuk datang ke rumah sakit GENERAL HOSPITAL…”.
HeeRa membulatkan matanya, dia masih shock dengan apa yang dilihatnya barusan. HeeRa menatap Kyu yang berada disebelahnya. Kyu sudah menangis dan terisak keras. HeeRa memeluk Kyu dan mencoba menenangkannya.
“Kyu..sudah Kyu..jangan menagis lagi..”. Ujar HeeRa lirih dan mulai mengeluarkan bulir-bulir air mata.
“Aku harus kesana , aku mau kesana, HeeRa antarkan aku kesana, antarkan aku, cepat !!”.
“Tubuhmu masih lemah Kyu, kau jalan saja sulit Kyu, jangan memaksakan diri”.
“HeeRa..HYUNG-KU SEDANG KRITIS, AKU MAU MENEMUINYA, CEPAT ANTARKAN AKU!!”. Teriak Kyu.
Payung payung hitam mendominan di antara hijaunya rumput pemakaman yang tertata rapi. Di atas batu nisan terukir jelas sebuah nama yang sangat membuat jengkel Kyu dahulu , namun kali ini malah Kyu tangisi.
“Hyung..maafkan aku..hyung..”. Hanya itu yang terus keluar dari bibir Kyu yang basah terkena lelehan air matanya.
“Sudah Kyu..jangan terus-terusan menangisinya, dia tidak akan bahagia kalau kau terus menangis”. Ujar HeeRa seraya memeluk Kyu dan mengelus-ngelus punggungnya yang bidang.
“Aku menyesal hyung..aku menyesal..”.
Eomma dan appa Kyu terus-terusan menangis di atas ‘tempat tidur’ terakhir Siwon. Mereka tampak terpukul dengan apa yang sudah terjadi. “Siwon..maafkan appa, coba saja appa tidak memaksamu pergi , mungkin tidak akan seperti ini jadinya. Maafkan appa Siwon..”. Ucap appa-Kyu sembari terisak.
“Siwon bangunlah nak, eomma…eomma..hikss..hiksss..”. Eomma-Kyu tidak bisa memendung lagi rasa kehilangannya, kata-katanya terputus sesaat..
“Hyung..mianhae..mianhae hyung..”.
“Kyu..ayo kita pulang..kau terlihat sangat lemah”. Ujar HeeRa.
“Aku mau disini saja, kasian hyung sendirian, dia tidak suka sendirian”.
“Kyu..jebal..Siwon oppa tidak akan pergi tenang kalau kau terus menangis dihadapannya”.
HeeRa membopong tubuh Kyu yang semakin melemah karena terlalu banyak menangis. Begitupun appa-Kyu yang dengan wajah yang masih bersedih , membopong eomma-Kyu untuk pergi meninggalkan Siwon, di tempat peristirahatan terakhirnya.
Lima Tahun Kemudian ..
“Tuan Kyu, hari ini anda akan meeting jam 11.05 dengan perusahaan dari Amerika, mereka meminta anda untuk bekerja sama dengan perusahaan kita”. Ujar seorang namja yang masih terlihat muda dengan buku note di tangan kirinya. Kyu memutar kursi hitamnya dan menatap namja itu.
“Aku akan menghadirinya, lalu setelah itu?”.
“Jam 1 siang nanti ada perwakilan perusahaan dari Perancis akan datang kemari untuk membeli sebagian saham perusahaan kita ,tuan”.
“Batalkan..”.
“Baiklah tuan, semua jadwal sudah saya perbaiki untuk hari ini. Saya permisi dulu…”. Ujar namja itu lalu membungkuk 180° kearah Kyu.
“Donghae-ssi , setelah jam makan siang berakhir aku sama sekali tidak ada jadwal bukan?”.
“Sebentar tuan..”. Namja yang ternyata bernama Donghae itu , membuka buku note-nya dan membalik-balik kertas note-nya lalu tersenyum.
“Tidak ada tuan, setelah itu anda bebas”.
“Bagus kalau begitu..aku sedikit bosan selalu sibuk seperti ini”. Gumamnya seraya tersenyum.
“Baiklah tuan saya permisi dulu..”.
“Emm..gomawo”. Ucap Kyu pada Donghae, dan dibalas Donghae dengan sebuah bungkukan.
“Akhirnya..aku bisa bertemu Ara juga hari ini”. Ujar Kyu lalu berdiri dari duduknya dan berjalan kearah lemari coklat yang didalamnya terdapat buku yang tertata rapi. Kyu meraih sebuah bingkai foto berwarna biru sapphire yang terpajang diantara buku-buku itu. “Hyung..kau sudah lihat bukan , aku sekarang sudah bisa memimpin perusahaan appa dengan baik. Maafkan aku karena semustinya ini tempatmu hyung, aku akan menjaga semuanya dengan sebaik mungkin , aku janji hyung. Aku akan membuat eomma dan appa bangga padaku. Semoga kau bahagia disana hyung. Aku mencintaimu hyung”. Diletakkannya kembali bingkai itu dan berjalan keluar ruangan.
“Appa..”. Seorang bocah kecil berlarian kearah Kyu, saat pintu rumah baru saja di buka oleh Kyu.
“Ara..ya..anak appa cantik sekali hari ini”. Ujar Kyu seraya menggendong makhluk kecil itu.
“Aku mau jalan-jalan sama appa hali ini, pokoknya hali ini halus jadi, jangan dibatalin lagi..”. Celotehnya cadel.
“Arraseo .. appa sudah batalkan semua pekerjaan appa, sekarang..kajja ayo kita pergi”.
“Ehem..ehem..aku ditinggal ni ya?”. Dari balik pintu kamar, keluarlah sesosok wanita cantik yang terlihat kesal.
“Ha? Aduh aku hampir lupa , sekarang aku punya dua perempuan , tidak satu lagi. Aduh mianhae HeeRa-ssi “.
“Jahatnya kau Kyu..melupakan istri sendiri”. Ujarnya lalu melipat kedua tangannya didada.
“Mianhae HeeRa, ayo ayo , kita pergi “.
“Ga mau..kau saja pergi dengan Ara , aku mau dirumah saja”.
“Ya..eomma..jangan malah dong, appa..ottokhe?”.
“HeeRa, jebal..jangan marah”.
“Anio, kau saja sana pergi. Aku mau di rumah saja”.
“Appa…sini aku punya ide , sini aku bisikkin”.
“!@#!@$#$%@$@^%*^&(&(&^*(“.
“Hahaha..kau memang anak appa yang pintar Ara..”.
HeeRa menatap Ara dan Kyu bergantian. Dia mulai merasa ada gelagat yang aneh dari mereka berdua.
“HeeRa..yakin kau tidak mau ikut? Baiklah..aku pergi dulu ya.. annyeong. Kajja Ara, kita pergi”.
“Ya..Kyu.. kau benar-benar meninggalkanku?”. HeeRa berjalan menghampiri Kyu yang mulai menutup pintu depan.
“Kyu..kau te..”. Chu~ sebuah ciuman mendadak mendarat halus di bibir HeeRa.
“AAAA…CHO KYUHYUN !! AWAS KAU ..”.
“Hahahahaha..”. Kyu dan Ara tertawa berbarengan dan berlarian kearah parkiran untuk menghindari serangan HeeRa.
SELESAI .. (AKHIRNYA SEDIKIT ANEH ? TIDAK ADA YANG SEMPURNA)^^v annyeong~ ketemu lagi di FF selanjutnya. *reader: siapa juga yg mau ketemu lo lagi?* heheheheh..
[4th FF] Hyung mianhae (part 1 )
Oktober 8, 2010
FanFiction K-pop Kyu Hyun, Super Junior 2 Komentar
Main cast :
– Cho Kyu Hyun
– Choi Siwon
– Park Hee Ra
Kenapa harus aku ? Kenapa ? Aku seperti orang asing dikeluargaku sendiri . Aku tau dan sadar tak ada yang istimewa dari diriku. Aku tidak cukup pintar , aku tidak terlalu tampan,dan aku cukup nakal lalu karena semua hal itukah aku harus dikucilkan seperti ini. Semua perhatian dicurahkan hanya pada hyung-ku , Siwon. Aku juga ingin diperhatikan , dimanja , aku iri , sangat iri.
——————————————————————————————————————————————————-
*pov kyuhyun*
“Chukae..kau memang anak yg pintar siwon , eomma bangga padamu “. Ujar eomma dengan wajah yg setengah menangis tapi senang. Hari ini adalah hari kelulusan Siwon , hyung-ku yg sangat aku benci .
Dia berhasil menjadi siswa termuda yg lulus S1 di usia-nya yg masih 18 tahun di kampusnya , Universitas Yonsei . Aku berusaha ikut larut dalam kegembiraan yg dibuat Siwon hyung karena prestasinya, namun itu hanya pura-pura . Mana bisa aku ikut senang pada musuhku sendiri. Mungkin aku agak kejam , membenci hyung sendiri , tapi aku punya alasan yg logis kenapa aku membencinya .
“Kyu , contohlah hyung-mu ini , sudah tampan , pintar , berkelakuan baik pula , kau … hanya bisa membuat eomma mengelus dada saja karena tingkah nakalmu itu”. Kata eomma lalu memeluk Siwon hyung lagi. Namun sepertinya Siwon hyung merasa risih, dia melepaskan pelukan eomma.
“Eomma..Kyu sebenarnya pintar , jangan membuat dia semakin merasa dirinya bodoh “.
Siwon hyung mencoba membelaku , tapi itu sama sekali tidak membuat persentase kebencianku padanya berkurang.
“Sudah .. sudah.. ayo kita rayakan kelulusan Siwon , appa sudah memesan tempat di restoran mewah dekat-dekat sini. Kajja..”. Kata appa menengahkan.
“Mian … aku tidak bisa ikut , ada urusan yg harus aku selesaikan. Annyeong”. Ucapku tanpa memandang wajah mereka sedikit pun , lalu aku berjalan menuju gerbang keluar dan berlari menuju halte bis untuk menenangkan diri . Rasanya hari ini melelahkan sekali .
“Kyu…”. Aku membalikkan badanku ketika ada seseorang memanggil namaku dengan suara khasnya , aku tau siapa dia.
“HeeRa..”.
“Kyu..ada apa memangilku kemari ?”.
Gadis yang ada dihadapanku saat ini adalah satu-satunya orang yang mengerti aku , peduli padaku , aku sangat mencintainya, tapi sayangnya aku tidak tau perasaannya padaku , apa sama denganku atau tidak.
Dia adalah teman masa kecilku , aku sudah berteman dengannya ketika kami baru sama-sama memasuki sekolah dasar. Aku benar-benar tahu banyak tentangnya dan begitu pun sebaliknya.
“Aku rindu padamu “.
“Cihh~ jangan bercanda kau , oh ya , hari ini hari kelulusan Siwon oppa ya ?”.
Dia lagi..dia lagi.. aku sudah bosan mendengar nama itu. Aku dari dulu sudah curiga dengan HeeRa , dia selalu bertanya tentang Siwon akhir-akhir ini . Aku merasa kalau dia mulai menyukai Siwon , tapi…ayo kyu berfikirlah positif , dia tidak mungkin menyukai hyung-mu .
“KYU… kenapa melamun, jawab pertanyaanku”.
“Oh ya ya .. mian , ne , hari ini hari kelulusan Siwon hyung , memang kenapa?”.
“Anio..hanya bertanya saja , Kyu mau antarkan aku pergi ke toko eskrim disebelah sana?!”. HeeRa menunjuk kesebuah toko yang dicat biru di ujung jalan. Aku mengangguk dan menarik tangannya. Semoga kau merasakan cintaku HeeRa.
——————————————————————————————————————————————————–
*Pov Siwon* -di restoran-
“Siwonnie , kau sudah appa daftarkan ke Universitas terbagus di Paris , kau harus meneruskan kuliahmu sampai kau mendapat gelar master, okey ”. Aku membelalakan mataku kaget. Ini gila , aku masih 18 tahun , tidak bisakah aku beristirahat sebentar , menghilangkan kepenatan dengan rutinitas belajar yang selama ini aku lakukan. Aku cape…aku ingin sedikit merasakan masa remajaku seperti temanku yang lain. “Secepat itu ? Aku masih ingin istirahat”. Kali ini sudah keterlaluan , aku baru saja menghirup udara kebebasan , dan sekarang harus terperangkap kedalam penjara lagi ?
“Jangan jadi pemalas seperti itu , semakin cepat kau mendapat gelar master , semakin cepat pula kau bisa beristirahat tenang , jika baru sampai sini saja kau merasa lelah , masa depanmu akan menghilang cepat. Kau satu-satunya harapanku , penerus perusahaanku “. Kata appa panjang lebar. Perusahaan appa yang semakin maju itu akan menjadi tanggung jawabku nanti. Tapi kenapa harus aku yang menjadi penerus perusahaan appa , kenapa tidak Kyuhyun . Aku sudah muak , belajar di jalur yang tidak aku inginkan. Aku akui , sebenarnya selama ini aku tidak nyaman kuliah di jurusan Management , aku terpaksa menuruti kemauan appa, karena aku tidak berani melawan appa. Sebenarnya aku iri dengan Kyu , yg bisa hidup bebas . Tapi aku tidak seberani dirinya.
“Tiga hari lagi kau akan berangkat ke Paris, Siwon . Siapkan semuanya”. Ujar eomma santai ,
*end pov*
Sinar matahari menerangi sebagian kamar Kyu dari balik jendela . Kyu tersadar dari mimpinya , dan mulai membuka matanya perlahan , namun mata kirinya sedikit tertutup karena terpantul sinar matahari yg menyilaukan mata kirinya. “Eumhhh…cepat sekali sudah pagi”. Kyu terduduk lalu merentangkan tangannya ke atas , merenggangkan otot-ototnya yang menegang . Dia mulai mengucek-ngucek matanya , dan bergegas turun dari tempat tidur hijau daunnya menuju kamar mandi yang tepat ada di sebelah kanan tempat tidurnya. Setelah mandi dan berpakain seragam sekolah rapi , Kyu turun menelusuri tangga menuju meja makan untuk sarapan. Di meja makan sudah ada appa,eomma dan Siwon , mereka tengah sibuk dengan aktivitanya masing-masing . Appa dengan laptopnya , browsing berita saham terbaru melalu internet , eomma dengan ponselnya, ada arisan di luar negeri yang akan diikutinya minggu besok dan Siwon yang terdiam sembari memakan rotinya.
“Kyu..mau ku buatkan sandwich ?”. Tawar Siwon pada Kyu.
“Anio .. tidak usah , aku bisa sendiri”. Jawab Kyu sedikit ketus lalu menarik kursi dan duduk .Tangannya mulai mengambil roti dan selai kacang kesukaannya.
“Kyu..mau ku antar ?”. Ini tawaran kedua Siwon , namun lagi-lagi Kyu menggeleng.
“Tidak usah..gomawo”. Kyu melahap rotinya cepat dan bergegas pergi . “Aku pergi … annyeong”.
*SEPULANG SEKOLAH*
Kyu menyusuri jalan menuju halte bis untuk pulang . Hari semakin siang , panasnya mulai menyengat .
Sesekali Kyu bersenandung kecil untuk menghilangkan rasa sepi yang sedang berpihak padanya saat ini.
“Waahh..banyak sekali penumpangnya”. Gumam Kyu saat halte bis sudah tidak jauh lagi dari hadapannya. Kyu bersabar berdiri menunggu bis yang entah kapan akan datangnya.
“Aaaaiiisssshhh lama sekali bisnya “. Kaki Kyu bergerak naik turun . Sekitar lima menit menunggu , akhirnya bis berwarna dominan merah itu datang. Namun betapa terkejutnya Kyu saat melihat gadis yang sangat dia cintai tengah duduk berdua dan bercanda dengan lelaki disebelahnya . Dan yang paling membuat Kyu lebih perih … lelaki itu adalah … SIWON !
*Pov Kyu*
Dia benar-benar membuatku gila. S-I-W-O-N , kenapa dia selalu menghancurkan setiap bagian dihidupku. Dan sekarang, di mau mengambil HeeRa juga? Apa dia belum puas mengambil semua perhatian dan kasih sayang eomma dan appa dariku, dan kali ini dia mau mengambil HeeRa ? Aku tidak akan biarkan HeeRa ada padanya. Tapi .. sepertinya HeeRa mencintainya . Apa yg harus aku lakukan ?
*end pov*
@bus
“Siwon oppa .. hahaha .. ternyata kau senang bercanda juga ya , aku kira kau pendiam , hahaha”.
“Aku tidak sependiam yang kau bayangkan..haha..oh ya .. apa kau tau besok ada yang berulang tahun?”.
“Kyu”.
“Haha..kau masih mengingat ulang tahunnya? Berarti kau masih mencintainya bukan?”.
“Sok tau..”.
“Lalu ?”.
“Apanya yang lalu ?”.
“Apa rencanamu besok untuk ulang tahunnya? ”.
“Anio..aku tidak tahu , sepertinya dia tidak mencintaiku oppa”.
“Kenapa berfikiran seperti itu ? Aku yakin dia pasti mencintaimu”.
“Sampai detik ini dia tidak pernah menyatakan cintanya padaku , apa itu kurang mengartikan kalau dia tidak punya perasaan apa-apa denganku ? Heuh~”.
“Mungkin dia belum berani , kau harus sabar menunggunya”.
“Aku sudah sabar”
“Lebih sabar lagi.”.
——————————————————————————————————————————————————–
@ Author
Ditengah suara hening air sungai Han , ditengah terik panasnya matahari siang menuju sore , seorang lelaki yang masih memakai seragam sekolah dan sebuah tas hitam di punggungnya, terduduk lemas di pinggir sungai sembari menatap lurus . Matanya seolah-olah menyiratkan luka yang ada dihatinya.
“Aaaarrrgghhh… KAU SELALU MENGHANCURKAN HIDUPKU !!”. Teriak lelaki itu lalu melempar batu yang sedari tadi di genggamnya ke tengah sungai. “…AKU BENAR-BENAR MEMBENCIMU !!”. Lanjutnya dan nafanya mulai terengah-engah . Lelaki itu lalu menundukkan kepalanya menatap tanah dan mulai menangis. “Jangan kau ambil HeeRa ,hanya dia yang ku miliki , hanya dia yang bisa membuatku tertawa”. Suaranya mulai mengecil , semakin melemah. “Aku mohon… jebal“.
@Pov Siwon
Ku lirik jam yang terpasang erat di lenganku , sudah jam segini , kenapa dia belum juga pulang, hujan mulai deras di luar. Ya ampun Kyu .. kau memang jago dalam hal membuatku khawatir . Kau kemana ? Ini sudah larut malam , aku takut terjadi apa-apa denganmu.
Tok..tok..tok..
Semoga itu Kyu . Aku percepat langkahku menuju daun pintu yang sedang diketuk pelan .
KreeKKkkk..
“Kyu..kenapa baru pulang ? Dari mana saja kau ? Lihat badanmu basah kuyup”.
“Bukan urusanmu!!”.
“Hei ada apa denganmu..kau..”. Belum sempat aku melanjutkan kata-kataku pintu sudah di tutup kencang oleh Kyu dan dia berlalu pergi tanpa menghiraukanku yang sedari tadi menunggunya pulang.
Hah~ dia masih membenciku , aku sudah berusaha menjadi hyung yang baik untuknya , aku sudah berusaha … aku juga tidak tau kenapa dia jadi seperti ini padaku , padahal dulu aku dan dia sangat akrab. Kenapa dia jadi seperti ini ? Ya Tuhan..kembalikan Kyu kami seperti dulu . Aku rindu pada namdongsaeng-ku yang periang itu . Kapan dia menunjukkan senyumnya lagi?
Pagi mulai datang lagi , menampakkan setitik embun di jendela. Efek dari hujan tadi malam. Nampak siluet Kyu di balik beranda kamarnya. “Hari ini..aku berulang tahun..biasanya kau orang pertama yang mengucapkan selamat untukku , tapi kenapa belum ada pesan apapun darimu”. Ujar Kyu sembari menatap layar ponselnya. Dia menghela nafas panjang lalu bergerak meninggalkan kamarnya menuju tempat yang selalu membuatnya nyaman , sungai Han. Dia mengambil kunci motornya yang tergeletak di atas meja belajar dan bergegas menuju bagasi lalu menjalankan motornya .
Kyu dengan berangas menjalankan motornya dengan kecepatan diatas maksimal. Saat di belokkan ke dua di jalur berbeda sebuah mobil dengan kecepatan tinggi berbelok dan langsung menabrak motor Kyu yang juga melewati belokkan itu. Kecelakaan tak dapat di elak.
“Dokter Han , bagaimana cara kita menghubungi keluarga korban ini?”. Tanya seorang suster panic.
“Ini .. saya menemukan ponsel korban di tempat kejadian , tekan saja angka satu , biasanya panggilan cepat di nomor satu adalah keluarga dekat. Ayo suster cepat hubungi siapapun , aku pergi dulu”.
Dokter Han pun bergegas pergi meninggalkan suster itu menuju kamar operasi . Dan tanpa berfikir lagi suster itu menekan angka satu pada ponsel itu . Terdengar nada sambung , suster itu pun bernafas lega.
“Yeoboseyo…”.
“Ya.. Kyu ?”.
“Mian..ini dari rumah sakit , apa anda kerabat dekat tuan Kyu?”.
“Iya..ada apa dengan Kyu ?”.Suara di ujung telepon sana terdengar panik.
“Tuan Kyu kecelakaan , mohon anda cepat kemari , karena korban sedang kritis”.
“APA ? baiklah saya akan kesana”.
@pov HeeRa
Aku sudah tidak dapat berfikir lagi. Kyu sedang ada di hadapanku sekarang . Namun tidak bergerak sama sekali . Kyu ku mohon bangunlah , jangan membuatku jadi gila seperti ini . Air mataku terus meluncur tanpa henti. Kenapa begitu cepat kejadiannya , Kyu..jebal bangunlah , ayo bangun . Hari ini kau ulang tahun bukan ? Lihat , aku sudah membuat kue tart kesukaanmu , lihat Kyu . Jangan diam terus , ayo bangun…
@POV author
Tangan Kyu mulai bergerak perlahan . Matanya mulai bergerak namun sangat lemah .
“Kyu..”. HeeRa mencoba tersenyum , menyambut Kyu yang baru tersadar.
“Kau..euh..”. Kyu memegang kepalanya yang terasa sakit.
“Jangan banyak bergerak..kau harus istirahat”.
“HeeRa , ada apa denganku ? Kepalaku..sshhh..sakit..”.
“Kau kecelakaan Kyu , pabo .. kau tidak hati-hati sih , jadi seperti ini”.
Kyu mencoba mengingat kejadian yang berlalu , namun sama sekali tidak terekam olehnya di memori otak .
@POV kyu
Sakit sekali rasanya , kepalaku seperti mau pecah . Kenapa aku tidak ingat sama sekali , aku ingat kalau aku sedang pergi ke sungai han , setelah itu aku tidak tau lagi . HeeRa .. sepertinya dia menangis , wajahnya begitu terlihat lelah sekali.
“HeeRa..kau menangis?”.
“Anio..aku tidak menangis”. HeeRa mencoba berbohong , namun aku sama sekali tidak dapat tertipu.
“Itu .. bungkusan apa ?”. Aku menujuk pada sebuah bungkusan berwarna biru yang sedari tadi ada di pangkuan HeeRa.
“Ahhh..euhh..ini..saengil chukae Kyu”.
“Kau ingat ulang tahunku?”.
“Paboya..tentu saja ingat , aku bukan nenek”.
“Ku kira kau sudah lupa .. euhh..HeeRa apa aku boleh bertanya sesuatu?”.
“Mwo?”.
“Kau dan Siwon hyung, berpacaran ?”.
“Ya..kenapa kau berfikir seperti itu , aku dan dia hanya berteman”.
“Syukurlah..”.
“Kau aneh..apa otakmu bergeser Kyu?”.
“Saranghae..”.
“Kau benar-benar aneh..”.
“Aku serius”.
HeeRa terdiam sesaat , namun aku bisa membaca perubahan wajahnya yang semakin merona. Apa itu tandanya kau mencintaiku juga HeeRa ?
“Na..do..saranghae”. Dia berkata dengan volume yang sangat kecil , tapi aku masih bisa mendengarnya.
“A-apa? Aku tdak mendengarnya”.
“Pabo..aku tidak akan mengulanginya lagi”.
“Aku tidak pabo , ayo ulangi perkataanmu tadi , aku tidak mendengar”.
“SARANGHAEYO KYU, puas?”.
“Haahahahahahah , kau menjadi milikku sekarang”.
“Anio~ aku tidak mau ..”.
“Kenapa begitu , aduhh kepalaku semakin sakit”.
HeeRa tidak menggubrisku sama sekali dia hanya tertawa lalu pergi meninggalkanku sendiri.
[3rd FF] When I Meet You
Oktober 8, 2010
FanFiction K-pop Lee Teuk, Super Junior 3 Komentar
Main cast :
– Lee Teuk
– Shin Hyun Hyo / Adlina
@Pov Teuki
Shin Hyun Hyo, gadis manis yang lembut dan baik hati, gadis biasa namun punya sejuta pesona bagi yang menyadarinya. Sekilas tampak memang biasa saja , tidak ada yang istimewa. Namun, jika terus dekat dengannya, entah mengapa ada sesuatu yang menarik hati ingin terus bersamanya. Itu bagi yang menyadari. Dan…dulu aku sempat mengacuhkannya, dulu aku tidak menyadarinya, tapi semakin aku memperhatikan dan bertemu dengannya , semakin aku jatuh cinta padanya.
Flash back
Sore ini hujan kembali turun dengan deras. Untungnya tidak ada kilat sama sekali yang memeriahkan langit. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh yang aman, halte begitu terlihat sesak di padati orang untuk melindungi diri, begitupun teras-teras toko dan café. Tidak terkecuali aku yang ikut berlarian diantara mereka yang ingin berteduh. Ku lihat di ujung jalan, sebuah café yang lumayan menarik hatiku untuk singgah disana. Tanpa pinggir panjang, dan dengan tujuan untuk melindungi kemeja dan tas yang ku kenakan agar terhindar dari jatuhnya titik titik air dari langit, aku berlari menuju café yang ber-plang ‘CAFÉ GREEN CAMP’itu.
“Eoseo osipsiyo..yeogi anjeuseyo”.(1*) Seorang pelayan pria menyambutku ketika aku baru saja menginjakkan kakiku di lantai café ini, lalu dia menggiringku menuju meja yang kosong.
“menyu yeogi isseumnida”.(2*) ujar pelayan itu , seraya menyodorkanku menu. Aku membuka buku menunya dan membolak-balikkannya tanpa membaca detail. Dingin-dingin seperti ini sepertinya teh ginseng cocok.
“Jeoneun insamcha juseyo”.(3*) kata ku lalu menyodorkan buku menunya kembali pada pelayan itu.
“Baiklah tuan, pesanan akan segera datang”. Ucap pelayan itu lalu membungkuk 180° dihadapanku. Hah~ rasa penat yang sedari tadi memenuhi seluruh aliran darahku , seketika mulai berkurang. Mataku terus mengelilingi mengamati setiap sudut yang ada di café ini. Menarik juga café ini, nuansa hijau ,begitu serasi dengan nama café ini. “Pesanan datang, tuan..silahkan”. Ujar pelayan pria tadi seraya menaruh pesananku dan bon di hadapanku. “Ne, gomawo..”. Kata ku sopan, pelayan pria itu lalu membungkuk sedikit dan pergi. Emm~ hangat sekali tehnya ..
Setelah sekitar setengah jam aku duduk dan menikmati secangkir teh ginseng, sepertinya hujan sudah benar-benar menghentikan aktivitasnya menyirami bumi. Aku beranjak pergi menuju kasir.
“Ini..”. Ujarku seraya menaruh bon diatas meja kasir tanpa menoleh.
“200 won tuan”. Aku mendongkak menatap pelayan kasir wanita yang terhalang mesin kasir itu. Lalu mengeluarkan sejumlah uang yang disebut oleh pelayan kasir tadi.
“Gamsahamnida..datang kembali ya tuan..”. Ucapnya ramah. Aku hanya sedikit tersenyum menanggapi nya. Langit sore kembali cerah …
Hampir setiap hari aku berkunjung ke café Green Camp itu , berawal dari berteduh tempo lalu, karena aku suka dengan tempat dan pelayan-pelayannya yg ramah, aku jadi sering bolak-balik masuk café ini. Seluruh pelayan disini rata-rata sudah mengenalku, begitupun sebaliknya. Apalagi penjaga kasir wanita itu. Aku berkenalan dengannya tiga hari yang lalu, saat kunjunganku ke café ini yang ke lima kalinya. Nama gadis penjaga kasir itu adalah Shin Hyun Hyo. Aku rasa aku mulai menyukainya, aku terus memandanginya tanpa bosan. Hyun Hyo manis sekali, apalagi ketika tersenyum. Tapi…apa dia menyukaiku juga?
End flash back
1* : selamat datang…silahkan duduk disini.
2* : ini menunya.
3* : aku mau teh ginseng.
—————————————————————————————————————————————————————————–
@POV author
“Eoseo osipsiyo..Teuki-ssi..”. Sapa seorang pelayan didepan pintu masuk café ramah pada LeeTeuk.
“Annyeong Shindong-ssi”. Jawab LeeTeuk, lalu bergegas mencari meja kosong di dalam café. Tidak lupa, LeeTeuk memandang kearah kasir, untuk memastikan Hyun Hyo ada disana. Tapi sungguh disayangkan, gadis yang biasa bersembunyi dibalik mesin kasir itu, hari ini tidak menampakkan wajahnya disana, hanya ada seorang pelayan pria yang sepertinya menggantikan Hyun Hyo bekerja. “Hyun kemana hari ini? Kenapa tidak masuk kerja?”. LeeTeuk bertanya-bertanya pada diri sendiri. Tiba-tiba seorang pelayan menepuk bahu LeeTeuk pelan.
“Teuki..kenapa melamun?!”.
“Euh..Kangin! ah~ anio, hanya bingung mau duduk dimana, hehe”.
“Jangan berbohong Teuki, aku tau, kau mencari Hyun kan?”.
LeeTeuk menggaruk-garuk kepalanya dan tersenyum tersipu.
“Hyun, sudah dua hari ini tidak masuk. Kau juga selama seminggu ini tidak pernah kemari, waeyo?”.
“Ha? Sudah dua hari? Aku..sedang banyak tugas kuliah yang menumpuk, jadi tidak sempat kesini. Kau tau kenapa Hyun tidak masuk selama dua hari ini?”. Tanya LeeTeuk.
“Ayo kita bicara di beranda belakang café saja”. Ujar Kangin lalu menarik tangan LeeTeuk menuju halaman belakang café. Biar ku ceritakan..Kangin adalah teman kecilnya Hyun Hyo, karena Kangin-lah LeeTeuk bisa berkenalan dengan Hyun Hyo, karena ternyata Kangin adalah teman LeeTeuk semasa SMA dulu, jadi bisa dibilang Kangin itu ‘matchmaker’-nya LeeTeuk.
“Sekarang cepat ceritakan ada apa dengan Hyun? Sepertinya sangat serius sekali”. Kata LeeTeuk ketika mereka baru saja duduk di meja. Wajah kangin mendadak berubah muram.
“Emm..begini Teuki..aku tadinya tidak mau menceritakan ini padamu. Aku takut Hyun akan marah padaku…”.
Kangin bergerak gusar. “..Teuki..Hyun sedang mendapat masalah yang sangat besar sekarang, dia..dia..”.
“Ada apa dengannya. Kangin, cepat ceritakan”. Ujar LeeTeuk penasaran.
“.. Eomma Hyun baru meninggal kemarin, dan..eomma Hyun meninggalkan begitu banyak hutang pada Hyun, sebenarnya itu bukan hutang eomma Hyun atau Hyun sendiri, itu hutang appa Hyun. Appa Hyun itu benar-benar brengsek, dia meninggalkan Hyun dan eommanya ketika dia berhutang berjuta-juta won pada rentenir dan mengalamatkan hutang itu pada eomma Hyun. Selama beberapa tahun, Hyun dan eomma-nya hidup dalam bayang-bayang hutang. Dan sekarang eomma Hyun sudah meninggal karena penyakit kankernya, tentu saja hutang yang masih menumpuk itu akan jatuh ketangan Hyun, dan dia tengah bingung untuk membayar hutang itu seorang diri. Kasian sekali Hyun, aku sudah kehabisan akal untuk membantunya, dia selalu menolak setiap bantuan yang aku berikan,dan aku harap dia mau menerima bantuanmu . Dan aku tidak tau keadaannya saat ini bagaimana, aku khawatir dengan para rentenir itu”. Ujar Kangin panjang lebar . LeeTeuk terdiam sesaat, mencoba berfikir.
“Segitu parahkah keadaanya saat ini? Kangin-ssi , beri aku alamat rumahnya”.
“Untuk apa kau kesana?”.
“Aku mau memastikan keadaanya saat ini”. Kangin lalu mencatat alamat rumah Hyun pada selembar tissue .
“Aku harap kau bisa meringankan penderitaannya Teuki”. Gumam Kangin. “Aku tau kau pasti akan menjaganya”.
“Tentu..aku akan menjaga Hyun, gomawo mau menceritakan semuanya padaku Kangin. Aku pergi dulu”.
“Ne..hati-hati dijalan Teuki-ssi”. LeeTeuk membungkuk kearah Kangin lalu melambaikan tangan pergi menuju rumah Hyun. “Semoga Hyun baik-baik saja”. Ujar Kangin berbisik lalu menatap LeeTeuk yg mulai menjauh pergi.
Teuki menggenggam erat selmbar tissue bertuliskan alamat rumah Hyun ditangan kirinya, sedangkan tangan kanannya sibuk dengan stiran mobil. “Hyun..kau baik-baik saja bukan?”. Kata LeeTeuk khawatir.
“Aku takut kau di apa-apakan oleh para rentenir itu. Aku harap tidak akan terjadi apa-apa padamu”.
LeeTeuk mengambil ponsel yang sedari tadi ada disaku celananya. Mencari kontak telpon Hyun, lalu menghubunginya, untuk memastikan Hyun ada dirumah sekarang. Tapi..tidak ada jawaban sama sekali dari Hyun.
“Ah~ kenapa tidak diangkat”. Gerutu LeeTeuk lalu melempar ponselnya ke jok belakang.
Sudah setengah jam lebih LeeTeuk mencari alamat rumah Hyun, dan akhirnya.. LeeTeuk sampai di depan rumah Hyun. LeeTeuk berhenti dan memarkirkan mobilnya didepan rumah yang sederhana dengan cat ungu pudar itu. Baru LeeTeuk mau akan menuruni mobil, dua orang pria dengan badan kekar dan besar keluar dari rumah Hyun.
LeeTeuk mengurungkan niatnya turun dari mobil, dia membiarkan kedua pria kekar itu pergi . Setelah dua pria itu pergi, LeeTeuk buru-buru masuk kedalam rumah Hyun, dan …
“Hyun..Hyun..!!!”. LeeTeuk berteriak memanggil nama Hyun dengan khawatir. Rumah Hyun Nampak berantakan sekali, seluruh kursi diruang tamu terjatuh dan beberapa kertas bertebaran dilantai ruang tamu. Kacau.
Saat LeeTeuk memasuki ruang tengah, ternyata keadaan lebih kacau dari yang diruang tamu tadi. LeeTeuk mulai gelalapan, dan berfikiran negative. Saat LeeTeuk memasuki dapur, suara isakan tangis terdengar jelas, dan tidak salah lagi, itu pasti Hyun !
“Hyun..kau tidak apa-apa?”. LeeTeuk menghampiri Hyun yang tengah duduk sembari memeluk kakinya, dia seperti ketakutan. Matanya tidak berhenti mengeluarkan air mata.
“Teuki? Sedang..apa..kau..disini?”. Ucap Hyun sembari terisak.
“Sudah jangan bahas itu dulu, kau terluka, lihat wajahmu..ayo aku obati”. LeeTeuk membantu Hyun berdiri dan membopongnya untuk berjalan. LeeTeuk mendudukkan Hyun di sofa ruang tengah, lalu dia bergegas mengambil kotak P3K yang digantung disudut ruangan.
“Teuki..untuk apa kau datang kesini?”. Tanya Hyun.
“Sudah Hyun, jangan bicarakan itu dulu, lukamu banyak”. Jawab LeeTeuk seraya mengolesi wajah Hyun dengan betadine. Hyun sedikit meringis perih. “Ssshhh..sakit..”.
“Tahan Hyun, kau dipukuli oleh dua rentenir itu ya? Brengsek!”.
“Dari mana kau tau kalo mereka rentenir ? Teuk, bicaralah, ada apa kau kemari”.
“…”.
Hyun menghentikan gerakan tangan LeeTeuk yang sedang mengobati luka diwajah Hyun.
“Teuki..kumohon, jawab pertanyaanku”.
“Aku…aku sudah tau semuanya, hutang appa-mu, keadaanmu..dan..”.
“Kau tau dari siapa semua itu? Kita hanya teman Teuk, kau tidak perlu ikut campur urusanku”.
“Aku tau kita hanya teman, memang kenapa kalau aku membantu teman sendiri? Salah?”.
“Aku tidak mau merepotkan siapapun, silahkan pergi dari sini Teuki, ku mohon..”.
“Aku tidak akan pergi sampai semuanya kembali normal”. Ujar LeeTeuk lalu kembali mencoba mengobati luka Hyun, namun Hyun menepis tangan LeeTeuk keras.
“JANGAN KERAS KEPALA LEETEUK, SILAHKAN PERGI”. Teriak Hyun keras lalu mendorong LeeTeuk menuju pintu depan. LeeTeuk mencoba melawan namun dia merasa kasian melihat keadaan Hyun yang lemah, jadi dia terpaksa menuruti Hyun untuk keluar dari rumahnya. “Aku tidak akan pergi dari sini, aku akan mengembalikan keadaan menjadi seperti semula lagi. Aku tidak akan pergi sejengkal pun dari rumahmu Hyun”.
BBBLLAAMM.. pintu ditutup kasar oleh Hyun.
@Pov HyunHyo
Keras kepala sekali dia itu, dia pikir mudah apa mengembalikan semuanya jadi normal. Aku yakin sebentar lagi juga dia akan pulang. Pabo! Namja pabo. Pasti Kangin yang sudah memberitau semuanya. Ah Kangin ember bocor !! Aaaiiisshh rumahku jadi berantakan seperti ini.. eomma .. aku merindukanmu. Eomma..doakan aku di surga sana , semoga aku bisa mnyelesaikan semua ini secepat mungkin.
Jangan menangis Hyun Hyo..jangan menangis..kau harus kuat !
End pov
“Akhirnya selesai juga”. Gumam Hyun saat semua rumahnya bersih dan tertata rapi kembali. Hyun tersenyum menyaksikan rumahnya kembali bersih. “Mandi dengan air hangat pasti enak”. Katanya lalu berjalan ke arah kamarnya untuk mengambil handuk. Saat Hyun melihat kearah jendela kamarnya, LeeTeuk masih ada disana, mondar mandir seperti setrikaan. “Benar-benar namja pabo, kurang kerjaan!”. Gerutu Hyun lalu bergegas pergi ke kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri, Hyun pergi ke dapur memasak apa saja yg ada didapur, yg penting perutnya tak menjerit kelaparan.”Sudah sore begini, pasti dia sudah pulang”.Ujar Hyun, lalu menge-cek ke luar jendela. Namun ternyata, LeeTeuk masih diluar sana. “Benar-benar namja gila, apa untungnya sih dia berbuat seperti itu, dasar bodoh!”. Umpat Hyun seraya menutup jendela dengan gorden.
Matahari mulai bersembunyi kembali dibalik kesunyian malam. Hyun sudah tertidur karena hari ini begitu melelahkan baginya.
“Mau apa kalian kesini lagi?”. Tanya LeeTeuk seperti menantang.
“Apa urusan lo? Minggir..”. Jawab seorang pria berbadan kekar yg kemarin memukuli Hyun.
“Jangan harap bisa masuk, tanpa melangkahi mayatku dulu”. Ujar LeeTeuk merentangkan tangannya. Dua orang pria itu pun, tertawa merendah pada LeeTeuk. “Nantangin nih bocah!”. Kata salah satu pria botak .
“Siapa takut, P-E-N-G-E-C-U-T, dua lawan satu”. LeeTeuk memasang kuda-kuda hendak ingin meluncurkan tinjuan, namun malang, si pria botak itu lebih dulu melayangkan pukulan kearah wajah LeeTeuk dan seketika tubuh LeeTeuk terpental. “Hahaha..dasar bocah ingusan! Jangan sok dulu, kau kira kau hebat ha?”. Ujar pria kekar itu.
“Heuh~ heh pria pengecut, bisanya maen kroyok. Kau kira aku akan mati ditanganmu hah? Cuiiihh~”. Kata LeeTeuk seraya bangun dari posisinya yg terjatuh tadi.
“Bos.. dia benar-benar meremehkan kita”. Bisik pria botak pada bosnya,pria kekar.
“Hajar.. sialan dia belum tau siapa kita”. Dua pria rentenir itu pun memukuli LeeTeuk hingga babak belur. LeeTeuk sama sekali tidak mau menyerah. Dia tetap bertahan, padahal tubuhnya sudah lebih dari sepuluh kali ditonjok tangan iblis kedua rentenir tersebut. “Kuat juga bocah sialan ini, ayo hajar dia sampai mati sekalian”. Bbuukkk..bbuukkk..bbbukkk..
LeeTeuk terhempas kesana kemari, darah sudah mulai keluar dihidung dan mulutnya. Namun LeeTeuk masih bisa bertahan dengan keadaan seperti itu. ‘Hyun..a-ku akan melindungimu’. Gumam LeeTeuk dalam hati.
Bbbbuuukkk…bbuukkkk…
Dua rentenir itu berhenti memukuli LeeTeuk karena kelelahan. “Hanya segitu kemampuan kalian hah? Payah”. Ujar LeeTeuk sempoyongan. LeeTeuk berusaha tetap kuat, padahal tubuhnya mengatakan yg sebaliknya.
“Kau benar-benar ingin mati ha? Cuuiiihh~ rasakan ini..”.
Ninutninutninut…
Mobil polisi tiba-tiba berseru datang, menghentikan gerakan si pria kekar itu yang hendak menusuk LeeTeuk dengan pisaunya.
“Angkat tangan..anda sudah dikepung, jangan mencoba kabur!”. Ucap polisi seraya menjulurkan pistol kearah si rentenir busuk itu. LeeTeuk bernafas lega, dia nayris akan mati, jika saja polisi tidak datang tepat waktu.
“Teuki~”. Seorang berteriak menyerukan nama LeeTeuk.
“Kangin..kau..yang membawa polisi, kemari?”. Tanya LeeTeuk lalu memegangi perutnya yang perih.
“Ne..aku khawatir denganmu, dari tadi aku telpon, tapi tidak kau angkat telponku, dan aku teringat dengan rentenir yang mengejar Hyun, aku punya firasat buruk, dan aku menyusul kemari tapi saat aku melintas di depan rumah Hyun, aku melihatmu dipukuli oleh dua rentenir itu. Jadi aku bawa polisi kemari “. Ucap Kangin.
“Gomawo Kangin, aku hampir mati tadi”. Kata LeeTeuk berterima kasih.
“Aduh! Berisik sekali diluar, ada apa sih malam-malam begini bikin ribut”. Gerutu Hyun yang terbangun dari mimpi karena suara ribut yang mengganggu ketenangannya. Hyun menyeka gorden kamarnya untuk melihat, ada keributan apa diluar sana. Mata Hyun membulat begitu melihat mobil polisi yang terparkir didepan rumahnya. “Ada apa ini, ada polisi segala..”. Hyun Nampak panik, dia lalu berjalan menuju halaman depan rumahnya untuk mengetahui ada masalah apa.
“Annyeong .. ada apa ahjussi sebenarnya ini?”. Tanya Hyun pada polisi yang tengah mencatat sesuatu.
“Di depan rumah anda ,tadi ada kasus pengeroyokan, dan hampir ada pembunuhan disini, tapi untung semuanya sudah beres. Anda terganggu?”. Hyun menatap sekeliling halamannya,Hyun menyadari ketidak adaan LeeTeuk ‘Mungkin sudah pulang..tapi..mobilnya kenapa masih ada?’. Gumam Hyun dalam hati.
“euh~ enggak menganggu kok ahjussi, hanya saja saya terkejut. Oya pak, memang siapa yang dikeroyok?”
“Emm..namanya LeeTeuk, dan saya belum tau sedang apa dia didepan rumah anda tadi”. Ujar polisi.
“Hah? LeeTeuk? Dikeroyok? Boleh saya tau siapa yang memukuli LeeTeuk ?”. Tanya Hyun .
“Menurut informasi, LeeTeuk dipukuli oleh dua orang rentenir, tapi saya belum memastikan itu rentenir atau bukan. Hampir saja tadi dia mati ditusuk pisau, jika saja Kangin temannya tidak buru-buru memberitahu kami”.
“Kangin? Sekarang mereka .. maksud saya, Kangin dan LeeTeuk, pergi kemana?”.
“Mereka sekarang menuju ke rumah sakit di ujung jalan sana, LeeTeuk harus di obati karena lukanya lumayan parah. Anda mengenal LeeTeuk dan Kangin?”. Ucap polisi. Hyun mengagguk cepat.
“Ne..saya teman mereka. Baiklah..gamsahamnida ahjussi, saya akan menyusul mereka”. Ujar Hyun lalu berlari pergi menuju rumah sakit yang ada diujung jalan sana.
“Kangin…”. Teriak Hyun seraya berlari mendekati Kangin yang sedang duduk di bangku dengan tatapan khawatir.
“Hyun..sedang apa kau disini?”. Tanya Kangin . Hyun ikut duduk disamping Kangin lalu menatap Kangin.
“Dimana LeeTeuk?”. Kata Hyun bertanya balik.
“LeeTeuk ? Kau tau dari mana dia ada disini?”.
“Kau pikir aku bodoh atau tuli? Suara seberisik didepan rumahku tadi memang sama sekali tidak aku dengar, hah?”.
“Oh..mianhae Hyun.. aku telah membocorkan semuanya pada LeeTeuk”. Ucap Kangin lalu menundukkan kepalanya. Hyun menghela nafas panjang lalu bersender pada kursi. “Kenapa kau menceritakan semuanya?”.
“Aku khawatir padamu, kau selalu menolak bantuanku, ku pikir kalau LeeTeuk yang membantu kau tidak akan menolaknya. Benarkan?”. Ujar Kangin sedikit gugup takut Hyun akan marah padanya.
“Kenapa kau bisa berfikiran seperti itu? Aku menolak bantuannya juga”.
“Aku tau kau menyukai Teuki, iya kan?”. Hyun menoleh kearah Kangin dan mengangkat alisnya bingung.
“Jangan suka mengarang Kangin-ah”.
“Aku tidak mengarang, kau sendiri yang bilang padaku”.
“Aku tidak pernah bilang padamu, kapan aku pernah bilang kalau aku menyukai LeeTeuk?”.
“Seminggu yang lalu, saat itu kau bilang padaku, kalau kau terpesona dengan senyuman Teuki. Dan setiap Teuki datang ke café,kau selalu tersenyum, padahal aku tau kau sedang banyak pikiran, dan juga saat Teuki tidak datang ke café sehari saja, kau selalu bertanya padaku kenapa Teuki tidak datang ke café. Apa itu belum cukup menggambarkan kalau kau sebenarnya sedang jatuh cinta bukan pada Teuki”.
“Aku tidak tau, kenapa kau begitu teliti sekali sih”.
“Tentu saja, aku ini berteman denganmu tidak sehari duahari Hyun, aku sudah mengerti raut wajahmu kalau sedang sedih,senang,marah,kesal bahkan raut wajah kau sedang menyukai seseorang saja aku tau. Jadi…?”.
“Apanya yang jadi?”.
“Kau menyukainya bukan? Sudahlah tidak usah ditutupi lagi Hyun”.
“Aku … kau pikir saja sendiri”. Ujar Hyun lalu berjalan pergi meninggalkan Kangin yang sedang tertawa kecil.
“Ya..Hyun..kau tidak mau menjenguk Teuki dulu? Kau sudah cape-cape datang kesini hanya untuk mengobrol denganku? Aku tau kau khawatir dengan Teuki kan? Hyun..”. Kata Kangin . Hyun tidak menoleh dan tetap berjalan pergi. Kangin berlari kecil menyusul Hyun lalu menarik tangan Hyun kearah ruang ICU tempat LeeTeuk berada.
“Ya..ya..Kangin-ah, lepaskan aku..”. Hyun mencoba berontak.
“Sudahlah Hyun..jangan memendam semuanya sendiri”.
“Kangin-ah, aku harus pulang, ini sudah malam, aku besok harus kerja”.
“Hyun..asal kau tau, Teuki juga menyukaimu. Aku sudah cape melihat kalian yang sama-sama tidak mau mengaku kalau kalian sebenarnya saling menyukai. Jadi..sekarang waktu yang tepat untuk saling mengakui”.
“Ya..Kangin-ah lepas..”. Hyun tetap menolak untuk bertemu dengan Teuki. Wajahnya sudah mulai memerah lantaran malu. Tapi Kangin tetap menarik Hyun ke ruang ICU. KreEeekKkKk..pintu dibuka Kangin pelan.
“Teuki..aku bawa sesuatu untukmu”. Kata Kangin lalu menarik Hyun kehadapan Teuki yang terbaring di tempat tidur rumah sakit. Hyun menunduk tidak mau melihat LeeTeuk dengan keadaan wajahnya yang merah padam. LeeTeuk tersenyum lemah menatap Hyun yang sedang tertunduk malu.
“Aku harus keluar..duduklah Hyun dan bicarakan semuanya”. Ujar Kangin lalu menarik Hyun untuk duduk disebelah tempat tidur LeeTeuk. Hyun masih tertunduk. “Annyeong..”. Kangin melambai lalu tertawa.
“Heuh~ aku sudah merelakanmu Hyun, aku sudah rela bila kau lebih memilih Teuki dari pada aku”. Kata Kangin berbisik pada hatinya dan mencoba tersenyum bahagia. Karena Hyun sahabat kecilnya yang sebenarnya dia sendiri menyukai Hyun sejak dulu, akhirnya mendapat lelaki yang tepat untuk mendampinginya di masa depan.
Kangin berjalan santai keluar rumah sakit hendak pulang. Sembari bersenandung kecil mencoba ikut bahagia walau sebenarnya hati kecilnya terasa perih. “Aku Kangin..aku harus kuat”. Ujarnya didalam hati. Kalimat ampuh yang dapat membuatnya tetap sabar.
Brrruuukkkk..
“Ah! Mianhae..mianhae..”. Kangin menabrak seorang suster yang sedang membawa tumpukan file di tangannya. Dan sekarang, seluruh kertas berserakan dilantai. Kangin mencoba membantu membereskan kekacauan yang dibuat. “Gwenchana..gwenchana..”. Ujar suster itu seraya jongkok ikut membereskan kertas yang berserakkan.
Kangin menoleh kearah suster itu, Glekk .. Kangin menelan air liurnya saat menatap suster itu. ‘Neomu yeoppeoyo’. Kata Kangin didalam hati. Suster itu tersadar, kalau dirinya sedang ditatap Kangin, dia mengibas-ngibas tangannya didepan wajah Kangin. “Hey..kenapa melihatku seperti itu?”. Kangin tersadar lalu kembali membereskan kertas dilantai. “Siapa namamu?”. Tanya Kangin. “Heu? Oh..SongHae imnida”. Jawabnya. Kangin tersenyum penuh arti.
LeeTeuk dan Hyun hanya terdiam tanpa bicara sepatah katapun. Tidak ada yang mau memulai percakapan. Hyun masih tertunduk sembari memainkan jari-jarinya. LeeTeuk hanya terbaring menatap langit-langit kamar sembari terus menghela dan menatap ke arah Hyun sesekali. Karena merasa bosan LeeTeuk mencoba memulai pembicaraan. “Hyun..apa kau masih marah?”. Tanya LeeTeuk. Hyun berhenti memainkan jarinya dan mengangkat wajahnya menatap LeeTeuk. “Aku tidak tau, aku harus marah atau tidak”. Jawab Hyun lalu dia tertunduk lagi.
“Apa benar kau menyukaiku?”.Tanya LeeTeuk to the point.“Aku tadi mendengar percakapan kalian,kau dan Kangin”
“Mwo? Kau mendengarnya? Semuanya? Aiiisssshhh..Kangin memang benar-benar sengaja mengeraskan suaranya”.
Ucap Hyun dan wajahnya kembali memerah. LeeTeuk menahan tawa.
“Jadi kau benar menyukaiku?”. Tanya LeeTeuk seraya menatap Hyun menunggu jawaban.
“Mollayo”. Ujar Hyun singkat. Tapi LeeTeuk sudah tau jawaban sebenarnya.
“Mianhae..aku terlalu ikut campur urusanmu Hyun. Aku hanya ingin membantu”.
“Emm..ne..maafkan aku juga karena aku terlalu egois”.
“Aku akan membantumu sebisaku. Kalau boleh tau..kau berhutang, emm maksudku appa-mu berhutang berapa won pada rentenir itu?”. Kata LeeTeuk hati-hati, takut menyakiti hati Hyun.
“400.000 won. Hiks..aku gka tau Teuk harus bayar uang sebanyak itu pake apa. Aku benar-benar bingung”.
“Shuutt..sudah Hyun, jangan menangis. Ada aku disini sekarang, aku akan membantumu”. Ucap LeeTeuk seraya mengelus pangkal kepala Hyun lembut. “Aku janji akan membantumu membayar hutang itu”.
“Ha? Benarkah? Tapi..aku..”.
“Tidak usah merasa sungkan Hyun, aku sudah janji padamu”. Sela LeeTeuk lalu mencium pangkal kepala Hyun.
“Gomawo..jeongmal gomawo Teuk. Aku sungguh merepotkanmu”.
“Anio..kau tidak merepotkan”. LeeTeuk menggeleng.
“Gara-gara aku, kau terluka seperti ini, gara-gara aku kau jadi terlibat hutang, gara-gara aku..”. Kata Hyun terpotong. LeeTeuk sudah mengunci bibir Hyun rapat, dengan bibirnya. *arrgghh..tidak..pingsan!*
Demi ikut membantu membayar hutang Hyun. LeeTeuk ikut berkerja paruh waktu di café Green Camp.Tempat yang mempertemukannya dengan Hyun. LeeTeuk sama sekali tidak mearasa direpotkan dengan semua yang dilakukannya untuk Hyun. Ini memang kemauannya, menjaga Hyun, apapun masalah yang menghadang. Mau itu masalah yang mudah ataupun yang sulit sekalipun. Selagi dia bisa dan mampu menjaga Hyun, untuk apa mundur.
Selama beberapa bulan ini LeeTeuk benar-benar membuat Hyun kagum. Kuliah sama sekali berjalan lancar, padahal waktu belajarnya sedikit tersita karena kerja paruh waktunya. Dan LeeTeuk berhasil menyelesaikan kuliahnya lebih cepat dari perkiraan. Kini dia masih berkerja sebagai pelayan di café Green Camp. Dia dan Hyun mengumpulkan uang demi uang dari hasil bekerja mereka, sungguh Tuhan memang benar-benar adil. Uang 400.000 won sudah terkumpul dan kini belenggu hutang sudah terputus seketika.
“Gomawo..aku benar-benar gak nyangka bisa terbebas dari ini semua. Aku banyak berhutang budi padamu, Teuk”.
“Sudah..tidak usah membahas yang sudah lewat, sekarang semua telah selesai. Kau hidup tenang sekarang”.
“Aku tidak tau harus membalas semuanya dengan apa”.
“Cukup dengan mencintaiku. Dan…maukah kau menikah denganku?”. LeeTeuk mengeluarkan kotak cincin dari saku celananya. Hyun Tertegun dan terbelalak kaget.
“Kau..kau yakin, akan memilihku? Kau tidak akan menyesal?”.
“Ani..aku tidak akan menyesal. Would you marry me?”.
“Teuk..jeongmal saranghae. I do ..”.
“Gomawo..”. LeeTeuk lalu memakaikan cincin dengan permata yang berwarna sapphire blue itu di jari manis Hyun.
Akhir bahagia untuk LeeTeuk dan HyunHyo.
Huahahahahaha..ini cerita sumpah gak jelas banget ya?
Di tunggu comment-nya, mau dibilang jelek atau apalah, aku tetap sabar. *PLAKkK*
^^v annyeong~ ketemu lagi di FF selanjutnya. *pede banget bakal dibaca FF selanjutnya*
[2nd FF] WAEYO ?!
Oktober 8, 2010
FanFiction K-pop siwon, Super Junior 6 Komentar
[2nd FF] WAEYO ?!
Main cast :
– Choi Siwon
– Shin Yeonra / Dini
(Flash back)
“Shin Yeonra .. sini..kemarilah”. Teriak Siwon sembari mengibaskan tangannya. Yeonra yang sedang melamun dibawah pohon dengan sigap berlari ke arah Siwon yang sudah duduk terlebih dahulu di teras.
“Ne..waeyo oppa?”. Ujarnya lalu ikut duduk disebelah Siwon. Siwon tersenyum melihat ke arah Yeonra.
“Tadi..aku..iseng bermain gitar sambil bernyanyi di ujung taman, dan kau tau..”. Siwon memotong ceritanya yang membuat Yeonra membenarkan duduknya, menajamkan pendengarannya, dan menatap Siwon penasaran. “Lalu?”.
“Banyak orang yang melemparkan koin bahkan selembar uang ke arahku, padahal aku tidak berniat mengemis”.
Yeonra menatap Siwon melongo. Ini sudah melanggar peraturan panti. Di panti asuhan tempat Yeonra dan Siwon hidup ,tidak di perbolehkan mengemis atau semacamnya, apalagi mereka masih sangat kecil, tidak pantas.
“Oppa..kau melanggar peraturan..kau bisa kena pukul Kang songsaenim”. Sentak Yeonra mengingatkan. Siwon jadi sedikit bergidik bila dia akhirnya tertangkap basah oleh pemilik panti itu. Bisa habis tubuhnya membiru.
“Aku tau..tapi aku tidak sama sekali berniat untuk mengemis tadi..lagi pula..uangnya sudah habis”.
“Mwo? Habis? Oppa apakan?”. Yeonra menaikkan alisnya tidak percaya, secepat itukah Siwon mengabiskan uang.
“Kau tutup matamu”. Ujar Siwon menyuruh, tapi Yeonra malah menggeleng.
“Anio..oppa harus menjawab pertanyaanku”. Jawabnya lalu menggelengkan telunjuknya dihadapan Siwon.
“Baiklah..”. Siwon merogoh saku celanannya yang sudah kusam. “Ini..ini untukmu..pakailah”.
Yeonra melongo kaget melihat sebuah kalung perak dengan bandul berbentuk beruang, di tangan Siwon.
“Oppa..oppa mem..beli ini dari..hasil uang tadi?”. Pekik Yeonra sedikit tergagap tidak percaya. Dia pikir Siwon akan menghabiskan uangnya dengan membeli makanan atau mungkin pakaian. “Oppa..ini..untukku? Waeyo?”.
“Aku tau..kau menginginkan kalung seperti ini kan? Tadinya aku berniat, uang itu akan ku belikan makanan saja, tapi..nanti pasti akan di curigai Kang songsaenim, jadi ku pikir lebih baik membeli suatu benda saja, dan aku ingat kau. Bagaimana? Kau suka?”. Yeonra Nampak berkaca-kaca. Kalung itu Nampak berkilau terkena pantulan cahaya matahari . Yeonra tidak habis pikir, sebegitu baiknya Siwon pada dirinya yang sama sekali bukan siapa-siapanya. Yeonra mulai terisak pelan.
“Kenapa menangis? Kau tidak suka?”. Siwon menatap wajah Yeonra heran.
“Ani..ani..aku sangat menyukainya..gomawo oppa”. Siwon lalu memakaikan kalung itu keleher Yeonra setelah itu berdecak kagum melihat leher Yeonra yang nampak cocok memakai kalung itu. “Neomu yeppoe..”. Kagum Siwon.
“A, oppa..bagaimana kalau Kang songsaenim bertanya soal kalung ini? Aku kan tidak pernah memakai kalung”.
Siwon menepuk jidatnya pelan. “Kau benar..ya sudah..kau simpan saja..jangan kau pakai”.
“Benar..aku akan menyimpannya”. Yeonra buru-buru melepaskan kalungnya dan menggenggam kalung itu erat.
“Jangan sampai hilang. Arraseo?”.
“Ne..oppa, aku akan menjaganya”. Yeonra berjanji didalam hatinya , akan menjaga kalung itu dengan baik.
“KEBAKARAN..KEBAKARAN..KEBAKARAN..AYO KELUAR..KELUAR..!!!”.
Yeonra yang masih tertidur pulas diatas kasur yang berdesakkan sedikit terlonjak kaget mendengar teriakan gaduh dari luar kamarnya. Dia belum sepenuhnya sadar dari tidur, dengan badan yang masih sedikit pegal karena tidur berdesakkan, Yeonra turun dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamarnya. Yeonra terbelalak kaget saat sekumpulan asap mengepul memenuhi lorong kamar yang sudah tidak terlihat, tertutup oleh asap. Dengan panik Yeonra membangunkan teman-temannya yang masih bermimpi, untuk segera keluar.
“YA! ppali ireona!!! ppali !!!!”. Teriak Yeonra sembari mengguncang-guncangkan tubuh temannya.
“Ada apa sih..kenapa berteriak seperti itu?!”. Seluruh teman Yeonra terbangun lalu mengucek matanya dan sedikit menatap Yeonra kesal karena telah dibangunkan dengan cara tidak halus.
“Kebakaran!! Ada kebakaran!!! Cepat keluar!!”. Kata Yeonra frustasi. Dengan kesadaran yang baru terkumpul semua anak yang tadinya bermalasan bangun, berhamburan turun dari tempat tidur dan berjerit histeris.
“Tenang..tenang..kita harus keluar pelan-pelan”. Yeonra dengan berani membuka pintu kamar lalu mengintip memastikan api belum menjalar ke kamarnya. “Sipp..ayo keluar..jangan terburu-buru”. Perintah Yeonra pada teman-temannya. Dengan wajah ketakutan, anak-anak itu keluar dari kamar dan berlarian pergi menuju pintu dapur yang langsung berhadapan dengan jalan raya. Yeonra teringat akan kalung dari Siwon, dengan cepat, dia berlari menuju laci tempat dia menyimpan kalung itu lalu keluar kamar, namun dia terjebak dilorong kamar, karena asap semakin mengepul dan pengelihatannya semakin minim. “Ohhookk..ohhookk..Si..won..oppa”. Yeonra terbatuk-batuk sembari mencari jalan. Tubuhnya sudah lemas karena terlalu banyak menghirup asap kotor. Langkahnya semakin pelan dan kali ini kaki kecilnya sudah tidak bisa digerakan lagi,lemas. “Si..won..oohookk.ohookkk..oppa”. Ucapnya dengan terbatuk-batuk.
Dan beberapa detik kemudian dia sama sekali tak sadarkan diri, namun indera perabanya masih berjalan, dia merasakan ada seseorang yang menyentuhnya dan mengguncangkan badannya. Dengan segala tenaga tersisa, Yeonra membuka matanya ,samar dia melihat wajah seseorang yang dia sebut dari tadi. “Si..won..oppa..oppa”. Setelah itu semuanya kembali gelap.
“Apa..anak itu akan baik-baik saja?”.
“Aku rasa begitu..dia hanya shock. Dia akan baik-baik saja”.
Yeonra membuka perlahan kelopak matanya dengan berat. Sinar lampu membuat matanya sedikit menyipit tersilau. Kepalanya terasa begitu pening dan berdenyut hebat. Kaki dan tangannya serasa bebal, tidak bisa digerakkan. “Dia sudah bangun”. Suara seorang wanita disebelahnya membuat Yeonra membuka lebar matanya. Dia menengok kearah sumber suara dengan wajah kaget. “Aku..aku dimana?”. Cekatnya dengan khawatir.
“Kau ada dirumah sakit..tenanglah dulu”. Seorang suster dengan rambut hitam panjang menatapanya dengan iba sama seperti wanita di sebelah suster itu. “Kau siapa?”. Tanya Yeonra heran dengan wanita yang lumayan sudah berumur itu. Wanita itu tersenyum lalu menghampiri Yeonra. “Aku menemukanmu tadi..”. Yeonra menaikan alisnya tidak mengerti. Dia mencoba berfikir, mengulang kejadian yang sudah berlalu, namun yang terekam di otaknya hanya dia terjebak di panti lalu dia digendong oleh Siwon dan setelah itu dia tidak tau. Hitam.
“Tadi kau tergeletak di depan rumahku nak…untung aku melihatmu”.Ujar Wanita itu lalu membelai rambut Yeonra. Yeonra tidak mengerti, sama sekali tidak paham. Dia hanya mengerenyitkan keningnya, tidak tau apa-apa.
“Aku tidak mengerti..aku ingin pulang”. Rengek Yeonra.
“Memang kau tinggal dimana, nak?”.
“Aku..aku..tinggal di..panti asuhan..tapi..pantinya..”.
“Kau tinggal di panti..panti SJ 13?”.
“Ne ahjumma..aku tinggal di situ..tapi..”.
“Bukankah panti itu baru saja kebakaran ? “.
“Ne..panti itu sudah terbakar..hiks..aku..aku..tidak tau harus pulang kemana..hiks..hikss”.
Wanita paruh baya itu menatap Yeonra kasihan, dia lalu memeluk Yeonra seperti memeluk anak sendiri. Mencoba menenangkan anak yang masih berumur 5 tahun itu dengan naluri keibuannya. Yeonra menangis sesenggukkan di pelukan wanita itu. “Aku..aku..harus kemana..hikss..Siwon oppa..”. Tangisan Yeonra makin mengeras. Suster yang sedari tadi terdiam melongo, akhirnya keluar dari kamar karena merasa tidak enak.
“Tenanglah..chupp..chupp..jangan menangis lagi”. Bujuk wanita itu seraya menepuk pelan punggung Yeonra.
“Aku..huaa..hikss..hikss..aku..tidak..punya..siapa-siapa..hikkss..hikss”.
“Kau..akan..”. Wanita itu menggigit bibir bawahnya mencoba berfikir, tindakan yang baik seperti apa.
“Kau..tinggal bersamaku saja…kau akan ku angkat menjadi anakku”. Ujarnya lalu menghela nafas yang sedari tadi ditahannya. Yeonra menatap wanita itu lalu sedikit meredakan tangisannya. “Jeongmal? Ahjumma..geotjimal?”.
“Aku serius…aku tidak tega..kau akan menjadi teman Hwa Ran nanti”.
“Hwa Ran? Nugu?”.
“Dia anak ahjumma satu-satunya, oh ya.. ireumi mwoyeyo?”.
“Shin Yeonra”.
“Kau bermarga Shin? Suamiku juga bermarga Shin. Ah, sungguh tidak bisa dipercaya”. Ujarnya lalu tersenyum manis. “Mulai hari ini..kau harus memanggilku eomma..ingat…jangan memanggilku ahjumma, arraseo?”.
“Hm..ne..eomma..hore..aku punya eomma..hore..!!”. Yeonra mulai menyeringai senang. Akhirnya..Yeonra bisa juga menikmati indahnya memiliki keluarga walaupun tidak sesungguhnya.
“Kau tidak boleh menganggap bahwa dirimu adalah anak angkat, kau anakku sekarang, anakku..”.
Yeonra mengangguk keras, lalu tersenyum lagi. “Eomma..”. Ucapnya lalu memeluk erat eomma barunya itu.
Saat pikiran dan hatinya sedang senang, dia teringat akan Siwon. Dia mulai gelalapan mencari kalungnya.
“Kau kenapa? Sedang mencari apa?”.
“Kalung..kalungku..”. Yeonra merogoh saku celananya dalam-dalam, namun sama sekali tidak menemukan barang itu. “Kalungku…”. Yeonra mulai terisak dan matanya kembali berkaca-kaca.
“Itu..dilehermu..kalung itu yang kau cari?”. Yeonra memegang lehernya, dia lalu tersenyum simpul.
“Aku kira hilang..tapi perasaan tadi kalung ini tidak aku pakai”.
“Dari tadi kalung itu sudah kau pakai Yeonra”.
Yeonra mengingat kembali. Dia tidak mungkin lupa, dia masih ingat, terakhir kali, kalung itu ia pegang bukan dipakai. Yeonra tidak peduli. Yang terpenting ia sekarang sudah punya keluarga, dan itu membuatnya senang. Tapi hatinya masih bertanya-tanya. …
‘Kemana Siwon oppa? Apa benar oppa yang menaruhku didepan rumah eomma?’.
Masih terlalu dini untuk mengetahuinya.
Dia belum cukup mengerti.
20 TAHUN KEMUDIAN…
“Aku diterima..aku diterima..eomma lihat, lamaranku diterima..”. Hwa Ran berjingkrak senang di depan eommanya dengan wajah gembira luar biasa. Beberapa kali dia melompat bahkan berputar kegirangan, percis seperti penari balet.
“Kau memang anak eomma yang hebat, selamat ya Hwa Ran.. eomma bangga padamu”. Hwa Ran berhenti berputar lalu memeluk eomma-nya yang sedang terduduk di kursi. “Mulai besok kau berarti satu kantor dengan Yeonra, iya kan?”. Hwa Ran merubah raut wajahnya, sekarang wajahnya menekuk sengit. Dia melepaskan pelukannya lalu memandang benci ketika nama Yeonra disebut.
“Aku benci dia”. Sahutnya lalu melipat tangannya di dada.
“Kau tidak boleh seperti itu, kalian ini bersaudara”.
Hwa Ran menghela nafas pelan lalu melongos pergi tanpa permisi. Mood-nya sudah berubah sekarang. Eomma-nya hanya menggeleng lalu menyederkan badannya ke kursi. “Kenapa dia begitu benci dengan Yeonra”.
Hwa Ran menaiki tangga menuju kamarnya dengan kesal. Setiap nama Yeonra terlontar saat hatinya sedang senang, entah mengapa aura positif itu tiba-tiba menghilang lalu berganti dengan aura negative. Hwa Ran menghentakkan kakinya keras. Ia baru sadar kalau kakak-nya itu bekerja juga dikantor yang dia incar dari dulu. Rasa menyesal mulai hinggap di hatinya, kenapa dia harus mengajukkan lamaran di kantor yang sama dengan kakak-nya itu. Betapa bodohnya dia sampai lupa kalau kakak-nya juga bekerja disana.
“Aiissshh..pabo”. Gerutunya kesal. Dia tidak mungkin mengundurkan diri dari kantor barunya itu, dia sudah mati-matian membuat proposal , tidak mungkin semudah itu mengundurkan diri hanya karena ada kakak-nya disana. Itu konyol sekali.
Yeonra merenggangkan ototnya yang tegang, seharian dia bekerja sampai harus melewati makan siangnya. Tumpukkan berkas di mejanya sudah tersusun rapi sekarang, pekerjaannya sudah selesai. “Aku lapar~”. Ujarnya lalu mengelus perutnya yang terasa kosong. Dia mendelik melirik jam yang ada di meja kerjanya. 14:03. Dia tersenyum lalu berdiri menyambar tasnya di meja dan keluar dari ruangan yang menahannya untuk makan siang. Kantor benar-benar lengang, bukannya tidak ada orang, tapi semua sedang sibuk di meja mereka masing-masing. Menatap komputer atau menatap kertas-kertas. Yeonra dengan cepat pergi menuju lift dan memencet tombol ke bawah. Saat menunggu pintu lift terbuka, seseorang yang entah sejak kapan ada disampingnya menatap Yeonra lalu tersenyum. “Kau..”.
“Mwo hae? Jangan mengikutiku”.
“Yeonra-ya apa kau menerima tawaranku kemarin? Kau menerimanya?”.
“Shirheo”.
“Hanya makan malam, kau tidak mau?”.
“Anio..kau tidak dengar? Aku tidak mau!”.
“Tapi..”.
“Key-ssi jebal .. pikyeo”.
Pintu lift terbuka di lantai satu, Yeonra berjalan keluar lift tanpa melirik Key sedikit pun. Bukan bermaksud sombong, itulah sifat Yeonra sekarang. Lebih tertutup dan tidak ceria, berbeda dengan Yeonra kecil dulu. Dia lebih senang menyimpan semuanya sendiri. Dan sepertinya orang sekelilingnya sudah memaklumi sifat buruknya itu. Walaupun seperti itu dia adalah orang yang baik hati juga.
Siwon menatap kosong kearah luar jendela apartemen barunya yang sederhana. Keputusannya entah bagus atau buruk sekarang, meninggalkan Cheonan dan menetap di Seoul untuk menerima tawaran kerja yang menggiurkan. Siwon tinggal di Cheoanan bersama neneknya, tidak ada pekerjaan yang bagus di kampung neneknya itu. Jadi Siwon dengan berbekal ijazah S2-nya melamar kerja ke sebuah perusahaan besar di Seoul dan tak disangka, dia diterima. Siwon sempat tidak tega meninggalkan neneknya sendiri, tapi .. kalau tidak mengambil kesempatan ini, Siwon dan neneknya mau makan apa nanti? Batu?.
“Hah~ aku sudah melupakan Seoul, terlalu banyak kenangan manis disini yang tidak mungkin bisa ku ulangi”.
Siwon tersenyum ketika sebuah wajah muncul dibayangannya. “Kau seperti apa ya sekarang?”.
Yeonra melambai kearah seorang pelayan pria ketika dia baru saja menempelkan dirinya di kursi café.
“Mau pesan apa aggeshi?”.
“Cappucino dan puncake strawberry”. Ujarnya lalu bertopang dagu menatap ke arah luar jendela. Yeonra melihat pantulan dirinya di kaca jendela. Dan tidak sengaja Yeonra melihat kalung beruang yang ada dilehernya lewat pantulan itu. Dia menyentuh kalungnya lalu hatinya sedikit teriris sakit. Yeonra mulai sedikit terisak. “Oppa..”. Dia mulai mengeluarkan air mata, lukanya terbuka lagi.
“Kenapa kau menangis lagi?”. Key mencoba memperhatikan Yeonra dari dalam mobilnya yang tidak jauh terpakir dari café yang Yeonri tempati. “Kau kenapa Yeonra-ya?”. Mata Key terus terpaut pada Yeonra. Key tau, tidak seharusnya dia mengusik macan lapar, bisa-bisa dia diterkam nantinya. Tapi..dia benar-benar sudah jatuh hati pada Yeonra. Dan Key sudah berjanji pada dirinya untuk bisa menjaga Yeonra walaupun dari jauh.
Hwa Ran menatap dirinya di cermin. Ini hari pertamanya bekerja jadi penampilannya harus terlihat sempurna. Dengan stelan kemeja dan rok dibawah lutut, rambut tergerai dan sepatu high heels tiga centi menambah manisnya Hwa Ran. Dia sudah siapa sekarang. Tapi secara fisik saja yang terlihat siap, namun batinnya masih kurang terlalu siap. Dia akan jadi bawahan kakak-nya sekarang. Hwa Ran memicingkan mata didepan cermin dengan wajah sombong. “Kau tidak akan bisa menang dariku!”. Ujarnya lalu bergegas keluar kamar. Dia menuruni tangga dan berjalan menuju ruang makan. Di meja makan sudah ada eomma dan Yeonra, mereka sedang menikmati sarapan dengan diam. “Eomma..selamat pagi..”. Ucap Hwa Ran lalu mencium pipi eomma-nya dan duduk disebelahnya.
“Pagi sayang…sesang! Anak eomma sudah rapi sekali, bagaimana, apa kau tegang?”.
“Sedikit..aku takut tidak bisa bekerja dengan baik nanti”. Jawabnya lalu menyendokkan nasi goreng ke piringnya.
“Eomma yakin kau akan baik-baik saja, kau kan anak pintar”. Puji eomma lalu mengelus rambut Hwa Ran.
“Gomawo eomma”. Ujarnya seraya melahap sarapannya.
“Aku sudah selesai, aku pergi duluan..”. Pamit Yeonra tiba-tiba.
“Kau tidak berangkat bareng dengan Hwa Ran? Kalian kan satu kantor”.
Yeonra menghela nafas pendek lalu kembali duduk dan menunggu Hwa Ran sarapan.
“Aku sudah selesai..eomma aku berangkat”. Ujar Hwa Ran lalu memeluk eomma-nya.
“Hati-hati di jalan”. Hwa Ran hanya mengangguk seraya melambaikan tangannya.
“Aku pergi eomma”. Ucap Yeonra datar.
“Kau jaga Hwa Ran ya, bersikaplah seperti seorang saudara”.
“Ne..aku pergi”.
Yeonra berjalan menuju garasi lalu memasuki mobil hitamnya. Hwa Ran juga ikut masuk dan duduk disebelahnya.
Key memasuki kantor dengan senyum yang biasa dia tunjukkan. Hari ini dia berniat mengajak Yeonra untuk makan siang bersama, walaupun dia sudah memprediksi akan di tolak, setidaknya dia sudah menunjukkan usahanya pada Yeonra. “Selamat pagi”. Ujar Key sedikit membungkuk pada karyawan lain yang sedang berjalan melintasinya. Key berjalan menuju lift dan memencet tombol naik.
“Permisi..aku mau bertanya”. Key menoleh ketika ada seseorang mengajaknya berbicara. Dia menyipitkan matanya memperhatikan ke arah namja yang sedang ada disebelahnya. “Aku baru melihatmu..kau karyawan baru?”.
Namja itu mengangguk. “Ne..aku karyawan baru disini. Mohon kerjasamanya”. Namja itu membungkuk kearah Key.
“Kau mau bertanya apa tadi”.
“Ruangan staf management pemasaran di sebelah mana?”.
Key tersenyum dan menjentikkan jarinya. “Kau satu ruangan denganku..hahaha..ngomong-ngomong siapa namamu?”.
“Siwon imnida, mohon bantuannya”. Siwon membungkuk 180° lagi kearah Key.
“Ya! Siwon-ssi, jangan se-formal itu denganku, biasa saja. Oya, aku Key”. Key menjulurkan tangannya .
Siwon membalas uluran tangan Key dan menjabatnya. “Baiklah..Key-ssi”.
“Sudah sampai”. Celetuk Yeonra datar saat mobilnya sudah terparkir di parkiran kantor. Hwa Ran menoleh lalu membuka pintu mobil dan keluar.“Aku tidak tau dimana ruanganku”. Kata Hwa Ran lalu menyibakkan rambut panjangnya.
“Ruanganmu di lantai lima”. Jawab Yeonra lalu pergi melewati Hwa Ran.
Hwa Ran melipat tangannya di dada lalu tersenyum evil. “Jangan sombong dulu kau, Shin Yeonra”. Katanya lalu melangkah memasuki gedung kantor.
“Yeonra-ya … selamat pagi”. Sapa Key ketika Yeonra berjalan menuju ruangannya.
“Sedang apa kau disini? Ruanganmu kan dilantai tujuh”.
“Aku hanya ingin menyerahkan ini padamu, berkas ini harus kau tanda tangan”.
“Oh”. Jawab Yeonra singkat lalu meneruskan berjalan menuju ruangannya. Key mengekor mengikuti Yeonra dibelakang.
“Mana berkasnya”. Pinta Yeonri ketika dia sudah duduk di kursinya. Key menyerahkan berkasnya .
“Oh ya.. Yeonra-ya..nanti siang, kau mau makan siang bersama?”. Tawar Key ragu.
Yeonra mendelik menatap Key lalu meneruskan membaca berkas yang ada dihadapannya tanpa menjawab pertanyaan Key.
“Hmm..kau tidak mau? Baiklah..”. Ujar Key seraya tersenyum walaupun sebenarnya sakit.
“Ini berkasnya, gomawo sudah mengantarkannya”. Ucap Yeonra lalu menyerahkan berkasnya kehadapan Key.
“Ne..cheonmaneyo”. Jawabnya lalu sedikit membungkuk dan keluar dari ruangan.
Key menghela nafas panjang, terasa sesak dadanya. Sudah yakin dan itu pasti, Yeonra tidak akan pernah melihatnya, tidak akan pernah. Namun Key tetap yakin, suatu saat nanti akan ada waktunya untuk Key bisa meluluhkan Yeonra.
Entah itu kapan.
“Mianhae Key, aku tidak bermaksud jahat padamu..”. Yeonra menggengam kalung yang terlilit dilehernya.
“Aku..aku masih menunggunya..mianhae..”.
“Siwon-ssi mau makan siang bersamaku?”. Ajak Key pada Siwon yang sedang sibuk mengetik sesuatu di komputernya.
“Aku masih banyak pekerjaan, nanti saja makan siangnya”. Jawab Siwon tanpa mengalihkan pandangan.
“Sudahlah..kau pasti bisa menyelesaikannya dengan cepat, kau harus makan siang dulu. Ayo..”.
“Tapi..”. Key mengibaskan tangannya keudara lalu menarik Siwon dari meja kerjanya. Dan menggiringnya untuk makan siang.
“Kau tau..makanan di kantin ini enak sekali, kau akan ketagihan nantinya”. Celoteh Key panjang lebar sembari berjalan menuju kantin kantor. Siwon hanya tersenyum pura-pura menanggapi setiap ucapan yang keluar dari bibir Key yang cerewet.
Setelah mereka sampai di kantin, Key memberikan nampan ke arah Siwon. “Kau makan sepuasnya, aku yang traktir, untuk kali ini”.
“Ah, gomawo Key-ssi”. Siwon merasa tidak enak. Key terlalu baik padanya. “Sudahlah..ini ucapan selamat datang dariku”.
Siwon mengangguk lalu menyendokkan beberapa makanan ke nampannya. Siwon mengedarkan pandangan keseluruh penjuru kantin, mencari meja yang kosong untuk ditempatinya dan Key untuk makan, tapi kantin sepertinya sudah penuh dipadati karyawan lain. Saat Siwon melihat ke arah meja yang berderet di pinggir-pinggir kantin, matanya membulat. “Yeonra..”. Nampan yang dipegangnya hampir saja ambruk kalau Key tidak buru-buru menahan nampan itu. “Ada apa Siwon-ssi? Kau sepertinya kaget”.
Siwon menggeleng lalu mengalihkan pandangannya ke arah meja yang di pinggir-pinggir kantin itu. ‘Aku salah liat..salah liat’.
“Waeyo..ada apa sih”. Key masih penasaran dengan perubahan sikap Siwon. “Siwon-ssi kau kenapa ha?”.
“A-ani..aku..euh..gwenchana..ne..gwenchana..”.
“Ah, masa bodoh, ya sudah kita cari tempat untuk makan”.
“Ani..kita makan..diruangan kita saja, disini panas..huh..panas”. Ujar Siwon lalu mengipas wajahnya.
“Tidak boleh makan didalam ruangan, itu peraturan. A, di situ saja”. Key menunjuk ke arah meja kosong di sebelah Yeonra. Dia sengaja memilih tempat itu, karena itu kesempatan baginya untuk bisa berdekatan dengan Yeonra. “Kita makan disana saja”.
“Andwae..aku..”.
“Shutt..kau akan ku kenalkan dengan gadis itu”. Kata Key semangat. “Dia..gadis yang aku suka”. Bisiknya pelan.
“Tapi..”. Belum selesai Siwon berbicara, Key sudah menariknya menuju meja kosong itu. Dengan wajah yang gugup dan debar jantungnya yang kencang, Siwon di tarik Key unutk makan di meja kosong di sebelah Yeonra itu.
“Yeonra-ya, aku boleh duduk disini?”. Tanya Key. Yang di tanya hanya menghela nafas lalu melanjutkan makannya.
“Baiklah..gomawo”. Jawab Key, seraya duduk di depan Yeonra. “Oya..Yeonra-ya kenalkan..ini karyawan baru..Siwon-ssi”.
Yeonra berhenti menyuapkan nasi kemulutnya. Dahinya berkerut, lalu dia mendongkakkan kepalanya menatap Key yang ada di hadapannya lalu melirik namja disebelah Key. Bibir mungilnya menganga kaget, sendok yang digenggamnya jatuh. “Oppa..”.
Siwon terlihat gusar.Key menatap Yeonra dan Siwon bergantian, bingung dengan sikap mereka.
“Oppa..”. Matanya terus menatap Siwon dengan berkaca-kaca. Lirihannya membuat Siwon tidak bisa berbuat apa-apa.
“Kau mengenalnya Yeonra-ya?”. Tanya Key hati-hati.
Yeonra mengeraskan rahangnya dan menatap Siwon geram. Lalu dia mengambil tas yang ada disebelahnya dengan cepat dan berdiri pergi meninggalkan meja dan makanannya yang masih bersisa. Key makin menggerenyitkan dahinya, belum mengerti.
“Yeonra..Shin Yeonra.!!”. Siwon berteriak memanggil nama Yeonra, lalu ikut meninggalkan meja dan mengejar Yeonra.
“Yeonra..Yeonra-ssi..berhenti !”. Siwon terus mengejar Yeonra yang berlari cukup cepat. Namun, gadis itu sama sekali tidak mengindahkan teriakan Siwon, dia terus berlari hingga keluar gedung, dan Siwon tetap mengejarnya. “Ku mohon..berhentilah..”.
Siwon mempercepat larinya, dia hampir dekat dengan Yeonra. Hup..Siwon memeluk Yeonra dari belakang, mengunci gadis itu dengan pelukannya . Mau tak mau Yeonra menghentikan larinya, pelukan Siwon benar-benar mengunci tubuhnya untuk bergerak.
“Lepaskan..”. Pinta Yeonra dengan suara isakannya. Siwon menggeleng dan tetap pada posisinya.
“Ani..aku tidak akan melepaskannya”. Jawab Siwon. Air mata Yeonra mengalir lalu jatuh ke tangan Siwon.
“Lepaskan..jangan menghalangiku”. Sentak Yeonra yang mulai emosi.
“Mianhae..mianhae..aku..”.
“Aku tidak mau dengar..aku tidak mau dengar..”. Yeonra menutup telinga dengan tangannya dengan susah payah, karena tubuhnya masih dipeluk erat Siwon. “Pergi..jangan tunjukkan wajahmu lagi”.
“Shin Yeonra..dengarkan aku..aku tidak..bermak..”.
“AAAA..LEPASKAN! AKU TIDAK MAU DENGAR SEMUANYA AKU TIDAK MAU..LEPASKAN!”. Yeonra mulai berteriak lalu memukul-mukul tangan Siwon. Yeonra sama sekali tidak mau mendengar penjelasan Siwon sekarang, hatinya belum siap. Terlalu sakit.
“Aku tau,kau benci padaku sekarang,aku tau..dan aku terima semuanya..itu hukuman buat aku, tapi..dengarkan aku sebentar saja”.
“ANI..AKU TIDAK MAU..PERGI..AKU TIDAK MAU…AKU BENCI KAU..CHOI SIWON!! BENCI!”.
Siwon menatap nanar, Yeonra sudah membencinya..sangat membencinya. Dengan refleks tangan Siwon melonggarkan pelukannya.
“Kau..membenciku?”. Tanya Siwon dan kini tangannya sudah terlepas dari tubuh Yeonra.
Yeonra tidak menjawab, dia kembali berlari meninggalkan Siwon yang masih mematung. Lemas rasanya mendengar Yeonra yang selama ini dirindukannya, yang selama ini selalu berputar-putar dibenaknya, yang selama ini selalu berada di mimpinya, mengucapkan sebuah kalimat ajaib yang dapat menembus membuat semua benteng pertahanannya jatuh.
“ANI..AKU TIDAK MAU..PERGI..AKU TIDAK MAU…AKU BENCI KAU..CHOI SIWON!! BENCI!”. Teriakan Yeonra masih terekam olehnya. Siwon tau, kesalahannya benar-benar fatal, tapi..tidak terpikir olehnya kalau Yeonra akan sebegitu benci dengannya.
“Mianhae..mianhae..jeongmal mianhae..”.
Yeonra terus menyeka air matanya yang terus keluar dengan punggung tangannya. Matanya mulai membengkak karena terlalu banyak mengeluarkan air mata. “Aku benci Choi Siwon..aku benci”. Hardiknya dengan suara yang menggeleong tak karuan.
Tubuhnya terus turun naik, sesenggukkan. Hidung dan matanya memerah. Baru kali ini dia menangis secapek itu. Bukan hanya tubuhnya saja yang lelah karena menangis, tapi batinnya juga ikut lelah. “Yeonra-ya..”. Sebuah suara berat yang biasa ia dengar tiba-tiba datang disaat dirinya sedang berantakan. Yeonra menutup wajahnya dengan kedua tangannya, merasa malu.
“Pergi..jangan menggangguku”. Bentaknya dengan kasar.
“Aku tidak akan pergi, aku akan menemanimu”.
“Jangan keras kepala..aku tidak membutuhkanmu, pergi..aku ingin sendiri”.
Namun lelaki itu tetap berdiri disamping Yeonra, menatapnya dengan sedih pula. Sakit rasanya melihat gadis itu menangis.
“Jangan menangis..setauku kau itu wanita yang kuat”. Ujarnya berargumen.
Yeonra mendengus pelan seraya menatap lelaki itu. “Kau tidak tau apa-apa, tidak usah berkomentar”.
“Berhentilah menangis, kau tidak akan menyelesaikan semuanya dengan menangis”.
Sekali lagi Yeonra mendengus lalu mendelik. Tidak akan ada yang bisa membaca hatinya saat ini, tidak akan ada yang mengerti.
“Kau ini kenapa Yeonra..sudah dua hari kau tidak masuk kerja, kau sakit? Kau juga jarang sekali makan”.
“Gwenchana eomma..aku hanya kecapean, aku sudah minta izin ke kantor kok”.
“Ya sudah, ini eomma buatkan bubur, dimakan, tadi malam kau tidak makan, nanti kau sakit, makanlah”.
Yeonra mengangguk lalu mengambil nampan dari tangan eommanya. Yeonra menatap sebentar makanannya, setelah eomma-nya keluar dari kamar, Yeonra meletakkan nampannya di meja tanpa menyentuh sedikit pun buburnya. Dia merebahkan lagi tubuhnya lalu menyelimuti dirinya. Yeonra terisak , air matanya sudah kering, jadi dia hanya bisa terisak dibawah selimutnya. Dan tanpa sadar, dia sudah tertidur, karena kelelahan.
Tok..tok..tok..
Krekkk..
“Ah, annyeong ahjumma..”.
”Mau mencari siapa?”.
“Apa benar ini rumah Shin Yeonra?”.
“Ne..kau siapa?”.
“Aku teman kantornya, aku ingin menjenguknya, Yeonra-nya ada?”.
“Ne..ada..masuklah..siapa namamu?”.
“Siwon imnida ahjumma”.
“Kau ke kamarnya saja, sepertinya dia sedang makan, itu kamarnya”.
“Ne..gomawo ahjumma..”.
Siwon berjalan perlahan ke arah pintu putih kamar Yeonra. Kamarnya tidak ditutup penuh jadi Siwon membukanya tanpa mengetuk.
“Dia tidur”. Bisik Siwon setelah melihat Yeonra yang berbaring membelakanginya. Tidak sengaja Siwon menginjak sebuah plastic yang tergeletak dilantai. Yeonra berbalik karena mendengar suara plastic itu.
“Kau..”. Yeonra terkaget melihat Siwon.
“Ah, aku..”.
“Untuk apa kau kesini, pergi, jangan ganggu aku”.
“Aku ingin menjelaskan semuanya..tolong dengarkan aku, ku mohon”.
“Anio..aku tidak mau dengar apapun darimu, silahkan pergi dari sini”.
“Shin Yeonra..”.
“Pergi atau aku teriak”.
Siwon menyerah, dia tidak mau membuat kekacauan di rumah Yeonra. Akhirnya dia keluar dari kamar Yeonra dan pergi.
Hujan terus turun ditengah kota Seoul yang ramai. Yeonra memeluk dirinya sendiri karena dinginnya udara. Hari ini Yeonra kembali masuk kerja seperti biasa, walaupun dia merasa harus hati-hati karena Siwon bisa saja tiba-tiba menghampirinya. Unutk sementara Yeonra akan menghindar dari Siwon, entah sampai kapan.
“Aku pakai apa ya biar sampai ke parkiran..nekat aja kali ya..ah tapi..nanti file-ku basah semua”. Ujarnya lalu melirik kearah file-file yang di pegangnya. Yeonra tetap terdiam di teras kantor, hari semakin sore dan hujan semakin deras. Saat sedang termenung menunggu hujan sedikit reda, sebuah payung terjulur dihadapan Yeonra. Yeonra berkerut heran lalu mengangkat kepalanya. “Kau..”.
“Annyeong..hehe..kalau menunggu hujan sampai reda, kau bisa pulang malam nanti, pakai ini”. Ucapnya lalu menjulurkan payung kearah Yeonra.
“Heu ? Anio..gomawo”. Ujar Yeonra lalu mengalihkan pandangannya.
“Yeonra-ya..pakailah..kau mau menunggu sampai gerbang kantor tertutup?”.
“…”.
“Ayo pakai..”. Paksa Key, namun Yeonra sama sekali tidak mengubris tawaran Key.
“Kau hanya membawa satu payung..kalau aku memakainya..kau pakai apa nanti?”.
“Kau lupa? Rumahku dekat dengan kantor, aku bisa berlari sampai rumah dengan selamat”.
“Anio..gomawo..aku menunggu hujan reda saja”.
Key membuka payungnya lalu menaruhnya dihadapan Yeonra. “Kau harus pakai ini, arraseo. Aku pergi”.
“Tunggu..aku..aku janji akan mengembalikannya besok, gomawo”. Ujar Yeonra sembari tertunduk.
“Ku tunggu ditaman dekat rumahmu ya besok, annyeong!”.
Key melesat pergi meninggalkan Yeonra yang masih terdiam sembari menatap payung dihadapannya. Yeonra sedikit tersenyum lalu mengangkat payung itu dan memakainya untuk sampai ke parkiran.
Hari minggu seperti ini, rasanya malas sekali untuk beranjak dari tempat tidur yang empuk dan hangat. Begitu pun dengan Siwon, namja tampan ini masih saja menyelimuti dirinya dan tetap menutup gorden kamar agar cahaya matahari tidak menembus sampai kedalam. Jam sudah menunjukan pukul 09.00, begitu malasnya Siwon untuk bangun. Saat akan menggulingkan tubuhnya kekanan, Siwon terjatuh dari tempat tidurnya.
“Aiissshh..sakit”. Ringisnya sembari mengelus kepalanya yang mendarat dilantai tanpa pengaman. Siwon menarik selimut yang menggulungnya dan melemparnya kasar. “Aaahh..sial sekali”. Umpatnya kesal. Matanya sudah tidak bisa tertutup lagi untuk tidur akibat benturan tadi, jadi dengan terpaksa dia bangun dan pergi untuk mandi.
Setelah selesai membersihkan dirinya, dia menuju dapur dan memasak ramyeon yang masih tersisa satu bungkus lagi. Saat sedang menunggu mie-nya selesai direbus, tidak sengaja Siwon melihat sebuah payung yang tergeletak di meja makan. “Ah, aku harus mengembalikan payung itu, malas sekali harus keluar apartemen”. Katanya seraya menggaruk kepala.
Yeonra bergegas memakai jaketnya dan keluar rumah sembari menenteng payung yang Key pinjamkan kemarin. Dia sudah janji bukan akan mengembalikannya hari ini, janji harus ditepati, jadi dengan sedikit rasa malas, dia pergi ke taman dekat rumahnya, mereka sudah janjian disana. Yeonra bersenandung kecil sembari berjalan santai. Jarak taman dengan rumahnya memang dekat, hanya tinggal berjalan lurus lalu belok kanan. Tidak perlu waktu lama Yeonra sudah sampai di taman. Dia menengok ke seluruh penjuru taman, namun tidak ada sosok Key disana.
“Dimana namja itu”. Gumamnya dengan wajah sedikit kesal. Terpaksa Yeonra harus menunggu kedatangan Key. Dia mencari bangku taman yang kosong. Taman hari ini begitu banyak orang, maklum hari ini kan hari Minggu.
“Ahh..sudah lama aku tidak olah raga..hitung-hitung olah raga deh, tamannya tidak terlalu jauh ini”. Ujar Siwon lalu melanjutkan langkahnya lagi. Siwon berjalan riang dengan payung abu-abu ditangannya.
“Ah..pasti itu tamannya”. Siwon sudah janjian dengan Key hari ini. Di taman dekat sebuah perumahan, yang lumayan jauh dengan apartement-nya. Siwon memasuki taman yang sudah ramai itu. Siwon celingak celinguk mencari Key. “Kemana dia”. Ujarnya lalu berjalan menelusuri taman unutk mencari Key. Tapi pada saat Siwon berjalan mendekati kolam air mancur, dia melihat Yeonra yang sedang duduk sendiri sembari memegang payung yang sama percis dengan yang dia bawa. Siwon tercekat, dia tau maksud dari Key apa. Dia sudah dijebak, dan ini kesempatan untuk berbicara banyak dengan Yeonra. “Ah..kau memang teman yang baik Key”. Ucapnya lalu tersenyum.
Sepasang kaki berhenti tepat di depan Yeonra, gadis itu langsung menjulurkan payung yang ia pegang tanpa menoleh . “Ini payungnya Key-ssi, gomawo”. Ujarnya tampa memandang.
“Shin Yeonra..”. Ucap lirih pemilik sepasang kaki itu. Mata Yeonra membulat, merasa kenal dengan suara itu. Dengan cepat dia mengangkat kepalanya dan benar saja, suara itu milik .. “Oppa..”.
Yeonra menatap sebentar lelaki yang ada dihadapannya, setelah itu dia berdiri dari duduknya hendak pergi meninggalkan namja itu. “Jangan pergi..ku mohon jangan pergi..”. Ucap namja itu seraya menggenggam lengan Yeonra agar dia berhenti. Yeonra memberontak untuk melepaskan tangannya. “Pergi!”. Bentak Yeonra kasar.
“Ku mohon kali ini saja kau dengar omonganku, aku mau menjelaskan semuanya”. Ucap lelaki itu memohon.
Siwon tetap menggenggam tangan Yeonra walaupun gadis itu meronta minta untuk dilepas.
“Lepaskan!”.
“Ani! Aku akan melepaskannya kalau kau mau mendengarkan aku”.
Yeonra menatap Siwon sengit. Lalu dia menunduk lagi dan mengangguk pelan.
“Mianhae..mianhae..aku tau kau pasti marah sekali padaku, aku tidak bermaksud..”.
“Kenapa kau membuangku, kenapa? Memang aku ini sampah ha? Kau buang seenaknya didepan rumah orang!”.
“Bukan maksudku membuangmu..kau tau kan, aku ini tidak punya siapa-siapa di Seoul, aku tidak tau orang tuaku pergi kemana, aku tidak tau mereka masih hidup atau tidak, aku tidak tau, yang aku tau, keluargaku hanya nenek-ku saja. Dan kau tau kan nenek-ku tinggal dimana? Cheonan..jauh dari Seoul, dan kau tau berapa ongkos untuk sampai kesana? Satu won? Lebih…dan kau juga pasti tau kalau aku tidak punya uang sama sekali, aku tidak mungkin membawa serta kau ke Cheonan, bukan masalah ongkos yang mahal, tapi..kehidupanku disana benar-benar menyedihkan, nenek-ku juga miskin, aku tidak mungkin membenaninya dengan membawa kau, bukan maksudku kau itu beban buatku, tapi..”.
“Aku mengerti..aku mengerti..mianhae..aku..”
“Sudahlah..aku sudah lega kau mau memaafkanku, dan aku sangat lega karena kau mengerti maksudku”.
Siwon bergerak mendekati Yeonra lalu memeluknya, tangannya bergerak mengelus-ngelus kepala Yeonra lembut.
“Oppa..mianhae..”.
“Kau tidak bersalah..sudah…jangan meminta maaf lagi”.
Siwon melepas pelukannya lalu tersenyum menatap Yeonra. “Kau benar-benar beda..kau sudah tumbuh besar”.
“Apa aku cantik?”.
“Ani..kau tidak cantik”.
“Ya! Siwon oppa..kau tau..aku ini diincar banyak namja, berarti aku cantik”.
“A..geureyo ?”. Ujar Siwon menggoda. Siwon melihat sekilas kearah leher Yeonra, lalu dia tersenyum.
“Kenapa kau tersenyum seperti itu? Ada apa?”. Tanya Yeonra sembari menyilangkan tangan didada.
“Kau masih memakainya..itu..yang ada dilehermu”. Tunjuk Siwon tepat ke arah kalung yang dipakai Yeonra.
“Ini..emm..aku..aku..”. Wjah Yeonra memerah lalu tiba-tiba bergerak gusar.
“Sudahlah..aku tau..”. Kata Siwon, seperti dapat membaca pikiran Yeonra.
“Itu..yang kau pegang..itu payung Key ?”.
“Emm..dia menjebak kita..tapi aku senang karena dijebak olehnya..hahaha”.
“Aiissshhh..oppa membuatku malu saja..ayo kita kembalikan payungnya, aku tau dimana dia tinggal,kajja”.
Siwon mengangguk lalu menggenggam lagi tangan Yeonra. Namun kali ini Yeonra tidak menolak untuk digandeng.
Akhirnya part Siwon-Yeonra selesai. Fiuuhhh..tapi mian kalau rada jelek *memang*. Disini gak diceritain banget peran Key dan Hwa Ran-nya , sengaja, karena bakal jadi panjang kalau mereka berdua diceritain juga. Hahahhaha..dan di FF ini gak ada kata saranghae, sudah bosan saya menulisnya *boong banget!*hehehehe ^^. Yasudahlah..semoga terhibur dan jangan lupa berkomen. Gomawo !
^^v annyeong~ ketemu lagi di FF selanjutnya. Bye .. *langsung ditarik Yesung* hahahaha. *gaje*
[1st FF] SUPRISE ?!
Oktober 8, 2010
FanFiction K-pop Super Junior, Yesung 10 Komentar
[1st FF] SURPRISE ?!
Main cast : – Kim Jong Woon / Yesung
22 Agustus 2010, 13:24:55
@Pov Sungmi
Siang ini aku akan menghadiri pernikahannya Teuki oppa dengan Hyun Hyo onnie di sebuah hotel mewah tepat dipusat kota Seoul. Aku sedang berada diperjalanan menuju hotel itu, disebelahku ada Yesung yang sedang menyetir dengan senyuman yang melebar sedari tadi.
“Ya..Yesungie..kenapa dari tadi kau tersenyum terus? Kau sedang konslet?”. Ujarku yang langsung dibalas jitakan oleh Yesung. Aku sedikit meringis dan mengusap-ngusap kepalaku. “Sakit..”.
“Teuki hyung kan akan menikah, makannya aku senyum terus”. Kata Yesung tanpa menoleh kearahku.
“Dia yang menikah kenapa kamu yang konslet?”. PLLEETTaaAAkk..sekarang buku sudah jatuh keatas kepalaku.
“Ya..Yesungie..kau jahat..”. Ucapku sembari pura-pura ingin menangis. Wajah Yesung berubah khawatir.
“Ya..ya..Sungmi..jangan membuat wajah seperti itu, lagian..memangnya aku toilet apa..konslet..konslet..”.
“Itu kloset Kim JongWoon !”. Dukk..aku menepuk pelan dahiku sendiri . Aduh..dia memang benar-benar sedang konslet sepertinya. “Otakmu bergeser bukan?”. Kataku santai. Dia tidak menjawab malah pura-pura serius memandang jalan didepannya. Aku menghela nafas sabar. Inilah salah satu kelakuan aneh Yesung. Suka tiba-tiba serius, pura-pura gak denger orang ngomong. Dan aku sudah terbiasa dengan sifat-nya ini. Malah terkadang aku suka. *author gila..suka orang aneh*
End pov
“Chukae..Teukie oppa..Hyun onnie..semoga pernikahannya abadi sampai tua”. Ujar Sungmi senang.
“Gomawo Sungmi..”. Balas Hyun dengan senyum manisnya.
“Teuki hyung..ckckck..kau memang hebat..pantesan menghilang terus kalau lagi latihan. Ternyata..ckckck”. Ucap Yesung seraya menggeleng. “Tapi..chukae ya Hyung..semoga cepat punya anak”. Kata Yesung.
“Gomawo Yesung…gomawo Sungmi ..kapan kalian akan menyusul?”. Kata Teuki. Wajah Sungmi langsung memerah.
Yesung melirik kearah Sungmi yang ada disebelahnya. “Besok aja yuk Sungmi”. Ujar Yesung. Sungmi hanya melotot dan mengacungkan tangannya yang terkepal kearah Yesung. Teuki dan Hyun tertawa kecil melihat tingkah Sungmi.
“Dia tidak mau hyung..sepertinya menyusulnya nanti-nanti saja. Aku tidak mau lebam-lebam besok”. Kata Yesung.
“Lagian..siapa juga yang nyuruh nyusulnya besok ..aduh..Sungmi-ssi, kekasihmu bertambah aneh”. Ucap Teuki.
“Aku juga sedari tadi bingung, sepertinya otaknya bergeser. Aku harus memeriksanya ke dokter nanti”. Ujar Sungmi . Yesung lagi-lagi pura-pura berwajah serius dan pura-pura tidak mendengar orang bicara.
“Yesung..Sungmi..kami harus keliling dulu sekarang..kami pergi dulu ya..annyeong..”. Ucap Hyun Onnie seraya pergi dan melambaikan tangan. Sungmi balas melambai dan sedikit membungkukan badanya sopan.
“Hah~ mereka serasi sekali”. Ujar Sungmi lalu memeluk tangan Yesung yg lumayan berotot itu.
“Kau ingin menikah juga?”. Tanya Yesung, Sungmi membulatkan matanya .
“Anio..anio..belum waktunya”. Jawab Sungmi. Namun dalam hati kecilnya dia ingin juga merasakan memakai gaun dan berdiri diatas altar bersama Yesung.
“Baiklah..aku akan menunggu, sampai kau siap”. Ujar Yesung seraya mengacak-ngacak rambut Sungmi lembut.
^_^ ^_^
23 Agustus 2010, 11:00:13
@POV Sungmi
Hari ini aku akan pergi ke taman bermain bersama Yesung tentunya. Kami akan menghabiskan hari ini dengan bermain disana. Pasti akan menyenangkan. Sudah lama aku tidak kesana. Aku akan membeli gulali dan menaiki bianglala. Semoga hari ini taman bermainnya tidak ramai.
End pov
Sungmi berdiri diteras rumahnya menunggu kedatangan Yesung untuk menjemputnya. Sungmi terlihat senang ketika mobil hitam yang biasa dilihatnya sudah muncul dan berhenti tepat didepan pagar rumahnya. Sungmi berlari kecil menuju pagar dan masuk kedalam mobil. “Aku telat?”. Tanya Yesung yang hari ini terlihat begitu tampan dengan kemeja kotak-kotak biru merah dan tangan kemejanya digulung sampai sikut. Tidak lupa Yesung memakai kacamata hitam dan topi pemberian Sungmi saat tahun baru kemarin, untuk menyamar agar tidak terlihat oleh fans. *author meleleh liat Yesung yg setampan itu*
“Anio..kau datang tepat waktu. Ayo kita jalan”. Ujar Sungmi semangat. Yesung pun menancap gas dalam-dalam.
——————————————————————————————————————————————————–
“Kau mau naik wahana apa dulu?”. Tanya Yesung ketika mereka baru saja memasuki taman bermain.
“Aku mau naik itu dulu saja, kita pemanasan”. Jawab Sungmi menunjuk kearah roller coster yang dipeuhi dengan
teriakan-teriakan. Yesung menelan air liurnya dan menatap cemas kearah roller coster .
“Kau yakin? Pemanasan itu dimulai dari yang pelan-pelan dulu, bukan yang seperti ini”. Ujar Yesung mencoba mencari alasan. Sungmi menggeleng lalu menarik tangan Yesung menuju pintu masuk roller coster. Dengan pasrah Yesung menuruti permintaan kekasihnya itu dengan lapang dada. *inilah tipikal kekasih baik hati. Hahaha :D*
Tidak perlu menunggu lama, mereka siap untuk meluncur dengan kereta roller coster yang dicat kuning biru itu.
“Yesungie..kau siap?”. CeEsss..kereta akan siap meluncur. Sungmi terlihat senang sedangkan Yesung masih cemas.
——————————————————————————————————————————————————–
“Ah~keren..aku tidak pernah bosan menaiki wahana ini. Aku bisa teriak sepuasnya tanpa ada yang memarahiku”. Ujar Sungmi ketika mereka baru saja selesai menaiki wahana roller coster. “Apa kau takut Yesung?”. Tanya Sungmi menggoda. Yesung menggeleng. “Aku tidak takut. Ayo kita cari wahan lainnya”. Ajak Yesung.
“Aku ingin membeli gulali yang itu”. Tunjuk Sungmi pada toko yang memampang gulali berwarna-warni .
“Ayo..”. Yesung menggenggam tangan Sungmi erat dan mengajaknya ke toko gulali itu.
“Ahjumma, gulali kapasnya satu”. Pinta Yesung pada penjual gulali itu.
“Ne..mau warna apa?”. Tanya ahjumma penjual gulali.
“Aku mau yang putih saja”. Ujar Sungmi. Lalu ahjumma itu mengambil gulali kapas putih dan memberikannya pada Sungmi. Sungmi tersenyum menatap gulali-nya .
“Ini ahjumma. Gamsahamnida”. Ujar Yesung sembari menyerahkan selembar uang pada ahjumma itu.
“Cheonmaneyo..”. Jawab ahjumma itu dengan ramah.
“Yesungie..kenapa hanya membeli satu gulali? Kau tidak mau ?”. Tawar Sungmi.
“Kita makan berdua saja biar romantis”. Kata Yesung lalu tertawa kecil.
“Shiruh..ini hanya untukku”. Ucap Sungmi lalu menjulurkan lidahnya.
“Ya..kau pelit sekali..kan biar romantis. Makannya berdua saja ya ya ya”. Tangan Yesung ingin mengambil gulalinya namun di tepis oleh Sungmi, “Aku tidak mau”. Kata Sungmi lalu menjauhkan gulalinya dari hadapan Yesung.
“Ya..kau ini pelit sekali sih. Aku mau..”. Yesung mulai menjangkau lagi gulalinya dari tangan Sungmi.
“Ih Yesung.. Andwae..”. Mereka mulai berebut gulali yang hanya ada satu. Sungmi tetap menjauhkan gulalinya dari tangan Yesung. Dan Yesung mulai menyerah. “Ya sudah..aku mengalah. Kita naik wahana lainnya saja,palli”.
Gumam Yesung lalu menarik tangan Sungmi. “Ya..ya..ya..Yesungie..aku hanya bercanda..ini aku beri gulalinya”. Ujar Sungmi seraya menjulurkan gulalinya kearah wajah Yesung. “Aku tidak mau..”. Jawab Yesung.
“Ayo makan..makan..aa..aa..”. Sungmi menyuapi gulali yang ada ditangannya kearah Yesung.
“Gak mau..udah ah ayo kita naik bianglala saja”. Kata Yesung seraya menggiring Sungmi untuk masuk ke arah pintu masuk wahana bianglala.
——————————————————————————————————————————————————–
“Hah~ aku jadi teringat pernikahan Teuki oppa kemarin, mereka benar-benar serasi. Aku iri jadinya”. Kata Sungmi. Sekarang mereka sudah ada didalam bianglala. Hanya berdua.
“Kau ingin menikah juga?”. Tanya Yesung.
“Ne..”. Ucap Sungmi spontan. Sungmi tersadar dengan apa yang diucapkannya tadi. Dia lalu menutup mulutmya dengan kedua tangannya dan menggeleng-gelengkan kepala. “Anio..anio..aku hanya bercanda”. Kata Sungmi.
“Kau ingin menikah? Jinca? Kau serius?”. Tanya Yesung dengan ekspresi wajah kaget.
“Anio..aku tadi hanya bercanda..jangan dibuat serius..”. Sangkal Sungmi dengan wajah memerah.
“Kamu mau punya anak berapa nanti?”. Pertanyaan Yesung membuat semburat merah dikedua pipi Sungmi.
“Ya! Yesungie..sudah ku bilang, itu hanya bercanda”. Lagi-lagi Sungmi menyangkal.
“Aku mau punya anak tiga aja deh, dua namja satu yeoja. Setuju?”. Yesung mulai berbicara ngawur.
“Yesung..AKU HANYA BERCANDA..”. Sungmi mengelak untuk yang kesekian kalinya, namun Yesung tidak peduli.
——————————————————————————————————————————————————–
“Aku lapar..kau lapar tidak?”. Tanya Yesung pada Sungmi.
“Ne..aku juga lapar..”. Jawab Sungmi lemas, karena habis berteriak keras saat dibianglala tadi.
“Lemas sekali..kau benar-benar kelaparan ya Sungmi-ssi. Salah sendiri tadi teriak-teriak di bianglala”.
“Ikh~ sudah tidak usah dibahas yang tadi. Mau makan dimana nih?”.
“Hehe..jangan ngambek gitu dong..senyum..”.
“Ya! Yesungie..aku sudah lapar, jangan bercanda”.
“Ne..ne..ne..itu disana ada restoran, kita kesana saja ya”.
“Terserah”.
Mereka akhirnya berjalan menuju restoran makanan seafood yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri tadi. Yesung menggenggam tangan Sungmi erat sampai mereka tiba direstoran seafood itu.
“Annyeong..Myeot bunisijiyo?”.¹.Sapa seorang pelayan ramah.
“Du buni-eyo”.².Jawab Yesung singkat. Pelayan itu pun menggiring Yesung dan Sungmi ke meja yang kosong dipojok ruangan dekat dengan jendela besar yang biasanya jadi tempat ternyaman pengunjung restoran ini.
“Mwol deurilkayo?”.³. Tanya si pelayan seraya mengeluarkan kertas dan pulpen dari saku bajunya.
“Sungmi..kau mau makan apa?”. Tanya Yesung sembari membuka-buka buku menu.
“Aku mau maeun-tang saja, kalau kau?”. Ujar Sungmi lalu menutup buku menunya.
“Emm..jeonbok juk hago maeun-tang han geuret juseyo”.⁴.Kata Yesung lalu menyerahkan buku menunya ke si pelayan itu. “Minumnya?”. Tanya si pelayan lagi.
“Bingsu saja”. Jawab Sungmi dan dibalas anggukkan Yesung.
“Ne..pesanan akan segera diantar”. Kata si pelayan lalu membungkuk sopan.
Yesung dan Sungmi terdiam saat si pelayan tadi pergi. Mereka membisu sesaat, mungkin sudah kehabisan bahan obrolan. Jari-jari mungil Yesung tidak hentinya mengetuk-ngetuk meja. Dan Sungmi bertopang dagu menatap kearah jendela restoran yang tembus pandang kearah sebuah toko pernak-pernik.
“Sungmi-ssi..”.
“Ne..wae?”.
“Besok aku ulang tahun loh..”. *promosi*
“Oh, Geuraeyo ? Kau mau hadiah apa ?”.
“Kau sudah lupa hari ulang tahunku ya..”.
“Anio~ aku ingat..24 Agustus..masa aku lupa sih. Kau mau hadiah apa, cepat katakan”.
“Emm..apa ya? Ah~ besok kita piknik saja, bagaimana?”.
“Piknik? Hanya itu hadiah untukmu? Kau tidak mau yang lain?”.
“Aku mau kau memasakkan bekal piknik kita nanti, harus kau yang memasak. Setuju?”.
“Ne..setuju..itu sih gampang”.
“Aku mau gimbap dan jumukbap, aku ingin makan itu besok”.
“Baiklah..baiklah..aku akan buatkan untukmu besok. Mau jemput aku jam berapa?”.
“Emm..jam 9.15 saja, jangan telat”.
“Ne..ne..arraseo”.
Saat mereka sedang asyik membicarakan rencana piknik besok, si pelayan sudah datang dengan membawa pesanan mereka. “Ini pesanannya..”, Ujar si pelayan lalu meletakkan semua pesanan dimeja.
“Gomawo”. Ujar Sungmi ramah.
“Ne..jal meokkesseumnida”.⁵. Jawab si pelayan itu lalu membungkuk sopan dan pergi.
“Ahhh~ aku sudah lapar..ayo makan..eumm~”. Kata Yesung seraya menjempit makanannya dengan sumpit.
“Pelan-pelan..”. Ujar Sungmi lalu tersenyum melihat tingkah Yesung.
*********************************************************************************************
¹ Halo..berapa orang?
² Dua orang.
³ Mau pesan apa?
⁴ .tolong minta jeonbok juk dan maeun-tang satu porsi.
⁵ Iya..selamat makan.
-maeun-tang : sup ikan panas pedas
-jeonbok juk : bubur abalone
-bingsu : sepihan es dengan sirup
-gimbap : nasi di bungkus ganggang laut
-jumukbap : bola nasi
********************************************************************************************************
24 Agustus 2010, 09:01:00
Tin..tin..tin..
Suara klakson mobil Yesung sudah berbunyi tiga kali didepan rumah Sungmi. Dan saat Yesung akan memencet klaksonnya lagi, pintu depan rumah terbuka dan keluarlah sosok Sungmi dengan memakai t-shirt putih ,celana jeans abu, dan tangan kirinya menggenggam sebuah tas piknik yang didalamnya tentunya makanan pesanan Yesung kemarin. Sungmi melambai kearah Yesung yang sedang duduk didepan kemudi. Lalu Sungmi berlari kecil kearah mobil Yesung. “Annyeong..”. Ujar Sungmi riang. Lalu dia membuka pintu mobil dan masuk.
“Wahh~ kau sudah memasak pesananku kemarin bukan?”. Tanya Yesung seraya melirik tas piknik Sungmi.
“Emm..tentu..ayo kita pergi”. Kata Sungmi sambil melebarkan senyum manisnya. Yesung membalas tersenyum lalu mengacak-ngacak rambut Sungmi seraya menancap gas.
“Kita sudah sampai”. Kata Yesung saat mobilnya sudah berada didepan parkiran Taman Nasional Busan.
“Wahh~ lumayan ramai ya..”. Gumam Sungmi.
“Ayo keluar..”. Ajak Yesung seraya membuka pintu mobilnya.
“A, Yesungie..aku lupa bawa air minum!”. Ujar Sungmi lalu menepuk dahinya.
“Ya sudah, aku beli dulu sebentar di mini market sebrang sana. Kau jangan kemana-mana..Arraseo?”.
“Ne..ppaliwa..”. Kata Sungmi. Saat Yesung bergegas keluar gerbang taman, Sungmi buru-buru meraih ponselnya dan menelpon seseorang. “Oppa..dia sudah pergi..emm..kita mulai”. Bisik Sungmi pada orang di ujung telpon sana.
@pov yesung
Aku berjalan menuju rak-rak tempat air mineral berada, mengambil dua botol air mineral ukuran sedang dan membawanya kekasir untuk dibayar. Saat akan mengeluarkan dompet dari saku celanaku, tibs-tiba saja dompet itu raib entah kemana. Ah~ sepertinya tadi aku menaruhnya di dashboard mobil. Aku mengambil ponselku lalu menelpon Sungmi untuk mengantarkan dompetku.
“Yeoboseyo..Sungmi-ssi, dompetku tertinggal, tolong ambilkan di dashboard mobil”. Kataku lalu mematikan hubungan telpon. “Ahjumma..dompetku tertinggal, aku akan keluar sebentar, belanjaan ini simpan dulu”. Ujarku lalu bergegas keluar mini market untuk menemui Sungmi. Ah~ ada-ada saja, dompet sampai ketinggalan segala.
Aku melihat Sungmi diujung jalan sana, aku melambai memberi isyarat agar dia menyebrang. Sungmi mengangguk lalu berjalan menuju tempatku berdiri.
END POV
Tinn..Tin..Tin..
“SUNGMI .. AWAS!!!”.
“Aaaaaaa……”. BukkkkKKK.. Sungmi tertabrak sebuah mobil yang melintas saat dia akan menyebrang. Yesung yang ada diujung jalan sana menatap kaget kejadian yang terasa cepat itu, lalu dia berlari untuk menyelamatkan Sungmi yang masih tergeletak ditengah jalan. “SUNGMI!”. Yesung terus berteriak memanggil nama Sungmi. Diangkatnya tubuh kekasihnya yang penuh dengan darah yang keluar dari hidung dan mulutnya itu, lalu digendongnya sampai kedalam mobil. Tidak ada yang menolong, karena jalanan sepi, hampir tidak ada orang. Mobil yang menabrak Sungmi sudah lolos melarikan diri. Yesung menjalankan mobilnya dengan cepat. Sungmi harus segera dibawa kerumah sakit. “Sungmi..bertahanlah jagi..jebal”. Ujar Yesung sembari mengemudi .
Saat sesampainya di rumah sakit..
“Sungmi-ah..bangunlah..kumohon bangun..”. Ujar Yesung dengan suara yang parau . Tidak ada jawaban sama sekali dari Sungmi, hanya sebuah mesin pendeteksi detak jantung yang menemani Yesung sekarang.
“Sungmi-ah, bangun..bangun..”. Yesung terus berkata seperti itu ratusan kali. Namun Sungmi tetap tertidur diatas ranjanng rumah sakit tanpa bergerak sedikitpun. Yesung lalu menggenggam tangan Sungmi lembut dan mengusap punggung tangan Sungmi perlahan. “Hari ini aku ulang tahun Sungmi-ah, kau bahkan belum mengucapkan selamat ulang tahun untukku, dan aku juga belum mencicipi makanan yang kau buat untukku. Jadi..masih banyak yang harus kita lakukan bersama-sama, bangunlah Sungmi-ah..bangun..”. Ujar Yesung. Air mata Yesung perlahan turun setitik demi setitk. Isakan mulai terdengar dari bibir Yesung. “Sungmi-ah , BANGUN..BANGUN..”. Teriak Yesung.
Tok..tok..tok..
“Masuk..”. Ucap Yesung lemah.
“A, Yesung…bagaimana keadaan Sungmi? Apa yang sebenarnya terjadi?”. Ujar kakak Sungmi panik.
“Sungmin..mianhae..aku tidak bisa menjaga Sungmi dengan baik..mianhae..”. Gumam Yesung lalu membungkuk beberapa kali dihadapan Sungmin. Sungmin tidak mempedulikan Yesung, dia lalu menatap adik semata wayangnya yang tidur terdiam dengan beberapa selang ditubuhnya. “Sungmi..dongsaeng..kau baik-baik saja? Bangunlah..”. Kata Sungmin lalu menangis menatap adiknya itu.“Aku keluar dulu, mau menemui dokter”. Ujar Sungmin lalu pergi.
Yesung hanya menunduk merasa bersalah, setelah Sungmin benar-benar sudah pergi, Yesung ,menghampiri Sungmi lagi. Dan duduk disebelahnya. “Jagi..kau bisa mendengarku?”. Gumam Yesung seraya tersenyum.
“Sungmi…bangun..lihatlah ini..”. Yesung merogoh saku celananya dan mengeluarkan kotak kecil yang berisikan cincin dua pasang. “..lihat..kau ingin menikah bukan? Bersamaku?..”.Yesung menyapu air matanya yang menetes.
”..hari ini aku mau melamarmu, hari ini..saat aku ulang tahun..kau senang? Aku sampai gugup, semalaman tidak bisa tidur karena ingin melamarmu. Aku takut kau malah menolak. Tapi aku yakin kau pasti mau menerima lamaranku kan? Bangunlah Sungmi..jangan diam saja..bangun..”. Gumam Yesung.
“..sini..aku akan pakaikan cincinnya..”. Ujar Yesung, lalu memasukkan cincin ke jari manis Sungmi. Tapi..tetap saja Sungmi tidak merespon apa-apa. “..tanganmu jadi indah..kau pantas memakai ini, sungguh..”. Kata Yesung lalu mencium punggung tangan Sungmi lembut. Tepat saat itu..mesin pendeteksi detak jantung berubah bentuk yang sebelumnya zig-zag menjadi garis lurus seperti tidak ada ujung. Yesung melihat kearah mesin itu dan membulatkan matanya. Tangisan mulai pecah. Yesung memeluk Sungmi dan terus berteriak memanggil nama Sungmi.
“Sungmi-ah…bangun..jangan tinggalkan aku..SUNGMI…!!”.
“Saengil chukaehamnida..saengil chukaehamnida…”.
Yesung berhenti berteriak dan melepaskan pelukannya dengan Sungmi.
“Kau sudah sadar? Kau..”. Yesung mengkerutkan kening bingung.
“Hahahhaa…surprise!!!”. Ujar Sungmi lalu tertawa terpingkal.
“Oh..kau..pura-pura..jadi? tadi.. itu semua…bohongan?”.
“Ne..mianhae Yesungie..aku mengerjaimu..saengil chukae jagiya..”. Sungmi merentangkan tangannya hendak memeluk Yesung, namun tangan Sungmi di tepis Yesung keras.
“Ini gak lucu Sungmi..sama sekali gak lucu..kau..kau tau tidak aku benar-benar khawatir tadi..aku benar-benar khawatir! Aku benar-benar shock, aku hampir gila”. Sentak Yesung pada Sungmi.
“Yesung..mianhae~ aku hanya ingin memberi surprise..maafkan aku..”.
“Ide siapa ini hah? Aku sama sekali gak abis pikir, keterlaluan tau gak..”.
“Yesung..aku..aku..”.
“Stop..gak usah ngomong lagi”. Yesung lalu bergegas pergi dari ruangan. Wajahnya benar-benar kecewa.
“Yesungie~ mianhae..mianhae..”. Sungmi menangis menyesal.
“Sungmi! Yesung kok..?”. Sungmin tiba-tiba masuk . “Loh..kenapa nangis?”. Tanya Sungmin bingung.
“Dia marah oppa..dia marah..ottokhe?”.
“Hah? Marah?”.
“Ne..dia marah..aku sudah keterlaluan..aku benar-benar membuatnya begitu khawatir”.
“Sungmi..sudah sudah..jangan menangis..sekarang, kejar saja dia, ajak bicara”.
“Aku takut..”.
“Tenanglah..mungkin dia masih shock..temui dia, bicaralah dengannya”.
“Ne..baiklah..”.
Sungmi lalu mengejar Yesung yang entah lari kemana. Sungmi menelusuri setiap lorong rumah sakit. Nihil..sama sekali tidak ketemu. Sungmi mulai pasrah. “Yesung..kau dimana?”. Bisik Sungmi.
Saat Sungmi melewati taman rumah sakit, dia menemukan Yesung yang sedang duduk sendiri dibangku taman. Sungmi menghampirinya dengan rasa takut yang masih menjalar ditubuhnya.
“Yesungie~”.
“…”.
Sungmi ikut duduk disebelah Yesung. “Yesungie~ mianhae..aku tidak tau kalau akhirnya akan seperti ini, mianhae”.
“Kau kira ini bagus untuk dijadikan lelucon ha? Aku hampir jantungan melihatmu tertabrak tadi..”.
“Ne..ne..mianhae..aku menyesal..aku hanya ingin membuat surprise untukmu”.
“Tapi gak gini caranya..”.
“Ne..aku menyesal..maafkan aku, sudah ya jangan marah lagi”. Yesung menggeleng.
“Yesungie..aku minta maaf..maafkan aku..ku mohon jangan marah lagi”.
“…”.
“Yesung..jangan diam terus..jawab..jawab..maafkan aku”.
“…”.
“Yesung..mianhae..mianhae..aku benar-benar menyesal”.
“…”.
Yesung sama sekali tidak berbicara sedikit pun. Sungmi mulai menangis. Dia menunduk merasa lelah meminta maaf pada Yesung. Karena tidak direspon sama sekali, Sungmi menangis keras. Cara ampuh menaklukan Yesung.
“Hahahahaha..satu sama..kau kira aku tidak bisa berakting ha?”. Ujar Yesung seraya tertawa keras.
“Ya! Kau pura-pura ? Ikh~ Yesungie..kau jahat”. Kata Sungmi lalu memukul – mukul tubuh Yesung.
“Hey..hey..kau lebih jahat, aktingmu benar-benar total. Ide siapa itu?”.
“Ide-ku..dibantu Sungmin oppa”.
“Ya..jadi kau sekongkol dengan kakakmu itu? Jangan-jangan yang menabrak kamu barusan Sungmin lagi?!”.
“Iya, tadi Sungmin oppa yang menabrakku, aku hebat kan”.
“Darah-darahnya pura-pura juga?”.
“Iya..Sungmin oppa ngasih aku darah-darahan itu, dia dapet dari tempat syutingnya”.
“Ck~ kalian bener-bener ya..aku khawatir tau gak. Pabo…”.
“Salah sendiri, mudah dibohongi”.
“Kau juga mudah dibohongi..buktinya tadi..”.
“Ya! Lupakan..sudah lupakan saja semuanya”.
“Hahahaha..tukang tipu kena tipu”.
Yesung tertawa keras dan Sungmi hanya memajukan bibirnya dongkol. Sungmi lalu teringat akan cincin yang dia kenakan. “Ini..maksudnya apa ?”. Tanya Sungmi mengangkat jari manisnya. Yesung berhenti tertawa.
“Itu..itu..aku gak tau, kamu nanya apaan sih, aku gak ngerti”. Yesung pura-pura mengalihkan pembicaraan.
“Ya ! Yesungie..maksudmu tadi mau melamarku, apa itu? Ayo bicara sekarang”.
“A-aku..”. Yesung tiba-tiba kehilangan kata-kata karena gugup.
“Gugup ya, haha, semaleman gak tidur?”. Goda Sungmi.
“Hey..Sungmi-ah tidak usah menggodaku”
“Lalu ?”.
“Apanya yang lalu?”.
“Katanya mau melamar aku, ayo sekarang..aku mau dengar”.
“Anio..gak jadi”.
“Kok gitu sih..cih~ baiklah, aku pergi!”.
“Eh..eh..mau kemana?”.
“Pulang!”.
“Ne..ne..ne..aku akan melamarmu”.
Yesung menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Yesung gugup.
“Ehem..Pyohngsaeng gyuhte isseulge..i do..nuhl saranghaneun guhl..i do..nungwa biga wado akkyuhjumyuhnsuh..i do..nuhreul jikyuhjulge..i do..Nawa gyuhrhonhaejullae..i do..Sungmi-ah..menikahlah denganku. Do you want?”.
“Yesung~”. Sungmi tercengang melihat perlakuan Yesung padanya. Suaranya..benar-benar membuat jantung Sungmi terhenti. Yesung tersenyum melihat ekspresi wajah Sungmi. *author benar-benar kekelepekkan*
“Jadi?”.
“Heu~ kau sudah memakaikan cincinnya dijariku, terpaksa, aku menerimanya”.
“Ya! Kalau cincinnya tadi tidak aku pakaikan, memang kau tidak mau menerimaku?”.
“Aku pikir-pikir..mungkin tidak”.
“Ya! Sungmi-ah..lihat pembalasanku”.
Ya..selesai..hahaha…ini FF special buat Yesung oppa yang pas tanggal 24 Agustus kemaren ulang tahun.
Senangnya..Yesung ulang tahun. *reader : kan yang ultah si Yesung nape elu yg girang? *
Jangan pernah bosen comment ya. *yang ada bosen bacanya, bukan commentnya, PLAAAKKK*
^^v annyeong~ ketemu lagi di FF selanjutnya.



